BAB 10

672 Kata
BAB 10 “Arumi, aku mau bantuin kamu buat kue, aku mau belajar siapa tahu nanti aku bisa masukan juga ke warung, sudah lelah jadi preman pasar.” “Iya Kita bekerja buat kue saja nanti hasilnya di bagi dua, kakak juga kan yang keliling masukan ke warung. Kakak juga yang belanja ke pasar. Aku jadi full mengawasi anaku Rasya.” Walaupun hasilnya hanya untuk makan Arumi senang bisa bersama Rasya 24 jam. “Rena, aku nanti siang kalau sudah beres di sini mau ke café, titip anak sebentar yaa.” “Oke jam makan aku pulang sekalian aku bawa nasi bungkus buatmu.” Siangnya Arumi ke Café untuk menawarkan jajanan untuk konsinyasi dengan café. Teman-teman menyambutnya nya dengan antusias. “Arumi… aku kangen sekali.” Olin menyambut, karena jam makan siang sudah lewat café tidak terlalu rame. “Aku ada perlu sama pak Zaky.” Arumi menyambut pelukan temannya. “Kamu mau kerja lagi ?” Olin senang kalau ada teman masaknya nya nambah jadi tidak terlalu cape. “Nggak, mau nitip kue-kue siapa tahu bisa.” Olin mengantar Arumi ke ruangan pak Zaky Tok.. tok.. tok.. “Ya masuk.” Arumi pun masuk, “ Selamat siang Pak.” “Ya ada apa Arumi ?” Zaky bertanya sambil menunjuk tempat duduk, Arumi pun duduk. “Pak saya mau konsinyasi kue-kue bagaimana bisa ?” “Saya tidak bisa memutuskan itu Arumi, nanti saya obrolkan dengan owner café ini kalau setuju nanti aku kabari ya. Kebetulan saat ini saya sedang menunggu dia, dia sedang di jalan menuju ke sini.” “Kalau begitu saya pamit ya Pak.” Arumi pun keluar dari ruangan, sekalian pamit juga pada teman-temannya. Selama delapan bulan kebetulan tidak pernah ketemu dengan pemilik café, selalu lagi kebagian libur ketika pemiliknya datang. Arumi sedang menunggu angkot beberapa meter dari parkiran Cafe, tiba-tiba tasnya di jambret seseorang, Arumi sampai tersungkur. “Jambret… jambret… “ Arumi teriak, tetapi tidak bisa berdiri lututnya sakit terbentur trotoar barusan ketika tersungkur. Pada saat bersamaan ada mobil masuk, yang ternyata pemilik café, langsung mendekati Aisya langsung memapah duduk di café. “Kenapa Dek ?” “Tas saya di Jambret Pak. Aduh gimana ini uang dan gawaiku ada di tas.” Arumi terisak. “Ayo ke klinik dulu, dekat sini ada klinik. Saya antar. Panggil aku Ardan.” Langsung memapah Arumi masuk mobil lalu ke klinik. “Maaf Pak merepotkan.” Arumi tidak enak. “Nggak apa-apa, masa ada yang kesusahan tidak di tolong.” Ardan begitu simpatik. Sampai di klinik Arumi diperiksa dan diobati dokter. “Terima kasih pak Ardan.” Arumi membungkukan badannya lalu berbalik badan sambil tertatih “Arumi, aku antar saja sekalian, kalau bantu jangan tanggung bukan.” “Saya sudah merepotkan Bapak.” “Ayo naik, sudah jangan difikirkan.” Ardan membuka pintu dan memapah Arumi masuk ke mobil. “Rumahnya dimana ?” “Tidak jauh dari sini, hanya satu setengah kilometer. Lurus saja nanti di traffic light belok kanan tidak jauh dari situ ada gang kecil masuk situ." “Ok” Ardan menggernyit, lihat tampangnya tidak ada kelihatan orang susah tapi kok rumahnya masuk gang sempit. “Kelihatannya kamu bukan asli orang sini ?” “Emang bukan, saya dari pinggiran Bandung.” “Berhenti Pak, sudah dekat.” Ardan memberhentikan mobilnya persis depan gang. “Terima kasih Pak.” “Perlu saya antar ke dalam ?” Ardan kasihan pasti lututnya sakit. “Dekat kok Pak.” Arumi pun turun. Ardan berlalu dari hadapannya. “Ya Allah bagaimana ini KTP dan ATM yang sangat diperlukan diambil pencuri.” Arumi berjalan pelan sambil memikirkan tasnya yang dijambret. “Arumi kenapa kamu.” Rena kaget liat kaki celana di lutut Arumi robek. “Tasku dijambret Kak, uang untuk nambah modal di ATM, KTP pun ikut hilang.” “Sudah KTP nanti diurus, Uang juga nggak akan hilang mana tahu mereka PIN ATM.” “Tapi kita butuh modal.” “Nih kalung Kakak saja jual buat modal” Rena melepas kalung, Arumi malah menangis. ***TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN