11. Belanja dan Memasak

2505 Kata
Seorang gadis tengah bertumpu dagu, memandang setiap sudut rumah yang terasa sepi. Kakek dan kakak sepupunya pergi ke perkebunan tanpa mengajaknya. Ingin menyusul pun, ia tak tahu jalan. Ia sangat malas jika harus bertanya-tanya pada orang mengenai letak perkebunannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk sendirian di rumah sambil memikirkan cara untuk menaklukkan hati sang Ustadz. "Neng Riska? Lagi ngapain?" tanya Bi Arum berhasil membuatnya terlonjak kaget. "Lagi mikirin masa depan Riska bersama Ustadz Rifki, Bi." jawabnya disusul oleh gelak tawa. Bi Arum menggelengkan kepala. Sepertinya, cucu dari sang majikan sangat tergila-gila dengan Ustadz muda yang satu ini. "Neng, Bi Arum ke pasar dulu ya? Neng nunggu di rumah. Jangan kemana-mana." ujar Bi Arum sambil menjinjing keranjang belanja. "E-eh, Bi, Riska mau ikut! Enak aja, Riska ditinggal sendirian di rumah." Riska berlari menyusul asisten rumah tangganya yang sudah berada diambang pintu. "Neng Riska, jilbabnya belum dipake!" ucap Bi Arum mengingatkannya. Riska kembali masuk ke dalam rumah. Ia berlari kamarnya dan menyambar jilbab yang tergeletak di atas kasur. Riska memakai jilbab tanpa bercermin, untungnya ia memakai jilbab instan. Jadi, tak merepotkan. Setelah itu, ia berlari lagi dan tiba di depan rumah dengan napas yang terengah-engah. "Ya Allah, Neng, jangan lari-lari gitu. Jadi ngos-ngosan 'kan?" Riska tercengir kuda. Ia menggandeng lengan Bi Arum. Membuat yang digandeng merasa tak nyaman. Pasalnya, Riska memiliki kebiasaan menggandeng lengan orang yang berjalan bersamanya. Sesekali, ia tersenyum pada orang yang menyapa Bi Arum ataupun dirinya. Saat terdengar suara deru mesin motor dari arah belakang, Riska langsung menoleh. Senyumnya mengembang sempurna melihat si pengendara motor yang ternyata adalah lelaki yang diincarnya untuk dijadikan calon suami. "Mbak Arum, kita duluan ya?" sapa seorang wanita paruh baya yang dibonceng oleh Ustadz Rifki. Riska merasa panas dingin saat Ustadz Rifki tersenyum pada mereka. Ia baru sadar, jika lelaki itu memiliki lesung pipi yang mampu menambah ketampanannya. "Iya Bu. Hati-hati." sahut Bi Arum saat motor tersebut sudah beberapa langkah di depan mereka. "Hwaa... Bi Arum, senyumnya Ustadz Rifki bikin Riska meleleh, Bi!" teriaknya yang tiba-tiba berjongkok di jalan dan berakhir duduk lesehan. "Ya Allah, Neng, bangun, jangan duduk gitu. Nanti bajunya Neng Riska jadi kotor." Riska memegangi kedua pipinya yang memanas. Bayangan Ustadz Rifki yang tersenyum kembali terngiang dipikirannya. Bi Arum tersenyum saat ada orang yang melewati mereka. Seolah mengisyaratkan, jika gadis yang masih duduk lesehan di jalan itu baik-baik saja. "Neng." panggil Bi Arum sambil menepuk bahunya. Setelah berhasil mengontrol diri, Riska segera berdiri dan melanjutkan perjalanan. Tanpa terasa sudah dua puluh lima menit berlalu, akhirnya mereka tiba di pasar. Sepanjang perjalanan, Riska tak henti-hentinya mendumel. Ia mengatakan dirinya tak akan sanggup jika kemanapun dirinya pergi harus berjalan kaki. Padahal, di rumah Kakek ada kendaraan beroda dua maupun empat. Tetapi, mereka lebih memilih menggunakan kaki. Katanya agar lebih sehat. Mau tak mau, ia pun mengikuti berjalan kaki. Karena semua kunci kendaraan dipegang oleh Kakek. Termasuk kunci mobilnya. "Bi, Riska capek, haus juga." Riska mendudukkan pantatnya di salah satu teras kios yang ada di pasar ini. Kemudian, ia meluruskan kedua kakinya dan menatap orang yang berlalu-lalang di depannya. "Ya sudah, Bibi beli minum dulu. Neng Riska tunggu di sini." ucap Bi Arum melenggang pergi membeli minuman untuk Riska dan dirinya. "Ya Allah... Pegel banget kaki Riska. Perasaan dari awal tinggal di desa, Riska selalu jalan kaki. Cuma kemaren doang naik mobil pas ke pasar sama Kakek. Kalo tiap hari jalan kaki kek gini terus, bisa-bisa—" dumelnya yang terhenti saat melihat seorang lelaki berjalan melewatinya. Seketika, rasa pegalnya menghilang digantikan dengan rasa semangat yang menggebu-gebu. "Ustadz Rifki!" teriaknya membuat si empunya nama menghentikan langkah. Lalu menoleh sekilas dan setelah itu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Riska mengembuskan napas kasar. Mungkin, dia harus berjuang lebih keras lagi untuk menaklukkan hati Ustadz Rifki. Riska kembali mendudukkan dirinya. Tak lama, Bi Arum tiba dengan membawa dua buah botol minuman dingin. Membuat Riska berbinar. "Neng, ini minumnya." ucap Bi Arum memberikan sebotol minuman dingin padanya. Setelah diterima oleh Riska, Bi Arum pun duduk di sebelahnya. Riska meminum minumannya dengan sekali tegukan. Sejenak, ia merasa sedikit kesal pada Ustadz Rifki yang tidak meladeni sapaannya tadi. Padahal, dirinya sudah berharap jika Ustadz Rifki akan tersenyum dan menyapanya balik. Namun, itu hanya sebuah angan-angan dan tak akan pernah terjadi. Ustadz Rifki tak pernah tersenyum padanya dan selalu menunduk saat bertemunya. Seketika, ia teringat ketika menuju ke pasar, lelaki itu tersenyum padanya karena ada Bi Arum bersamanya. Mungkin, jika tidak ada Bi Arum, lelaki itu tak akan tersenyum. Riska sama sekali tak mengetahui alasannya. Memikirkan itu semua hanya membuatnya sakit kepala. Apalagi, dengan waktu yang terus berlalu. Oleh karena itu, ia harus segera mendapatkan cinta Ustadz Rifki dan meminta kepada lelaki itu untuk mau menikahinya. Hanya itu jalan satu-satunya agar terhindar dari perjodohan. "Bi Arum mau belanja apa?" "Cuma beli ayam, telur, tahu dan tempe." Setelah itu, Riska membuntuti asisten rumah tangganya berbelanja. Dimulai dari membeli ayam, telur, tahu dan tempe. Kemudian, Riska meminta untuk mengisi perutnya yang keroncongan dengan memakan bubur ayam. "Mang, bubur ayamnya dua." ucap Riska memesan dua buah porsi bubur ayam. "Eh, Neng Riska, baru ke pasar lagi, Neng?" Setelah hari dimana ia dan Kakek berbelanja, hampir semua pedagang pasar mengenalnya. Siapa yang tidak mengenal Kakek? Seorang pemilik perkebunan yang juga memasok buah dan sayuran di pasar-pasar. "Iya nih, Mang. Kayaknya Riska kangen sama Mang Anto, eh maksudnya sama bubur ayamnya Mang Anto." sahut Riska yang berhasil mengundang tawa semua orang yang berada di kios Mang Anto. "Ah si Eneng, bisa aja. Ya udah, Mamang buatkan dulu." Sembari menunggu Mang Anto menyiapkan bubur untuknya, Riska bangkit keluar kios. Ia berkacak pinggang sambil menyapu pemandangan ke sekitar. Matanya menyipit saat melihat sesosok lelaki yang tadi disapanya. Tanpa disadari, sudut bibirnya terangkat. Dengan sigap, lelaki itu membawakan belanja milik ibunya. Sejenak, Riska membayangkan jika wanita itu adalah dirinya yang telah menjadi istrinya. Seperti sangat menyenangkan. "Belanja apa lagi, sayang?" tanya lelaki yang berdiri di belakangnya. Ia menoleh dan tersenyum manis padanya. "Tinggal beli daging, Yang." jawabnya, lalu berjalan menuju pedagang daging. Ia memilih daging ayam yang menurutnya masih sangat segar. Lelaki tersebut menumpukan dagu di bahunya. Dan satu tangannya terulur memeluk ping— "Neng Riska! Buburnya sudah siap. Ayo cepet dimakan, mumpung masih hangat." ucap Mang Anto membuyarkan lamunannya. Riska mencebik kesal. Lalu, beranjak menuju bangku yang disediakan. Ia memakan buburnya dengan cepat. Dirinya sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah dan berniat memasak untuk lelaki yang dicintainya. Ia harap dengan hal itu dapat membuat Ustadz Rifki sedikit membuka hati untuknya. "Bi Arum, Riska duluan pulang ya? Riska naik ojek aja. 'Kan katanya Bi Arum masih ada perlu sama pedagang disini. Oh ya, Bi, sayuran di rumah masih lengkap 'kan? Riska mau masak soalnya. Nanti belanjaannya, biar Riska yang bawa." cerocos Riska sambil mengelap mulutnya dengan tisu. "Sayuran masih banyak kok, Neng." Riska mengambil keranjang belanjaan dan berpamitan pergi. Ia melangkah menuju beberapa motor di depannya. Dirinya menduga, itu adalah perkumpulan tukang ojek. Tetapi, dugaannya salah. Mereka semua adalah orang-orang yang tengah menunggu sang istri atau ibu mereka yang tengah berbelanja. Memang mereka terlihat seperti perkumpulan tukang ojek, karena hampir keseluruhan warga desa berjalan kaki untuk berbelanja di pasar. Jadi Riska menduga, mereka adalah tukang ojek. "Mas ojek ya, ke rumah Kakek Tomo. Orang nomor satu di desa ini. Masnya pasti tau 'kan? Tau lah, masa nggak. Kalo Masnya beneran nggak tau, berarti Masnya keterlaluan." celoteh Riska pada lelaki yang tengah menunduk. Matanya terfokuskan pada ponsel ditangannya. "Saya bukan ojek!" ucapnya datar. Riska menautkan kedua alisnya. Ia menelisik lelaki itu dengan seksama. Dengan lancangnya, ia mendongakkan kepalanya. Dan ternyata, lelaki itu adalah Ustadz Rifki. Riska segera menarik tangannya dan tercengir watados. "Nggak. Ustadz Rifki itu ojek, ojek cintanya Riska." ujar Riska sambil cekikikan. Ia suka sekali menggodanya, namun Ustadz Rifki sama sekali tak pernah meladeni dan selalu memasang wajah datarnya yang tertunduk. Riska mengatupkan bibirnya saat melihat seorang wanita berjalan menuju mereka. Yang tak lain adalah calon ibu mertuanya, bukan, maksudnya adalah ibu dari Ustadz Rifki. Gadis itu tersenyum kikuk menyambutnya. Tak lupa memundurkan langkah untuk memberinya jalan agar bisa dekat dengan kendaraan beroda dua milik putranya. "Assalamu'alaikum." ucapnya. "Wa'alaikumussalam." "Siapa, Rif?" tanyanya menunjuk Riska yang masih setia tersenyum. "Cucunya Kakek Tomo, Bu." jawab Ustadz Rifki sambil mengambil alih belanjaannya dan menggantungnya pada gantungan yang ada di motor. Fatimah—ibu Ustadz Rifki tersenyum hangat padanya. "Namanya siapa, Neng?" tanyanya yang teringat jika gadis itu adalah gadis yang dilihatnya berjalan bersama Bi Arum. "Riska Bumer." Ustadz Rifki dan ibunya saling memandang. Lain halnya dengan Riska yang senyumnya semakin melebar. "Maksud Riska itu Ibu Mertua." cetusnya membuat Fatimah terkejut. Pasalnya, tak pernah ada gadis yang se-frontal Riska. Setiap gadis yang menaruh hati pada putranya, pasti akan bersiap malu-malu. Tapi, Riska? Kalian bisa tahu sendiri, bukan?. Fatimah menggelengkan kepalanya. Sedangkan Ustadz Rifki, ia mengembuskan napas gusarnya. Lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Em, Neng Riska, Ibu sama Rifki duluan ya? Udah ditunggu sama yang lain di rumah." pamit Fatimah sambil mendudukkan p****t di jok belakang. "Iya, Bumer. Oh iya Ustadz, Ustadz Rifki nggak mau pamitan sama Riska? Ustadz Rifki 'kan calon suaminya Riska." tuturnya memasang wajah memelas. "Saya bukan calon suamimu." ketus Ustadz Rifki membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya. Riska memandang nanar kepergian calon suami dan calon ibu mertuanya. Mereka pergi setelah mengucapkan salam, tetapi tak dijawab olehnya. Padahal menjawab salam itu wajib. Sedangkan yang mengucapkannya, itu sunnah. "Bapak ojek, bukan?" tanya Riska pada pria paruh baya yang tengah duduk di atas motornya. "Bukan, Neng. Saya lagi nunggu istri." jawabnya. Kemudian, Riska bertanya pada pria yang disebelahnya. "Kalo, bapak?" "Bukan juga, Neng." "Kalo Mas, ojek?" "Bukan, Dek." "Terus tukang ojeknya yang mana?" teriak Riska histeris. Ia sudah lelah dan ingin segera sampai di rumah. "Kayaknya lagi narik semua, Neng." jawab salah satu dari mereka. "Terus, gue harus jalan kaki gitu? Kalo kek gini, mending tadi bawa mobil!! Akh, lama-lama nggak betah gue! Kalo bukan karena perjodohan sialan itu, gue nggak akan tinggal di desa dan mengejar cinta Ustadz Rifki! Tapi, gue telanjur cinta!!" Riska berjalan dengan raut kesal diwajahnya. Tangannya sudah terasa pegal menjinjing belanjaan. Sepanjang perjalanan, ia selalu menggerutu tak jelas. Orang-orang yang melewatinya selalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan Riska tak segan membalas tatapan mereka dengan tatapan tajamnya. Hingga membuat orang yang menatapnya langsung memutuskan kontak mata dengannya. "Anjing, babi, b*****t! Gue capek! Nggak ada apa, orang baik yang ajak gue pulang naik motornya!! Perasaan dari tadi, mereka cuma lewat aja! Malah natap gue kek gitu! Seolah gue itu orang gila!" "Eh, tapi, emang gue kek orang gila ya? Ngomong sendiri mulu? Ah, bodo amatlah! Gue mau cepet sampe rumah." Riska terus berjalan. Mengabaikan orang yang menyapa dan tersenyum padanya. Ia menghela napas, beberapa langkah lagi dirinya sampai di rumah. Setibanya, ia langsung masuk ke dalam dan mengambil air dingin dari kulkas. Meminumnya dengan sekali tegukan. Kemudian, meluruskan kedua kakinya dengan sesekali memijitnya. Hari ini, Riska benar-benar kelelahan. Tetapi, ia bertahan demi memasak untuk Ustadz Rifki. Ia akan membuktikan, bahwa dirinya memang jago dalam mengolah bahan pangan. "Oke, ayo berjuang!" ucap Riska dengan semangat. Riska mengambil sayuran dan memulai memotongnya. Ia akan memasak capcay ayam dan tahu, serta tempe goreng. Dirinya memasak bukan hanya untuk Ustadz Rifki saja, tetapi untuk Kakek dan kakak sepupunya juga. Memasak bukanlah hal yang sulit bagi Riska. Sejak kecil, ia menyukai memasak. Dirinya sering membantu asisten rumah tangganya memasak, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Bisa dibilang, masak adalah keahlian yang disembunyikan oleh Riska. Karena dirinya merasa, keahliannya dalam memasak akan sangat berguna jika ia sudah berkeluarga. "Assalamu'alaikum..." ucap Bi Arum memasuki rumah. Aroma harum capcay sudah menyeruak, membuat ia segera ke dapur karena penasaran. "Wa'alaikumussalam, udah pulang Bi?" tanya Riska menoleh sekilas pada asisten rumah tangganya yang baru tiba di dapur. "Iya, Neng." "Oh iya, Bi, Riska minta tolong dong, siapin rantang. Riska mau kirim makanan buat Ustadz Rifki." pintanya. Bi Arum segera mencari keberadaan rantang. Capcay ayam telah matang, Riska tinggal menggoreng tahu dan tempe saja. Untuk itu, ia meletakkan wajan di tungku kompor dan menuangkan minyak ke dalamnya. Kemudian menyalakan api. "Bi, tolong gorengin tahu sama tempenya. Riska mau istirahat sebentar." Bi Arum mengangguk. Lalu, Riska mengangkat kaki menuju kamarnya. Ia akan merebahkan tubuhnya sesaat, untuk memulihkan tenaganya lagi. Setelah sepuluh menit, Riska beranjak keluar kamarnya. "Udah mateng semua, Bi?" tanya Riska sambil mendudukkan p****t di kursi yang ada di dapur. "Sebentar lagi, Neng." "Tolong masukin capcay sama tahu dan tempenya ke rantang, sekalian sama nasinya, Bi." Riska menyandarkan kepala di sandaran kursi. Matanya ia pejamkan. Rasanya benar-benar mengantuk, tetapi jika tidak sekarang dirinya memberikan makanan tersebut, maka makanannya akan mendingin dan menjadi kurang enak untuk dinikmati. Oleh karena itu, ia mencoba menahan rasa kantuknya. "Sudah Neng. Memangnya, ini buat siapa?" tanya Bi Arum penasaran. "Ustadz Rifki. Oh iya, Bi, jangan bilang-bilang, kalo yang masak itu Riska ya, Bi!" pintanya yang tak mau jika Kakek tahu bahwa cucu perempuannya pandai memasak. Riska mengambil alih rantang tersebut dan mengangkat kaki dari rumahnya. Sesuai informasi yang diketahuinya, Ustadz Rifki berada di masjid yang biasanya tengah melaksanakan sholat dhuha bersama yang lain. Mengingat, sekarang baru jam sembilan pagi. Senyuman terukir di wajah Riska, namun itu tak bisa menutupi jika dirinya merasa lelah. Dengan semangat ia mendekati Ustadz Rifki dan lainnya yang terduduk di teras masjid dengan sebuah kitab di tangan masing-masing. "Hai semua." sapa Riska tersenyum manis. "Assalamu'alaikum." ucap Ustadz Rifki menyindir. "Eh, iya, wa'alaikumussalam." Riska tercengir. Ia paham maksudnya. Semua mata memandang ke arah rantang yang dibawanya. Kecuali Ustadz Rifki yang masih fokus pada kitab ditangannya. "Ustadz, Riska udah masak khusus buat Ustadz loh. Bisa dibilang sih, ini pertama kalinya Riska masak buat orang. Diterima ya, Ustadz." ucapnya memohon. "Saya sudah makan." Seketika, raut wajahnya menjadi murung. Ia merasa rasa lelahnya hanya sia-sia belaka. Tetapi, Riska tetap menunjukkan senyumannya. Membuat mereka yang melihat, merasa tak enak hati. Mereka semua yakin, jika yang dikatakannya adalah kejujuran. "Ayo dong, Ustadz diterima. Riska udah capek-capek ikut Bi Arum ke pasar dan masak ini semua sendirian." bujuknya, tetapi tak merubah keputusan Ustadz Rifki yang menolak. "Terima aja, Rif. Kasian tuh Riska." "Hargain perjuangannya dong, Rif!" Riska menghela napas beratnya. Ia tak akan memaksa. Yang terpenting akan ada orang yang mau menikmati masakannya. "Nggak usah maksa Ustadz Rifki. Kalo nggak mau nggak papa. Daripada gue balik lagi bawa rantang berat ini, mending buat kalian. Tapi, dengan dua syarat." ucapnya berhasil mengalihkan pandangan Ustadz Rifki. "Apa syaratnya, Ris?" tanya Affan penasaran. "Pertama, jangan bilang siapa-siapa kalo gue yang masak. Kedua, kalian harus abisin masakan gue sekarang juga. Gue bakal pantengin kalian." ucapnya memberikan rantang tersebut pada salah satu dari mereka. Kemudian, mencari tempat yang sedikit jauh dan mendudukkan pantatnya di sana. Ia tersenyum saat mereka mulai menikmati masakannya dan terus memujinya. "Enak banget, sebelas dua belas-lah sama masakan di restoran kaki lima." puji Affan memakan lahap capcay buatannya. Bahkan, mereka sampai berebut. "Mana ada restoran kaki lima. Ada juga restoran bintang lima, Fan!" ralat Asep membenarkan penuturannya. "Siapa dulu dong, yang masak?!" seru Riska yang disahuti oleh mereka. "RISKA!!" Setelah itu, mereka semua tertawa. Kecuali seorang lelaki yang menatap datar ke arah rantang yang kosong. Semua isinya sudah ludes dimakan oleh sahabat-sahabatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN