Kunyahan Riska terhenti saat melihat kakak sepupunya datang dengan wajah lesu. Segera, ia meletakkan makanan ringannya di atas meja. Kemudian, bangkit menghampirinya. "Kenapa, Bang?" Riska mengerutkan keningnya. Ia penasaran dengan hal yang membuat Revan seperti itu. Revan mendudukkan pantatnya di sofa. Ia mengusap kasar rambutnya. Tatapannya lurus ke depan. Mengingat, kejadian yang baru terjadi di dalam persahabatan mereka. Dirinya jelas tahu, penyebab Affan yang kehilangan kendali seperti tadi. Karena sejak awal, ia sudah menduga, jika sahabatnya memiliki rasa pada adik sepupunya. "Riska, mending lo berhenti ngejar-ngejar Rifki." tuturnya membuat Riska mendelik. "Eh, apa-apaan, lo Bang?! Main suruh gue berhenti aja!!" pekik Riska tak terima. Ia menatap tajam ke arahnya. Revan me

