BAB 9

678 Kata
BAB 9 Rena sangat excited menghadapi kelahiran anak Arumi. “Kak Rena, aku kerja paling sampai akan melahirkan ke sananya aku mau buat kue saja nggak mungkin bisa bayar untuk membayar orang menjaganya, dan aku sendiri tidak ingin meninggalkan anak. “Iya Rum, dari sekarang kita fikirkan mau buat apa, nanti jajanannya kita titipkan di pasar di toko kue.” Tak terasa adzan Maghrib pun berkumandang, Arumi masuk ke toilet untuk berwudhu. Waktu merangkak dengan cepat. Hari kelahiran pun sudah dekat, Arumi mengundurkan diri dari café, karena ingin konsentrasi mengasuh anak. “Arumi, kamu beneran akan keluar, nanti kalau kamu keluar terlanjur mencari pegawai yang baru, kamu mau masuk kerja lagi aku sudah nyari penggantimu, kamu butuh kerjaan ?” Zaky menyayangkan keputusan Arumi untuk keluar kerja. “Kalau saya kerja takut nggak sanggup bayar pengasuh Pak dan anak pun terawasi.” Arumi sudah bertekad. “Ya sudah kalau kamu yakin, semoga usahamu sukses nanti.” Zaky mengajak salaman. Arumi pun pamit pada semua karyawan di café tempatnya bekerja. “Sekali-kali main ke sini Arumi bawa anakmu yaa.” Olin memeluk Aisya. “Tentu saja Lin, aku akan main ke sini.” Tak terasa Arumi pun seminggu lagi melahirkan. semuanya sudah disiapkan. Rena rempong sekali memilihkan yang akan dibeli walaupun segalanya yang sederhana, tetapi cukup komplit. Arumi ingin sekali menanyakan pada ibunya setiap bulan ada uang yang masuk cukup unuk hidup tanpa bekerja, tapi Arumi tidak berani memakainya, hanya cukup tenang sj, ada uang pegangan kalau suatu saat butuh uang tidak perlu pinjam kesana kemari. Sudah ada di atm, walau suatu saat terpakai Arumi akan menggantinya, takut uang yang nyasar, terlanjur dipakai disuruh mengembalikan. Malah jadi rumit nantinya. Rena setiap saat nelpon Arumi menanyakan kondisi kandungannya sampai Arumi senyum-senyum sendiri lihat kelakuan Rena yang mengkhawatirkan dirinya. “Ka Rena kalau aku terasa mulas, pasti aku ngabarin kakak. Kerja yang tenang saja yaa, nyari uang yang banyak buat ponakan kakak.” “Hahaha… tentu saja Rum.” Tengah hari Arumi merasakan mulai mules, dia langsung telpon Rena sambil meringis, “Kak tolong pulang cepat aku mulai berasa mules melilit.” Rena pun bawa mobil bak terbuka buat ngangkut Arumi, pinjam pada temannya pedagang sayur di pasar. Ketika sampai di rumah, Rena langsung membawa Arumi ke bidan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Beberapa jam kemudian melahirkan anak laki-laki yang sangat menggemaskan. “Arumi anakmu ganteng sekali sepertimu,” “Makasih, kakak begitu baik.” “Sudah aku bosen dengernya kamu selalu bilang makasih.” Rena cemberut. Semua teman-teman di café menengok begitupun Zaky. Mereka tidak melupakan Arumi, walaupun di perantauan Arumi merasa tidak sendirian. Dua hari pasca melahirkan Arumi pulang ke rumah, dan mulai merencanakan untuk mengerjakan sesuatu untuk hidup. Arumi berencana membuat jajan pasar yang ringan dulu, Rena subuh-subuh yang belanja ke pasar. Karena lulusan F and B, jajanan pasar yang di buat Aisya lebih berkelas daripada orang secara umum. Jajanan buatan Arumi dengan mudah diterima di warung-warung. Buatannya cepat habis karena diminati pembeli, tidak jauh dari situ ada juga tetangganya yang membuat jajanan menjadi kurang laku. “Arumi, kamu jangan merebut pasar aku dong, jajananku jadi nggak laku gara-gara kamu buat jajanan juga.” Yayah tetangga Arumi ngomel-ngomel. Kalau mau masukan ke warung, masukan yang jauh dari sini saja jangan warung-warung tempatku menitipkan dagangan. Arumi sudah senang dagangannya laku, malah gangguan dari pedagang lainnya. “Iya Bu, nanti saya nggak masukan ke warung sekitar.” “Nah gitu jadi pendatang itu harus ngerti dan tahu diri.” Malamnya ngobrol dengan Rena untuk tidak masukan ke warung tetangga. “Kurang ajar emang yayah itu orang nya julid, kalau ada yang laku selalu saja diganggu. nanti aku labrak tuman orang kayak gitu.” “Nggak usah Kak, biarin kita kan masih bisa masukan di pasar tempat kakak kerja.” “Kamu kalau terlalu ngalah diinjak orang Arumi.” “Nggak apa-apa pasti ada rejekinya di tempat lain. Aku pun mau mendatangi café tempatku dulu kerja siapa tahu bisa memsaukan kue-kueku.” “Betul Arumi daripada harus bersaing dengan orang julid gitu.” Rena belajar sabar pada Aisya. ***TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN