Sesuatu Yang Mengagetkan

1256 Kata

Aku terdiam cukup lama. Tak tahu harus menjawab apa. Aku diam untuk menunggu kata-kata Papa lagi.   “Gimana Citya? Kamu pilih mana? Mundur atau rela dimadu?” tanya Papa lagi.   Aku menghela napas dalam.   “Maaf, Pa. Citya nggak bisa memilih.” Akhirnya, itulah yang keluar dari mulutku.   “Citya jangan keras kepala kamu!” sentak Papa lagi.   “Pa ... maaf sebelumnya kalau Citya lancang, tapi kami udah punya anak. Dan nggak mungkin kami ngorbanin anak kami, Pa. Kasihan Serkan kalau kami berpisah.” Aku berkata dengan nada selembut mungkin. Ya, walaupun dalam hati teramat sedih dan tersinggung dengan kata-kata Papa.   “Emmm, Papa nggak pengen lihat cucu Papa?” tanyaku memberanikan diri.   “Nggak perlu! Nggak usah cari muka di depan saya Citya!” Papa menatapku tajam saat aku mendong

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN