"Makasih ya, Riska."
"Hatur nuhun."
"Makasih banyak, Ris."
"Thank you."
Semuanya mengucapkan terima kasih kepada Riska yang sama sekali tak dijawabnya.
"Halah, sok inggris kamu, Fan!" ledek Fatur pada Affan yang cengengesan.
Seorang gadis berjalan dengan kepala tertunduk. Tangannya menjinjing sebuah kantong kresek hitam. Riska menatapnya intens. Gadis itu pasti akan menghampiri calon suaminya, bukan, maksudnya Ustadz Rifki. Ia tak bisa membiarkannya begitu saja. Namun, dirinya ingin tahu lebih dulu, apa yang dibawa oleh gadis itu.
"Assalamu'alaikum..." ucapnya.
"Wa'alaikumussalam."
"Aya naon, Neng Fatma?" tanya Fatur kegirangan.
"Pasti cariin, A'a Galih ya, Neng!" seru Galih dengan percaya dirinya.
"Ini mah, pasti mau ketemu saya." ujar Asep sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bawa apa itu, Neng? Buat Akang ya?" tanya Affan menunjuk kresek yang dijinjingnya.
"Bukan. Saya ke sini karena ada perlu sama Ustadz Rifki." ucapnya membuat mereka kecewa. "Ini ada titipan oleh-oleh dari Bunda." Fatma memberikan kantong tersebut padanya.
Ustadz Rifki tak langsung menerimanya. "Oleh-oleh apa?" tanyanya dingin.
"Dodol dari Garut, Ustadz."
Srek
Sebuah tangan merebut kantong tersebut dari tangan Fatma. Siapa lagi, kalau bukan Riska?. Gadis itu menatap sengit ke arah Fatma. Ia tak akan membiarkan Ustadz Rifki menerima pemberiannya. Karena masakannya telah ditolak Ustadz Rifki. Jadi, agar adil, biar dirinya saja yang menerima oleh-oleh tersebut. Lagi pula, Fatma hanya mengatakan bahwa oleh-oleh itu hanya untuk Ustadz Rifki. Bukan untuk keluarganya juga, jadi tak masalah bukan, jika oleh-oleh berisi dodol itu untuknya?.
"Wiihhh, dodol, gue suka banget sama dodol. Apalagi dari Garut." pekik Riska mengambil satu buah dodol dari dalam kresek dan langsung memakannya. Semua orang tercengang akan apa yang dilakukannya.
"Tapi, itu 'kan buat Ustadz Rifki, bukan untuk kamu." sanggah Fatma yang tak rela.
"Sama aja. Ustadz Rifki itu calon suami gue." serunya dengan percaya diri.
Fatur menarik kerah Galih agar mendekat padanya. Sekarang, ia menemukan fakta tentang Riska. Yaitu, jika berbicara dengan Ustadz Rifki maka dirinya akan menggunakan nama. Jika kepada orang lain, dirinya menggunakan 'lo-gue'.
"Kalo ke Rifki aja kayak kucing, kalo ke yang lain kayak singa betina." timpal Galih padanya.
"Bener tuh, Gal!" ujar Fatur, kemudian mereka tertawa bersama.
Tanpa menyadari, jika orang yang dibicarakan tengah menatap tajam ke arah keduanya. Ia meremas bungkus dodol yang sudah habis dimakannya, kemudian melempar ke arah mereka.
Puk!
Tepat sasaran. Bungkus dodol berbentuk bulat itu mengenai kening Fatur. Galih langsung menatap si pelaku, ia menepuk pundak sahabatnya dan menunjuk ke arah Riska yang tengah berkacak pinggang.
"Lo berdua lagi ngomongin gue, ya?" terka Riska menunjuk mereka bergantian.
Fatur dan Galih menatap takut ke arahnya. Mereka menelan salivanya dengan susah payah.
"Ng-Nggak kok, Ris." ucap Fatur mengelak.
"Yakin?" Riska mengangkat sebelah alisnya.
Mereka mengangguk beberapa kali.
"Gue nggak percaya." Riska berjalan mendekati mereka berdua. Ia sangat yakin, jika keduanya memang tengah membicarakan dirinya. Terlihat jelas dari tatapan mereka yang tertuju padanya.
"Beneran!" bohong Galih sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Bohong dosa, loh!" ucap Riska mengingatkan. Ia tersenyum menyeringai yang terlihat mengerikan bagi mereka semua.
Riska mengalihkan pandangannya ke arah Ustadz Rifki yang masih fokus pada kitab di tangannya. Ia tersenyum sinis pada Fatma yang terdiam di tempat. Kemudian, Riska berjalan mendekatinya. Setibanya, ia mengibaskan tangan ke wajahnya. Cuaca hari ini cukup terik, padahal masih pagi.
"Nih, dodolnya gue balikin! Rasanya terlalu manis, bisa-bisa buat orang yang makannya sakit gigi." ujar Riska mengembalikan dodol itu kepada pemberinya.
"Ta-"
"Ambil, atau gue buang?!" ancamnya membuat Fatma langsung mengambil kembali buah tangan yang dikhususkan untuk lelaki yang didambakannya.
Fatma menatapnya intens. Kehadiran gadis kota itu telah membuat peluangnya semakin sempit untuk mendapatkan Ustadz Rifki. Sejak kecil, ia menaruh rasa pada lelaki itu. Namun, dirinya tak berani mengungkapkan karena takut ditolak. Mengingat, lelaki yang dicintainya itu sangat menjaga jarak dengan lawan jenisnya.
"Kalo gitu, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum." ucapnya mengundurkan diri.
"Wa'alaikumussalam." jawab mereka semua. Kecuali Riska yang menatap kepergiannya dengan tatapan sinis.
"Ustadz Rifki, kenapa diem aja sih? Nggak sapa Riska juga. Padahal 'kan, Riska udah capek jalan ke sini." rajuknya sambil mendudukkan pantatnya di tanah. Tak peduli jika pakaiannya akan kotor.
"Ya Allah, Riska, jangan duduk di tanah. Nanti baju kamu kotor." ucap Affan yang langsung mendapat tatapan tajam darinya.
"Mampus kamu, Fan!" gumam Asep meliriknya sekilas.
Ustadz Rifki menutup kitabnya, membuat Riska menyunggingkan sudut bibir. Riska duga, lelaki itu akan menghampirinya dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Namun, dugaannya salah. Ustadz Rifki malah masuk ke dalam masjid. Riska mencebik kesal dan mengalihkan pandangan ke arah Fatur dan Galih.
"Eh, lo berdua, ayo jujur, tadi ngomongin gue 'kan?" teriak Riska penuh amarah. Biasanya, ia akan langsung memberi pelajaran kepada orang yang berani membicarakannya. Tetapi, karena mereka berdua adalah kawan dari Ustadz Rifki, maka dirinya hanya akan menunggu pengakuan saja.
"Iya 'kan? Atau mau gue timpuk pake sendal mahal gue?" Riska melepas sandalnya dan berancang akan melemparnya kepada mereka berdua.
"Sendalnya swallow, Tur. Masa iya, mahal?" bisik Galih diakhiri tawa renyah.
Riska segera memakai sandalnya kembali saat Ustadz Rifki muncul dari dalam masjid dan bersandar di kusen pintu dengan bersedekap dadaa. Tampak begitu menggoyahkan iman seorang gadis yang menatapnya dengan senyum merekah.
"Ustadz, I Love You!" teriak Riska sambil memberikan flying kiss padanya.
Ustadz Rifki menatapnya datar dan langsung menundukkan pandangannya. Ia semakin merasa aneh dengan gadis itu. Yang tanpa malu menyatakan cinta padanya dan mengatakan dirinya adalah calon suaminya. Memang benar-benar tidak waras.
"Iih, kok nggak bales flying kiss-nya sih, Ustadz?" Riska mengerucutkan bibirnya. Ia menajamkan pendengarannya saat mendengar desas-desus suara yang tengah membicarakan dirinya. Napasnya memburu saat mengetahui orang yang telah membicarakannya, bahkan menertawakannya. Mereka adalah orang yang sama.
"Eh, lo berdua! Udah ketangkep basah ngomongin gue, malah sekarang ngomongin gue lagi, hah?!".
Riska bangkit dari duduknya. Ia berkacak pinggang seraya berjalan mendekati Fatur dan Galih yang tidak kapok membicarakan gadis yang terus mengejar sahabat mereka.
Seketika, wajah garang Riska berubah menjadi raut berpikir. Semua orang tampak bingung. Apakah, yang terjadi padanya?.
"Tapi nggak masalah sih, kalo lo berdua ngomongin gue. Karena nantinya, pahala lo berdua bakal pindah ke gue." ucap Riska yang berubah menjadi tak mempermasalahkan jika ada orang yang membicarakannya, setelah mengingat ceramah yang tak sengaja di dengarnya dari tontonan video ceramah Kakek. Semalam, Kakek memang mengajaknya untuk menonton ceramah di YouTube. Tetapi, Riska menolak dan lebih memilih menonton televisi. Karena Kakek menggunakan speaker bluetooth yang dihubungkan di ponsel miliknya, Riska pun mengalah dengan mematikan televisi dan berakhir mendengarkan ceramah tersebut. Sepertinya, Kakek memang sengaja agar dirinya mendengarkan ceramah.
"Itu sih, yang gue simpulin dari ceramah yang Kakek tonton. Kalo orang yang dighibahi akan mendapat pahala dari orang yang menggunjingnya."
Semua orang memandang takjub ke arahnya. Mereka tak menyangka, jika gadis kota bersedia mendengarkan sebuah ceramah. Meskipun, tidak secara langsung.
"Salah ya?" Riska menatap takut ke arah mereka semua. Pasalnya, ia sama sekali tak mengerti tentang agama.
"Itu benar." ucapnya tiba-tiba, membuat Riska tersenyum lebar.
Ustadz Rifki merogoh saku bajunya, setelah mendengar suara dering ponsel. Ia segera menerima panggilan dari kakak sepupu gadis di depannya. Entah, ada kepentingan apa yang membuat Revan tiba-tiba menelponnya.
"Assalamu'alaikum..."
"..."
"Ya sudah, nanti saya dan lain akan ke perkebunan."
"..."
"Iya, sama-sama."
Riska termenung setelah mendengar kata 'perkebunan'. Apakah yang dimaksud Ustadz Rifki adalah perkebunan milik Kakek. Mengingat, hanya ada satu perkebunan di desa ini, yaitu milik Kakek Tomo.
Ustadz Rifki menyampaikan amanah darinya kepada sahabatnya yang lain. Setelah sepakat, mereka beranjak menuju perkebunan.
"Kami akan pergi ke perkebunan, assalamu'alaikum." pamit Ustadz Rifki yang membuat Riska mendongak.
"Perkebunan Kakek?" tanya Riska menatap lekat manik mata Ustadz Rifki, tetapi lelaki itu terus menundukkan kepalanya.
"Ya iyalah! Di desa ini cuma ada satu perkebunan, yaitu milik Kakek Tomo." seru Fatur menatapnya sinis.
"Ya tau sih, gue 'kan cuma mastiin aja!" sewot Riska langsung berjalan meninggalkan semuanya.
Fatur dan Galih terlihat begitu tidak menyukainya. Tetapi tidak dengan Fatma. Semua sahabat lelaki yang dicintai Riska seolah berlomba-lomba menarik perhatian Fatma. Gadis yang sok lugu dan polos. Riska dapat merasakan seseorang itu baik atau tidaknya melalui tatapan mereka. Dan, ia menemukan dendam di dalam tatapannya. Ia juga merasa yakin, jika Fatma merasa tersaingi dan suatu hari nanti akan melakukan suatu hal terhadap dirinya.
"Riska, kamu mau kemana? Ke perkebunan itu belok kanan, bukan ke kiri." pekik Affan padanya.
Riska merasa malu setengah mati. Mengapa dirinya merasa sok tahu arah menuju perkebunan? Hingga akhirnya, ia mempermalukan diri sendiri.
"Belok ke kiri? Bukannya ke kanan?" tanya Riska yang berusaha mengusir rasa malunya.
Affan menggeleng. Riska menatap satu persatu mereka semua yang menahan tawa. Termasuk Ustadz Rifki yang sudah senyum-senyum menahan tawanya. Riska merasa kesal.
"Ketawa aja sampe tua!!" sarkas Riska membuat semuanya melepas tawa.
Setelah puas tertawa, mereka pun berjalan menuju perkebunan. Tak ada yang memulai pembicaraan, hingga membuat Riska bosan. Diam-diam, ia mencuri pandang pada Ustadz Rifki yang terus memasang wajah datar nan dinginnya.
"Pagi Bu, Pak, kenalin nama saya Riska! Kapan-kapan, saya boleh ya, numpang makan di rumah bapak atau ibu!!" teriak Riska dengan senyum lebar pada para petani yang tengah menanam pagi.
"Boleh atuh, Neng." jawab seorang pria paruh baya yang membuat Riska berjingkrak kegirangan.
Ustadz Rifki dan sahabatnya menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu.
Riska berjalan lebih dulu meninggalkan mereka. Sesekali, ia merentangkan kedua tangan dan memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Ia juga memutar tubuhnya. Tanpa menyadari, jika dirinya hampir saja terserempet motor karena matanya yang terpejam.
"Astaghfirullah, hampura atuh, Neng, Ustadz. Saya lagi buru-buru." ucap si pengendara setelah memberhentikan motornya dan menoleh pada mereka yang masih belum sadar akan apa yang terjadi. Riska mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian menoleh pada lelaki yang entah kapan sudah berada di sampingnya.
"Iya Kang."
Si pengendara pun melajukan motornya. Affan segera berlari menghampiri Riska dan Ustadz Rifki.
"Riska, kamu nggak papa?" tanya Affan khawatir.
"Emangnya gue kenapa?" tanya Riska polos.
"Kamu hampir keserempet motor, kalo nggak cepet ditarik sama Rifki. Makanya, kamu itu nggak usah muter-muter di jalan, sambil merem lagi." ucap Fatur menatapnya intens.
"Katanya orang kota, kok keliatan ndeso!" cibir Galih.
Riska menatap tajam ke arah mereka yang selalu saja mencari masalah dengannya. Dalam diamnya, Riska masih mencerna perkataan mereka dan mencoba mengingat yang terjadi padanya. Kejadian tadi, begitu cepat terjadi. Bahkan, dirinya sampai tak sadar, jika ada seseorang yang menarik tangannya.
"Sudah. Lanjut jalan."
Riska pun mengikuti langkah lelaki yang telah menolongnya. Ia merasa, jika mereka semua sangat tidak menyukai dirinya. Kecuali, Affan.
"Fan, emang tadi Ustadz Rifki nyelamatin gue?" tanya Riska berbisik. Kebetulan, Affan berada di sebelahnya. Mereka berjalan beriringan, dan di depannya ada Ustadz Rifki yang memimpin jalan.
"Iya." jawabnya.
Riska mengangguk beberapa kali. Kemudian, ia berlari agar bisa berjalan beriringan dengannya. Ustadz Rifki melirik sekilas gadis yang tersenyum manis padanya.
"Ustadz Rifki, makasih ya? Tadi emang salah Riska kok. Riska yang nggak hati-hati. Tapi, gimana ya, Riska itu baru pertama kali ke desa. Jadi, ya Riska ngerasa bahagia gitu, bisa ngerasain udara yang masih asri tanpa polusi. Nggak kayak di Jakarta. Pokoknya, tinggal di desa bisa buat hati Riska terasa nyaman. Ya, meskipun, capek sih. Karena kemana-mana kebanyakan jalan kaki. Percuma aja, Kakek punya motor sama mobil. Kalo kemana-mana pake kaki." celoteh Riska.
Riska masih setia dengan celotehannya. Tanpa disadari, seseorang mengulum senyum. Gadis itu terlihat menggemaskan jika banyak bicara seperti ini. Berbeda dengan yang lainnya, mereka merasa telinganya terasa panas akibat celotehan tak bermutu yang keluar dari mulutnya.
"Ih, kok pada diem aja?" Riska mengerucutkan bibir. Kemudian, berjalan dengan menghentakkan kakinya di tanah.
"Itu si Riska ngambek?" gumam Affan mengerutkan keningnya melihat tingkah gadis itu.
Riska membalikkan tubuhnya. Ia berkacak pinggang pada Ustadz Rifki yang berjalan menuju dirinya. Karena tadi, ia jalan lebih dulu meninggalkan mereka.
"Ustadz, kenapa sih, Ustadz Rifki nggak pernah senyum ke Riska?" protes Riska yang ingin melihat senyumnya.
"Senyum itu 'kan ibadah murah meriah, kata temen-temen Riska sih. Soalnya dulu, Riska jarang senyum kayak Ustadz dan mereka sering ngomelin Riska gitu. Jadi sekarang, Riska yang ngomelin Ustadz Rifki." celotehnya lagi.
"Terus juga, Ustadz, senyum itu bisa buat awet muda. Sayang banget, muka ganteng tapi selalu pasang wajah datar sama dingin kayak gitu!"
Ustadz Rifki menatapnya intens. "Kamu ngejek saya?" ucapnya yang tak terima dikatakan selalu memasang wajah datar dan dingin. Namun, kenyataannya memang seperti itu.
"Nggak kok, Ustadz. Riska nggak maksud gitu." Riska kelabakan.
"Maksud Riska itu, Ustadz harus senyum kalo ketemu Riska. Dari sejak awal kita ketemu juga, Ustadz kalo senyum pas Riska sama orang lain. Riska itu mau ngerasain disenyumin sama Ustadz Rifki aja, kok." tuturnya lembut.
Fatur dan Galih menarik tangan sahabatnya sedikit menjauh dari gadis itu. Telinga mereka terasa sangat sakit karena Riska yang banyak bicara. Oleh karena itu, mereka akan meminta Ustadz Rifki untuk menurutinya. Dan berharap, Riska tak banyak bicara lagi.
"Rif, udahlah, turutin aja si Riska. Telinga saya sakit karena dia yang terus bicara." ucap Fatur memaksa.
"Iya Rif. Apa salahnya kamu senyum pada Riska. Gadis itu benar-benar tergila-gila sama kamu." ujar Galih mencuri pandang pada Riska yang menatap ke arah mereka.
Ustadz Rifki menghela napas. Bukan hanya mereka berdua yang merasa telinganya terasa sakit. Ia pun sama.
"Ya sudah."
Mereka menghampiri Riska yang menatap ketiganya dengan tatapan menelisik.
"Riska, kamu mau lihat senyumnya Rifki 'kan?" tanya Galih yang langsung diangguki olehnya.
"Tapi dengan satu syarat, berhenti bicara banyak. Telinga kami rasanya sakit mendengar celotehan mu." ucap Fatur yang berhasil membuatnya naik pitam. Tetapi, karena deheman Ustadz Rifki, membuat amarah Riska meredam.
"Oke. Sekarang, Ustadz Rifki senyum manis ke Riska. Jangan lupa sampe lesung pipinya keliatan."
Ustadz Rifki mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Sedikit demi sedikit, ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman yang begitu sempurna.
"Ustadz Rifki kok, bisa ada lesung pipinya sih?" tanya Riska menatap polos ke arahnya.
"Kamu mau tau, Ris?"
Riska mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke pada Fatur.
"Tanya aja ibunya." celetuk Fatur membuat Riska memutar bola matanya jengah.
"Setau saya sih, sewaktu bayi pipinya itu ditusuk pake ujungnya cabe." ucap Asep sambil memegangi dagunya.
"Masa cabe? Nanti debaynya ngerasa panas dong?"
"Bisa pake bawang merah juga." cetus Affan.
"Ya udah deh, nanti gue praktekkin setelah buat anak sama Ustadz Rifki." Tersadar, jika ucapannya begitu ambigu. Riska segera mengoreksinya. "Eh, nggak, maksudnya, setelah gue ngelahirin anak gue sama Ustadz Rifki." ralatnya.