Berakhir Sudah

1459 Kata

Suasana ruang pertemuan di lantai tertinggi gedung milik keluarga Roni itu terasa sangat tegang. Jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan Jakarta sore hari—jalan-jalan padat, lampu-lampu mulai menyala—tapi di dalam ruangan, seolah dunia berhenti berputar. Di ujung meja panjang dari marmer hitam, Roni duduk dengan wajah merah padam, dagu mengeras, dan tangan mengepal di atas meja. Renita duduk di sampingnya, tubuhnya tegak tapi matanya berusaha menyembunyikan kecemasan. Di seberang mereka ada Arfa—duduk diam, menahan napas, mencoba menjaga ketenangan. Sementara Luna berdiri di sisi kanan ayahnya, memeluk dirinya sendiri. Wajahnya pucat, namun matanya terisi amarah dan gengsi yang campur aduk. Sebuah keheningan tajam menyelimuti ruangan itu, hingga akhirnya… BRAKK! Roni menghentakk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN