Suasana gelap dan berkabut memberikan kesan mengerikan saat pertama kali masuk ke dalam hutan ini. Padahal di matahari sekarang sedang tinggi-tingginya namun cahaya yang masuk kedalam hutan sangatlah minim sampai bisa ku bilang sekarang aku ada di waktu yang berbeda dengan saat aku di luar sana. Aku terus mengikuti arah dari energi mana yang mengganggu ku begitu sampai ke hutan ini. Dengan terus mengaktifkan sihir tanah yang menyebabkan aku bisa mendeteksi wilayah sejauh tiga puluh meter dengan aku sebagai pusatnya. Sihir ini aku ciptakan dulu saat berburu di hutan, aku menggunakan prinsip mirip sistem sonar yang dapat di lakukan oleh kelelawar. Bentuk, ukuran sedang diam atau bergerak objek yang aku deteksi, aku bisa mengetahui semua itu. Tak berselang lama, aku mendeteksi suatu makhluk hidup yang bersandar di pohon. Aku mengendap-endap secara perlahan dan menghentikan sihir ku karena ada beberapa dari binatang magis yang sangat peka terhadap sihir yang di keluarkan manusia. Bukan binatang buas yang aku temukan saat melihat makhluk itu dari jarak beberapa meter namun Monster ogre api yang sedang tertidur dengan bersandar pada pohon. Perbedaan antara Monster dan binatang magis yaitu, binatang magis memiliki bagian memiliki beberapa bagian tubuh yang bisa berguna untuk senjata atau peralatan lain juga dagingnya ada yang bisa di konsumsi, sedangkan Monster hanya ada beberapa jenis yang bagian tubuhnya bisa di jadikan senjata dan Monster tak dapat di konsumsi. Dan perbedaan yang signifikan lainnya adalah binatang buas tidak memiliki inti mana sedangkan Monster memiliki inti mana yang memiliki afinitas terhadap salah satu elemen sihir. Monster ini merupakan Monster tingkat B yang kuat, dibutuhkan grup lengkap petualang tingkat B yang memiliki penyerang jarak jauh dan dekat, di sebut sebagai ogre api karena inti mana dari ogre ini memiliki afinitas terhadap elemen api sehingga bisa memperkuat sihir api dari seseorang.
Aku bersiap menembakkan peluru sihir ku namun kali ini aku menggunakan api hitam sebagai elemen nya. Aku ingin langsung membakar habis ogre itu dengan sekali serang dan mengambil inti mana dari ogre itu. Aku membidik dan memfokuskan jalur sihir ku agar tak terkena sedikit pun pada pohon-pohon yang ada di sekitar, aku membidik kearah tenggorokan dari ogre api itu agar dia tak bisa berteriak atau pun mengeluarkan bunyi dari pita suaranya.
“Ayo kita lihat seberapa kuat api ini,” ucap ku sambil melepaskan sihir ku.
Dengan kecepatan yang hampir tak bisa di ikuti oleh mata sihir ku melesat menuju ogre yang tidur itu tepat di bagian yang ku bidik. Ogre itu tersentak dari tidurnya dan menggeliat ke tanah dengan memegangi lehernya yang sekarang terbakar oleh api hitam, namun bukannya padam api hitam ku justru ikut membakar tangannya yang tadi memegangi lehernya. Tak butuh waktu lama sekujur tubuh ogre itu pun terbakar oleh api hitam yang menyelimuti tubuhnya dan membuat ogre api ini terbakar menjadi abu.
“Ini terlalu kuat, mungkin aku bisa menggunakan api ini jika tak ada pedang,” pikir ku sambil memadamkan api itu.
Api hitam ini hanya bisa di padamkan oleh kehendak ku saja, entah itu dari ucapan ku, isyarat atau pun jika dengan kedipan mata sekalipun.
“Padam lah!” ucap ku.
Di setumpuk abu yang membentuk tubuh ogre api tadi ada sebuah batu yang bercahaya merah dengan pola retak di setiap bagiannya yang mengingatkan aku pada lava yang mengalir di celah retakan gunung berapi. Aku mengambil inti mana itu dan membersihkan abu dari ogre api yang sudah ku bakar tadi dengan meniup abu itu menggunakan sihir angin. Dan melanjutkan perjalanan menuju gereja tua yang Systine beri tahu pada ku.
“ lSepertinya hutan ini sesuai dengan rumornya,” ucap ku sambil memperhatikan Rusa darah yang sedang berkerumun dan memakan mangsanya.
Berbeda dengan rusa yang aku ketahui saat masih di bumi, Rusa darah adalah predator karnivora yang hidup berkelompok dengan satu pemimpin yang bisa di ketahui dari ukuran tanduknya. Rusa darah berukuran hampir tiga meter tingginya dan memiliki badan penuh otot, jika hanya satu atau dua ekor Rusa darah maka aku tak akan kesulitan membunuhnya namun Rusa darah hidup berkelompok dengan jumlah 30 - 40 ekor per kelompok. Sebenarnya api hitam atau sihir lain yang memiliki jangkauan serangan yang luas akan sangat membantu untuk mengalahkan mereka dengan sekaligus namun rencana itu terlalu menarik perhatian jadi aku mengurung kan niat ku untuk mengalahkan mereka, karena memang bukan Rusa darah ini yang menjadi tujuan ku untuk masuk ke hutan Grool ini.
Aku memutuskan bergerak melalui pohon ke pohon agar tak di serang oleh binatang magis yang ada di bawah dan juga mempermudah ku menuju ke gereja tempat para penyembah dewa Camazot. Aku memfokuskan energi mana kepada ke dua kaki ku dan melompat dari atas tanah menuju dahan pohon yang cukup besar dan kuat untuk menopang berat tubuh ku. Bergerak melompat dari satu pohon ke pohon yang lain dengan memanfaatkan energi mana yang aku alirkan di kedua kaki ku hingga dapat membuat kekuatan fisik dari kaki akan meningkat drastis, ada dari beberapa binatang magis yang sadar akan pergerakan ku di atas pohon namun ada juga yang tidak menyadarinya. Setelah merasa tak ada binatang magis atau pun monster di sekitar ku, dengan perlahan dan tanpa membuat suara yang berlebih aku turun dari atas pohon.
“Apakah itu tempatnya?” ucap ku sambil menatap bangunan yang cukup besar dan tua dengan beberapa tanaman merambat yang menempel di dinding bangunan itu.
Dengan sihir pendeteksi ku, aku menemukan ada beberapa orang yang berjaga di luar bangunan sedangkan yang ruangan-ruangan yang ada di bangunan itu kosong tanpa ada yang berjaga atau pun yang menempati, di koridor ada dua orang yang berjaga di sebuah pintu. Orang-orang yang menjaga bangunan ini mengenakan pakaian yang sama seperti saat aku pertama kali tiba di desa Molin yaitu memakai jubah dan tudung kepala berwarna merah. Dengan banyaknya penjagaan seperti ini, aku memutuskan untuk masuk dari atap bangunan. Aku mendekat ke arah dinding bangunan saat para penjaga melakukan rotasi penjagaan nya, dengan cara merayap di dinding menuju ke atap bangunan. Tubuh ku telah ku aliri dengan energi mana yang ku fokus kan di tangan dan kaki ku agar bisa mencengkeram dinding dengan kuat dan bisa merayap di dinding. Setelah sampai di atas bangunan, aku membuka genteng-genteng agar bisa masuk dari lubang yang ku buat dari atas. Aku masuk dengan hati-hati dan menutup kembali genteng-genteng tadi, sambil berjalan mengendap ke arah koridor yang hanya di jaga oleh dua orang penjaga. Aku teringat sebuah kejadian saat aku menggunakan serbuk dari tumbuhan Datura. Tumbuhan ini berwarna merah dari akar batang sampai daun nya berwarna namun bunga dari tumbuhan ini berwarna ungu keputihan, di dalam bunga ini terdapat serbuk yang memiliki efek seperti obat bius yang cukup kuat. Aku mengetahui tentang tumbuhan Datura ini dari buku dan kebetulan di desa ku dulu tumbuhan ini cukup mudah untuk di temukan. Serbuk dari bunga ini akan mengeluarkan efeknya apabila di bakar. Aku pernah mencobanya terhadap paman Hoobs dulu sewaktu masih belajar dengannya dengan membakar bunga Datura secara diam-diam dan menutup hidung dengan kain yang telah aku persiapkan sebelumnya, tak lama setelah itu paman Hoobs tertidur dengan posisi duduk dan pisau yang dia lap masih di tangannya. Aku bergegas pulang setelah itu dan datang di hari esoknya tanpa merasa bersalah karena paman Hoobs juga tak mengingat apa-apa setelah bangun dari tidurnya. Karena keefektifan nya aku mengambil beberapa bunga Datura dan kemudian mengeringkannya agar bisa di pakai kapan saja ketika aku mau menggunakannya.
“Untungnya aku mengambil bunga ini dulu,” ucap ku sambil mengeluarkan bunga Datura dari tas kecil yang biasa aku gunakan untuk menaruh herbal dan tanaman yang memiliki efek unik.
Aku menutup hidung dan mulut ku menggunakan kain dan kemudian membakar serbuk dari bunga Datura, Asap yang tak begitu tebal dan tak memiliki aroma adalah salah satu poin unggul dari bunga ini sehingga sangat cocok untuk kondisi seperti sekarang. Kedua penjaga yang sedari tadi berdiri di depan pintu mulai kehilangan kesadaran dan perlahan jatuh tersungkur meninggalkan tombak mereka yang masih berdiri menyandar pada dinding di samping nya. Aku dengan hati-hati berjalan ke arah pintu itu dan masuk kedalamnya. Pintu itu adalah sebuah pintu dari lorong yang berisikan tangga menuju ruangan bawah tanah. Ruangan bawah tanah ini sangatlah luas dan besar melebihi bangunan yang ada di atasnya. Ada begitu banyak orang yang berpakaian sama seperti penjaga di luar namun ada juga beberapa yang berpakaian sama tapi warnanya berbeda dari kebanyakan orang yang ada di ruangan ini. Di sini juga ada sebuah jalan rahasia yang langsung menuju ke arah desa molin. Dari penglihatan ku, mungkin ada seribu lebih orang yang ada di sini sekarang.
“Astaga... apa yang mereka rencanakan di sini?” ucap ku sambil menyembunyikan diri dari orang-orang yang ada di sini.
Aku melihat ada salah satu dari mereka yang menggunakan jubah berwarna hitam dengan tudung kepala yang juga berwarna hitam dan corak melingkar berwarna kuning di atasnya, berjalan melalui orang-orang yang berbaris rapi menuju ke arah altar dengan beberapa obor yang menyala sebagai penerangan nya dan sebuah tirai berwarna merah yang ukurannya sangat besar menutupi sesuatu yang ukurannya juga tak kalah besar. Dan ketika orang yang berjubah hitam itu sampai ke altar, kemudian dia berteriak dengan kencang sambil menjunjung tinggi tangannya.
“DEWA KITA AKAN LAHIR KEMBALI TAK LAMA LAGI!”
Teriakan dari orang itu disambut dengan suara-suara teriakan menyerukan nama Camazot dari orang-orang yang berbaris rapi di bawah altar itu. Suara riuh memenuhi ruangan itu selama beberapa saat dan mereka berhenti saat orang yang berjubah hitam mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka. Aku berasumsi bahwa orang yang berjubah hitam adalah pemimpin dari organisasi ini dilihat dari betapa patuh nya mereka terhadapnya. Orang itu mulai mendekati tirai merah itu dan menariknya. Betapa terkejutnya aku ketika melihat patung raksasa yang berbentuk perpaduan dari manusia dan kelelawar dengan hiasan batu mulia dan emas yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya. Suara ricuh dari orang-orang yang ada di sini mulai terdengar kembali begitu patung itu terlihat.
“Haha mungkinkah itu sosok Camazot,” ucap ku.