009 Pemakaman Wati

1017 Kata
9 Hingga detik ini aku masih menyalahkan diriku sendiri atas luka yang aku dapatkan dari orang lain. _____ Suasana kediaman Wati sudah tampak ramai dengan beberapa tetangga dan kerabat keluarga Wati. Riko sengaja menghentikan mobilnya tak jauh dari kediaman Wati karena panjangnya rentetan mobil yang terparkir di tepi jalanan. Karangan bunga juga sudah tampak memenuhi jalanan dimana rumah Wati berada. Tak heran, ayah Wati seorang tentara begitupula dengan kedua kakak laki-laki Wati. Alesha tak bisa menyembunyikan rasa kehilangannya. Iya menangis sesenggukan begitu juga dengan Nino dan Adel. Riko mematikan mesin mobilnya, ia juga sesekali meneteskan air matanya "No, udah Lo perlu temuin Wati untuk terakhir kalinya. Jangan keliatan lemah di depan dia." Ucap Riko. Alesha menarik nafasnya dalam. Nino tampak sangat kehilangan, tangisnya tak mengeluarkan suara dan hanya sedikit air mata yang menetes. Tampak dengan jelas, Nino seperti kesulitan untuk sekedar bernafas. Alesha mengusap air matanya "No, jangan gini!" Ucap Alesha menghentikan gerakan Nino yang terus memukul kepalanya sendiri. "Gue bukan cowok yang baik buat Wati, Al. Gue cowok bodoh yang gak tau keadaan cewek gue sendiri!" Ucap Nino. "Lo kira Lo doang yang gagal jadi cowok Wati? Gue, Adel dan temen-temen yang lainnya juga ngerasain apa yang Lo rasain. Relain Wati, jangan sakitin dia dengan perilaku Lo ini." "Al, tinggalin gue disini. Gue bakal turun kalo gue udah siap." Pinta Nino. Lagi-lagi Alesha menghembuskan nafasnya berat "Del, ayo." Adel mengangguk, gadis itu turun dari mobil begitupun dengan Riko kekasihnya. Bohong jika Alesha baik-baik saja. Dalam hati, ia menyalahkan dirinya sendiri, ia menangis sejadinya "Al, bilang ke gue kalo ini semua cuma mimpi. Wati gak mungkin ninggalin kita." Ucap Adel memeluk Alesha. Alesha membalas pelukan Adel, gadis itu memejamkan matanya menahan air matanya menetes "Gue jahat ya Al jadi sahabat Wati. Gue yakin Wati bakal benci banget sama gue." Gadis berambut sebahu itu mengusap lembut belakang kepala Adel. Sedangkan Rino, cowok itu memilih berjalan lebih dulu untuk menemui Wati. "Del, Lo sahabat yang paling baik di hidup Wati. Wati Asti bersyukur banget punya sahabat kaya elo. Wati bahkan sering bikin story Ig tentang elo, Lo salah satu alasan Wati liat sampe akhir." Alesha tersenyum tipis "Kita temuin Wati untuk terakhir kalinya. Tugas kita ikhlasin Wati, jangan buat dia berat buat ninggalin dunia. Gue yakin, dia juga bisa liat kita sekarang." Adel mengangguk, ia melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Alesha. Gadis itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. Hanya beberapa meter, tepat di depan gerbang rumah, Alesha dengan jelas mendengar suara tangisan yang terdengar sangat menyayat. Dititik itu, Alesha menghentikan langkahnya. Iya kembali memejamkan matanya begitupun dengan Adel. Banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. "Eh mba Alesha sama mba Adel udah sampe. Mba Wati nya belom sampe mba." Alesha mengarahkan wajahnya kearah samping di mana ada seorang bapak-bapak berbaju Koko lengkap dengan kopyah dan celana hitam, ia pak Jamal. Tukang kebun rumah Wati, tentu saja pak Jamal mengenal Adel maupun Alesha. Karena keduanya terlalu sering main bersama. "Wati di rumah sakit pak?" Tanya Alesha sopan. Pak Jamal mengangguk "Iya mba, tadi pagi setelah mas Nino nganter sarapan mba Wati nge drop, udah coba di tangani di rumah sakit tapi mba Wati milih pulang ke Tuhan." Jelas pak Jamal. Alesha meremas jari-jari Adel saat suara ambulan terdengar semakin dekat. Semua orang yang ada di dalam rumah langsung berlari keluar. "Itu mba Wati, mba Adel sama mba Alesha duduk aja dulu." Ucap pak Kamar lalu pergi. Kedua kakak laki-laki Wati belum menampakan batang hidungnya, mungkin belum sampai begitu juga dengan ayah gadis malang itu. Alesha hanya melihat kakek dan nenek Wati berserta pembantu rumah tangga nya. Alesha memilih meminggirkan tubuhnya bersama Adel agar tak menghalangi jalan. Ambulan berhenti tepat di depan rumah, Wati di keluarkan, disana tampak seorang wanita yang tampak seperti Wati dengan sedikit kerutan tengah di papah. Siapa lagi jika bukan ibu kandung Wati, wanita itu tampak sangat lemas. Adel, yang sedaritadi menahan tangisnya kini sudah tak bisa ia bendung. Saat Wati melewati dirinya pertahanan Adel runtuh, gadis itu jatuh. Alesha langsung memeluk erat sahabatnya. Apapun keadaannya, Alesha harus tetap sadar. ____ Sekitar pukul setengah empat sore, Alesha masih setia berada di area pemakaman yang sudah nampak sepi. Iya tak sendirian. Ada Adel, Riko dan teman-teman kelasnya yang sengaja mampir ke rumah Wati untuk menemui Wati. Nino sudah di bawa pulang oleh kakak Wati, kondisi cowok itu sangat memprihatikan. Ia seperti kehilangan separuh nyawanya. "Alesha, Adel udah sore kalian gak pulang?" Tanya Vanessa. Alesha tersenyum "Gue sama Adel balik nanti, kalo kalian mau balik. Balik aja, Bu Endang juga udah balik kan." Timpal Alesha. Vanessa membalas senyuman Alesha, lalu bangkit dari duduknya"Gue sama temen-temen pamit pulang duluan ya. Kalian jangan sampe larut, jangan nangis terus juga. Kasian Wati, di pasti ikut sedih liat kalian nangis terus." Ucapnya. "Maaf gue emang gak tau apa yang kalian rasain. Tapi gue juga ngerasain ke hilangan temen. Gue pamit ya Del, Al." Sambung Vanessa sebelum benar-benar pergi meninggalkan Adel dan Alesha. Semua teman kelasnya ikut pergi, mereka juga saling memberi kalimat penguat untuk Alesha dan Adel. Kini hanya ada Adel, Alesha dan Riko. Adel duduk bersandar di nisan. Sedangkan Alesha di sampingnya menepuk-nepuk pundak Adel. Lagi-lagi, Riko hanya duduk tak jauh dari mereka berdua dengan sesekali mengusap air matanya. "Ti, Lo udah janji sama gue kalo Lo mau lulus bareng kita, Lo mau kuliah bareng, Lo mau liat gue nikah juga kan." "Del." "Al, gue salah apa sama Wati sampe dia ninggalin gue kaya gini? Kemaren gue masih liat Wati makan, gue masih denger suara ketawa dia, gue masih inget bahagianya dia pake baju paskibra." "Del, ikhlasin Wati." Adel menggeleng"Gimana gue mau ikhlasin dia, Wati gak pamit Al! Wati belum meninggal, di masih baik-baik aja tadi pagi baru dia nge chat gue kalo besok mau jalan-jalan." Alesha mengusap air matanya, ia tahu betul apa yang di rasakan Adel. Karena ia juga merasakan hal yang sama. Ia belum bisa mengikhlaskan Wati, ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Wati sudah pergi untuk selamanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Hingga detik ini, Alesha masih berharap ini semua hanya mimpi. ;;;;;; See you next part Salman Sellaselly12
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN