Riska menggelengkan kepalanya beberapa kali. Suaminya tak seagresif yang ia pikirkan. Suaminya adalah lelaki baik-baik, lagi sholeh. Jadi, Ustadz Rifki tak akan meminta haknya sekarang juga. Riska terus menyakinkan dirinya. Ustadz Rifki memandang keterdiaman sang istri. Raut wajahnya tampak sangat ketakutan. Apakah, dirinya sudah kelewatan?. Sejenak, ia tersadar. Tak seharusnya ia tersulut emosi. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ustadz Rifki menatap lekat manik mata istrinya. "Saya minta maaf sudah membuat kamu takut, Riska." sesalnya. "Saya hanya tidak ingin kamu berkata kasar lagi. Cukup tadi yang terakhir kali." lanjutnya membuat Riska terkesiap. "Hu-Hukuman Ustadz?!" "Saya akan tetap menghukum kamu." ucapnya terjeda. "Surah yang kamu hafal baru sampai ma

