Saat keadaan seperti ini, aku teringat Mas Evin dan almarhum Mama. Ah, aku ingin mudik untuk menenangkan diri. Aku ingin berkeluh kesah pada Mas Evin. “Citya, udah sore ini, aku waktunya jemput Cika dari TPQ. Emmm, kamu nggak apa-apa, aku tinggal?” Pertanyaan Hesti membuyarkan lamunanku. “Eh, iya, Hesti. Nggak apa-apa, ada Bi Ijah, kok.” Aku mencoba tersenyum pada Hesti. “Maafin aku, ya? Harusnya aku selalu di sampingmu saat keadaanmu kayak gini.” Wajah Hesti seperti merasa bersalah. “Nggak apa-apa Hesti, aku cuma pusing saja, kok. Banyak pikiran mungkin.” Aku tertawa kecil. “Udah, kamu nggak usah banyak pikiran dulu. Nanti aja kalau Althan udah pulang, kalian bicarakan baik-baik. Kamu tanya apa mau Althan. Ingat jangan pakai emosi, ya?” Hesti mengusap pundakku lemb

