09. Dedemit?

1181 Kata
Di perjalanan pulang, Riska berada di barisan belakang. Kakak sepupunya meninggalkannya begitu saja dengan bergabung bersama teman-temannya. Para gadis pun tak ada yang mau berjalan bersama Riska. Jadilah, ia jalan seorang diri dengan mata yang terus memandang ke atas langit. Waktu semakin malam, tetapi dirinya masih berada di tengah sawah—perjalanan menuju rumah.  "Bang Revan, tungguin!!" teriaknya yang tak terdengar oleh si empunya nama. Karena Revan berada di barisan paling depan.  Riska memperlambat langkahnya. Ia merasa lelah. Dirinya tak terbiasa berjalan kaki. Sesekali, ia berjongkok dan kembali berjalan. Tak mempedulikan jika dirinya sudah tertinggal rombongan.  "Gue capek! Papa... Mama... Bang Revan nakal, dia ninggalin Riska gitu aja, Ma! Pa!" teriak Riska seolah kedua orangtuanya akan mendengar keluh kesahnya.  Revan tertawa keras karena membahas adik sepupunya yang tidak tahu malu itu bersama teman-temannya. Keberadaan Riska telah memberinya sebuah hiburan tersendiri. Apalagi dengan sikap obsesinya pada Ustadz Rifki, membuatnya ingin selalu tertawa. Mengingat, sahabatnya itu adalah tipikal lelaki yang sulit didekati. Ia jadi tak sabar menyaksikan perjuangan adik sepupunya yang terus mengejar cinta seorang Ustadz muda di desa ini.  "Eh, Van, si Riska mana?" tanya Affan sambil menengok ke belakang. Ia sama sekali tak menemukan keberadaan gadis itu.  "Di belakang kali." jawabnya acuh tak acuh. Revan masih terhanyut dalam membahas adik sepupunya dengan yang lain. Seolah tak terganggu, Ustadz Rifki hanya terdiam seraya memasang wajah datar yang menjadi ciri khasnya. Namun, itu sama sekali tak mengurangi ketampanan wajahnya.  "Cari sana, Van, kalo kenapa-napa, gimana?" suruh Affan yang merasa khawatir padanya.  Di pertemuan kedua, Affan merasa benar-benar jatuh hati padanya. Riska memang berbeda dengan gadis lainnya. Jika gadis lain akan malu-malu, berbeda dengan Riska yang akan langsung berterus terang.  "Kamu suka ya sama Riska?" terka Revan menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk.  Affan menegang. Apalagi saat lelaki yang paling dingin ikut menatapnya. Lelaki itu adalah Ustadz Rifki. Yang entah mengapa, ikut menatap Affan seperti yang lainnya. "Enggak!" elaknya. Revan menghela napas. Mungkin, setelahnya akan banyak para pemuda yang jatuh hati pada adik sepupunya itu. Tetapi, ia tak yakin, jika salah satu mereka akan berhasil mendapatkan hatinya. Karena, Riska telah lebih dulu memilih seorang lelaki untuk dicintainya. Revan sama sekali tak mengetahui masalah perjodohan adik sepupunya. Ia kira, Riska datang ke desa karena merasa bosan hidup di kota. Namun kenyataannya, kedatangan Riska di desa memiliki maksud mencari calon suami agar terhindar dar sebuahi perjodohan. "Ya udah, gue cari Riska." Revan berlari ke belakang. Ia mencari dalam gerombolan gadis yang nyatanya tak ada keberadaan adik sepupunya.  Ustadz Rifki menghentikan langkahnya dan berdiri dipinggir jalan. "Kalian duluan saja. Saya akan menunggu Revan." titahnya pada yang lain.  Para gadis heboh karena melihat Ustadz Rifki yang tiba-tiba berhenti. Desas-desus mulai terdengar, namun diabaikan oleh orang yang dibicarakan. Lelaki itu tak pernah meladeni gadis-gadis yang diam-diam memiliki rasa padanya.  "Ustadz Rifki ngapain berdiri di situ? Pasti nungguin aku?!" "Maa syaa allaah, Ustadz Rifki ganteng banget!"  "Aduh, aku deg-degan mau ngelewatin Ustadz Rifki." "Jantung aku kenapa berdebar kayak gini?" "Zina mata, zina mata, zina mata!" "Tundukkan pandangan!" "Nggak usah ke-ge-eran, nanti malah malu nggak ketulungan!" Seorang gadis melangkah mendekatinya dengan rasa percaya diri. Ia berdiri tepat di depannya. "Ustadz, Fatma duluan ya. Assalamu'alaikum." ucapnya dengan tersenyum manis. Sedangkan Ustadz Rifki hanya mengangguk saja, setelah menjawab salamnya. Kemudian, gadis-gadis yang masih dibelakang saling berdorongan agar segera melewati Ustadz Rifki yang sudah terbiasa dengan hal itu.  Riska berjongkok di tengah jalan sambil menutup mata. Di dalam hatinya, ia menyumpah serapahi Revan yang telah meninggalkannya begitu saja. Padahal, sewaktu di kota, tak ada satu pun orang yang berani meninggalkan dirinya. Mereka selalu menyuruhnya memimpin jalan. Tetapi, tidak dengan di desa. Ia seperti debu yang tak berharga.  "Kakek... Riska capek... Jemput Riska apa, Kek! Bang Revan tuh, seenaknya ninggalin cucu Kakek yang paling cantik ini. Terus, kalo Riska diculik genderuwo gimana coba?" ujarnya melantur.  Mengingat kata 'genderuwo' yang diucapkannya, sontak, Riska langsung berdiri. Ia menatap sekeliling dan seketika bulu kuduknya berdiri. Ia merinding. Apalagi, sudah tidak ada orang, selain dirinya. Sepertinya, ia benar-benar tertinggal. Riska memicingkan matanya untuk memperjelas penglihatannya pada sesosok yang berdiri di depan sana. Sosok itu hanya terlihat berwarna putih . Entah, pakaian atau apanya. Riska pun tak tahu.  "Itu apa sih, putih-putih? Manusia atau dedemit?" gumamnya mulai merasa takut.  Riska tak menyadari jika dibelakangnya ada Revan yang tengah menahan tawa melihat ekspresi ketakutannya. Sudah lama sekali, dirinya tak melihat Riska yang ketakutan seperti ini. Tiba-tiba, sebuah ide jahil terlintas di otaknya. Ia meniup telinga adik sepupunya dan langsung bersembunyi di balik pohon terdekat.  "Tadi apa ya? Kek ada yang tiup telinga gue!" Riska mengusap telinganya yang tertutup jilbab. Ia terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jika ada suatu makhluk muncul, maka dirinya akan berlari sekuat tenaga. Tetapi, tak ada tanda-tanda kemunculan suatu makhluk apapun.  Riska melangkah pelan, dengan mata yang terus waspada.  "Riska... Ayo ikut saya ke atas pohon, hihihi..." bisik Revan dengan mendayu dan diakhiri dengan tawa yang dibuatnya persis seperti kuntilanak.  Kaki Riska terasa berat untuk melangkah. Rasa takut sudah menguasai dirinya. Ia sama sekali tak berani menengok ke belakang. Sampai-sampai, suara makhluk yang biasa bertengger di atas pohon lebat kembali terdengar. "Hihihihi... Hihihihi...."  "HWAAA... KUNTILANAK!!!" teriak Riska sambil berlari sekencang mungkin. Tetapi, kesialan menimpanya. Ia menginjak ujung gamisnya hingga membuatnya jatuh tersungkur. Telapak tangan berdarah karena terkena batu yang runcing. Namun, dirinya mengabaikan luka yang didapatinya. Bayangan film horor yang pernah ia tonton, tiba-tiba bermunculan dipikirannya. Membuat Riska kalut dalam rasa takut. Gadis itu tak berani membuka matanya yang terpejam. Rasa perih mulai dirasakan pada telapak tangannya. Membuat dua anak sungai mengalir dari pelupuk matanya. Riska menangis karena takut jika makhluk halus yang diduganya adalah kuntilanak akan menyerupai dirinya dan merebut Ustadz Rifki darinya. Itulah yang ditakutinya, bukan takut karena akan dibunuh, diculik, atau lainnya. "Hiks...hiks..." 'Gue mohon mbak Kunti, jangan bawa gue pergi dan nanti lo yang malah nyamar jadi gue! Ustadz Rifki cuma milik Riska seorang.' batin Riska yang sempat-sempatnya memikirkan Ustadz Rifki daripada keselamatannya. Puk puk Revan menepuk pundak adik sepupunya, setelah mendengar suara isak tangis. "Ris, ini gue, Revan."  Riska mendongakkan kepalanya dan tangisnya semakin pecah.  "Hwaaa... Bang Revan! Tadi gue diganggu sama dedemit, Bang!"  Rasanya, Revan ingin tertawa saat itu juga. Tetapi, melihat kondisi adik sepupunya yang begitu menyedihkan membuat ia mengurungkannya. Ia berjongkok di depan Riska dan membersihkan telapak tangannya yang berdarah tercampur tanah.  "Sakit Bang." rintihnya. "Lo masih kuat jalan nggak?"  Riska menggeleng pelan. "Ya udah, gue gendong." Revan berjongkok dan Riska segera melingkarkan tangan di lehernya. Perlahan, Revan berdiri dan melangkah menuju sahabatnya yang sudah menunggu.  Riska membelalak saat melihat sosok lelaki yang tadi diduganya makhluk halus, ternyata ia adalah Ustadz Rifki. Wajar saja, karena peci dan sarung yang dipakai Ustadz Rifki berwarna hitam. Sedangkan kemeja yang dikenakannya berwarna putih. Jadi, warna hitam peci dan sarungnya menyatu dengan gelapnya malam. Dan jarak antara dirinya dan Ustadz Rifki sangatlah jauh. Ia memang benar-benar tertinggal rombongannya. "Ustadz Rifki. Ustadz Rifki jangan cemburu. Riska cuma digendong sama Bang Revan doang kok." ujarnya seolah lelaki tersebut akan cemburu dan marah melihat dirinya digendong dengan lelaki lain, selain dirinya. Namun, Ustadz Rifki tak menanggapi. Ia malah berjalan lebih dulu, meninggalkan Riska yang digendong sahabatnya di belakang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN