“Bye sampai bertemu nanti sore. Di cafe?” Katanya sebelum aku melangkah pergi. “Uh-huh” Aku mengganggu lalu menutup pintu mahogani hitam itu di belakangku. “Anna! For God’s sake!” Janice melemparkan tangannya ke udara begitu dia melihatku. Suaranya melengking tinggi, rasanya gendang telingaku hampir berdarah “Apa yang kamu lakukan di sana? Kamu tahu tempat ini tidak boleh kosong.” Lanjutnya. “Relax Jan… Saya hanya mengantar kopi.” Aku melicinkan pakaianku, mengambil sebuah dompet louis vuitton classic dari dalam laci mejaku. “Kalau kamu tidak keberatan, saya akan turun untuk makan.” Aku melemparkan sebuah senyum kosong sebelum kemudian melenggang menuju elevator, meninggalkan Janice yang berdiri di sana dengan rahangnya yang jatuh ke lantai. Menekan tombol elevator berdiri ‘Aku har

