‘Apa sih yang dia lakukan di sini?’ Aku menelan air liurku perlahan, membasahi tenggorokanku yang kering. Udara di sekelilingku terasa lebih berat dan kering dari biasanya, begitu perempuan itu berjalan menyusuri lorong dengan sepatu red bottom-nya. Tanpa sadar, aku memutar-mutar cincin di jari manisku. Aku mulai berpikir kalau mungkin Tuhan memiliki selera humor yang sakit, atau memiliki kebutuhan kompulsif untuk membuktikan kalau aku salah. Baru saja aku berpikir ini akan menjadi hari yang baik, dan Tuhan membuktikan kalau aku salah. Aku menarik satu ujung bibirku, membuang nafas pendek sebelum kemudian bangkit berdiri, dan menumpuk tanganku di perutku. Menutupi luka bakar dan cincinku. Aku tidak butuh luka lainnya. “Ada yang bisa saya bantu, buk.” aku memaksakan sebuah senyum di waj

