Riska menghentakkan kakinya di tanah. Selama perjalanan, ia selalu menggerutu tak jelas. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang dilaluinya, menatap aneh ke arahnya. Sungguh, ia merasa kesal pada Fatma dan teman-temannya itu. Niatnya yang semula ingin belajar ngaji, sudah hilang seketika. "Dasar b***h!! Awas kalian semua, gue nggak akan biarin salah satu dari kalian dapetin Ustadz Rifki!! Apalagi Fatmanjing!!" lirih Riska sambil mengepalkan tangannya erat. Langkah Riska berhenti di depan sebuah sawah. Ia mendudukkan pantatnya di atas tanah. Bayangan pohon mangga memberi keteduhan kepadanya. Riska menatap kosong lurus ke depan. Ia rasa, Ustadz Rifki menyalahkan dirinya atas Fatma yang jatuh tersungkur dan mengakibatkan bibirnya berdarah. "Ah, bodo amat! Lagipula, itu salah mereka!" Af

