10. Joging

1192 Kata
Keesokan harinya, Riska bangun tepat saat azan shubuh. Ia bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi. Karena jika ia mandi tak akan keburu waktunya. Bisa-bisa, sholat shubuh telah selesai dan Riska baru sampai di masjid. Setelah selesai, Riska memakai mukena dan keluar kamar. Ia menunggu Kakek dan kakak sepupunya yang masih bersiap. Sesuai informasi yang didapatinya, Ustadz Rifki menjadi imam saat sholat shubuh. Sedangkan sholat lainnya yang menjadi imam adalah ayahnya sendiri. Riska belum pernah sekalipun bertemu calon mertuanya. Bukan, maksudnya orangtua Ustadz Rifki. Ia belum bisa memastikan jika mereka akan menjadi mertuanya. Karena dirinya belum menjadi istri sah dari Ustadz Rifki. "Kakek, Bang Revan! Cepetan dong! Keburu telat!" teriaknya. Tak lama, Kakek keluar kamarnya. Kemudian, disusul oleh Revan. Riska pun langsung melangkah keluar rumah. Hawa dingin langsung menyambutnya. Membuat Riska mulai menggosokkan kedua telapak tangan untuk mendapat kehangatan. "Hayuk atuh, Kek, keburu iqamah." ucap seorang pria paruh baya menyapa Kakek. Riska merasa takjub akan semangat para warga yang berbondong-bondong pergi ke masjid di shubuh ini. Biasanya, di tempat lain, orang akan sangat malas melaksanakan sholat shubuh berjama'ah di masjid. Tetapi, tidak dengan di desa ini. Hampir sholat lima waktu, para warganya selalu sholat berjamaah di masjid. "Bang tadi yang azan siapa?" tanya Riska yang merasa tak asing dengan suara merdu itu. "Rifki." Mata Riska berbinar. Dugaannya benar. Sesampainya di masjid, ia mengikuti para gadis dan beberapa wanita yang menuju tempat sholat perempuan. Masjid di desanya cukup luas dan indah. Baru menapakkan kaki saja, sudah membuat hatinya terasa nyaman. Riska mendapati tempat di barisan belakang. Awalnya ia sedikit terkejut karena semua tempat sudah ditempati, namun untungnya masih ada beberapa tempat yang menyisakan untuknya dan gadis-gadis, serta para wanita yang datang bersamanya. "Kayaknya mereka semua sholat itu karena imamnya Ustadz Rifki deh, apalagi banyak cewek yang seumuran gue." ucap Riska dalam hati. Setelah iqamah terdengar, mereka semua berdiri dan mulai sholat mengikuti sang imam. Sejak menginjakkan kaki di desa, ini adalah sholat pertamanya. Dengan khusyuk, Riska mendengarkan ayat-ayat suci yang dibacakannya. Tanpa terasa, air matanya mengalir. Ia tak pernah mendengarkan bacaan Al-Qur'an yang begitu menyentuh hatinya. Riska tak ingat, jika di dalam sholat subuh terdapat do'a qunut. Baru saja, ia akan sujud, namun terhenti saat Ustadz Rifki mulai membacakan do'a qunut. Riska pun yang sudah setengah jongkok, langsung berdiri dan menengadah tangannya. Hanya rasa malu yang dirasakannya. Karena cuma dirinya yang melakukan kesalahan itu. Mungkin, jika ada yang lain seperti dirinya, ia tak akan merasa malu setengah mati. "Ah, malu gue!" batin Riska. Setelah selesai sholat, Riska menunggu Kakek dan kakak sepupunya di depan masjid. Hampir sepuluh menit ia menunggu, tetapi mereka tak kunjung muncul. Akhirnya, Riska kembali masuk ke dalam dan mendapati mereka tengah berbincang bersama yang lainnya. Termasuk Ustadz Rifki juga. "Ya udah, yuk, berangkat!" ucap Revan bangkit dari duduknya dan menghampiri Riska yang berdiri diambang pintu. "Hayuk!!" sahut para sahabatnya. "Gue mau joging, lo mau ikut nggak?" tanya Revan sambil bersandar pada daun pintu. "Ustadz Rifki ikut nggak?" Riska berbisik pada kakak sepupunya. Jangan sampai, Ustadz Rifki mengetahui. Karena ia menyadari, jika lelaki itu tidak menyukai dirinya untuk saat ini. Tetapi tidak tahu untuk ke depannya. Revan menoleh ke belakang—ke arah Ustadz Rifki. Kemudian, ia mengangguk. "Oke, gue ikut. Sebentar." Riska melepas mukenanya dan memberikannya pada Kakek. Untungnya, ia sudah memakai jilbab yang dirangkap dengan mukena. Jadi, ia tak perlu kembali ke rumah atau berjoging menggunakan mukena. Sangat meribetkan sekali. Kakek memandangi lipatan mukena dan sajadah dihadapannya. Karena kedatangan Riska, membuat obrolan Kakek dan bapak-bapak terhenti. "Kek, Riska titip mukena ya? Riska mau joging sama Bang Revan." ujarnya sesekali menatap Ustadz Rifki yang masih mengobrol dengan para pemuda. "Makasih ya Kek, Riska sayang Kakek." Cup Riska mengecup pipi kanan Kakek. Membuat semua orang terkejut. Sedangkan si pelaku, sudah langsung mengibrit pergi. Setelah ia mengedipkan sebelah matanya pada Ustadz Rifki yang menatapnya tajam. "Gila lo, main cium Kakek gitu aja!" omel Revan menoyor kepala adik sepupunya. Plak Riska memukul lengan Revan. Sebagai balasan, karena kakak sepupunya telah berani menoyor kepalanya. "Sakit sih, Ris!" rintih Revan seraya mengelus lengannya. "Ya sama, gue juga sakit." "Ehem!" dehem seseorang membuat Riska mematung. Ia merasa ada orang yang berdiri di belakangnya. Perlahan, dirinya menoleh ke belakang dan mendapati wajah tampan lelaki yang ditetapkannya sebagai calon suami. "Kamu menghalangi jalan." ucapnya dingin. Riska tercengir dan segera menyingkir. Kemudian, ia mengangkat sudut bibir saat Ustadz Rifki melewatinya. Diam-diam, dirinya menghirup aroma parfum Ustadz Rifki. Sangat wangi dan menenangkan. "Heh, ngapain senyum-senyum?" Revan mengusap kasar wajah adik sepupunya. Membuat Riska memanyunkan bibirnya. Tanpa menyadari, banyak pasang mata yang merasa gemas melihatnya. Setelah itu, mereka mulai joging berkeliling desa. Riska yang memimpin joging pagi ini, meskipun sebenarnya ia tak tahu jalan. Tetapi, ada Revan bersedia memberikan arahan padanya. Ah, rasanya, Riska sangat menyayangi kakak sepupunya itu. "Ayo guys! Semangat! Jangan pada loyo gitu!!" teriak Riska sambil menoleh ke belakang. Rasanya Riska ingin tertawa melihat para sahabat kakak sepupunya yang menyampirkan sarung di bahu. Tampak seperti seorang tokoh kabayan, apalagi ditambah dengan posisi peci yang dimiringkan. Berbeda dengan Ustadz Rifki yang telah berganti dengan celana panjang dan baju kaos lengan panjang. Tak lupa, dengan peci hitamnya. "Ustadz Rifki, calon suaminya Riska, yang semangat juga ya!! Riska do'a-in semoga Ustadz sehat selalu biar bisa ketemu Riska terus!!" teriaknya membuat Ustadz Rifki segera memalingkan wajah ke arah lain. Para sahabatnya terus menggoda Ustadz Rifki dengan gadis tidak waras itu. Riska terus joging dengan semangat 45. Sudah lama juga, ia tak berolahraga. Jadi, dirinya tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyehatkan tubuh dengan berolahraga ringan seperti sekarang. Apalagi dengan udara yang segar tanpa adanya polusi, membuat semangatnya bertambah berkali-kali lipat. Setelah selesai, mereka semua beristirahat di jalanan menuju sawah. Riska tersenyum melihat para sahabat kakak sepupunya yang langsung merebahkan tubuh di aspal. Meskipun desa, tetapi fasilitas di sini tidak kalah dengan kota. Hampir seluruh jalan sudah di aspal. Hanya beberapa jalan saja yang masih tanah, yang pasti jalan yang jarang dilewati. Contohnya, jalan yang menuju Balai desa memiliki dua jalur. Satu jalannya sudah di aspal, tetapi jarak tempuhnya lumayan jauh dan satunya lagi jalan yang masih tanah. Jalan yang dilalui Riska saat itu, untuk mempersingkat waktu. "Riska, masih mau olahraga lagi kamu?" tanya seorang lelaki yang memakai kaos berwarna biru. "Iya nih." jawab Riska yang tengah berlari di tempat. "Btw, namanya siapa?" tanyanya menatap lamat wajahnya. "Affan." "Oh. Tapi, namanya kayak merek sarung ya? Soalnya, kemarin gue baca merek sarung punya Kakek. Kalo nggak salah, Ustman bin Affan nama merek-nya." Semua orang melepas tawa. Tak habis pikir dengan gadis yang menyamakan nama Affan dengan nama merk sarung. "Hahahaha..." "Gokil! Gokil!" Riska mengernyitkan keningnya. Ia tak tahu, penyebab mereka tertawa. Padahal, tadi dirinya berkata jujur. "Kok ketawa sih?" Affan memandang malas ke arah sahabat-sahabatnya. Sejak dulu, mereka selalu senang jika dirinya dinistakan. "Sabodo teuing!" rajuk Affan melenggang pergi meninggalkan mereka semua. Riska memandang bingung kepergiannya. Setelah itu, ia duduk di sebelah Ustadz Rifki yang tengah menatap sunrise. Ia menyunggingkan bibirnya saat berhasil menikmati ketampanan wajah Ustadz Rifki dari jarak yang begitu dekat. "Maa syaa Allah, indah sekali." gumam Ustadz Rifki yang tak menyadari keberadaan gadis di sebelahnya. "Tapi, lebih indah wajah Ustadz Rifki." celetuk Riska yang langsung mendapat tatapan tajamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN