Sidang Perceraian Pertama

1695 Kata

Ah, Reza masih sama seperti dulu. Selalu bisa membuat suasana mencair. Padahal lama tak pernah berjumpa. Tak pernah menyangka jika Rara adalah putri teman semasa SMA dulu. Aku tadi hanya kasihan karena melihat gadi sekecil itu berdiri sendiri di depan gerbang sekolah. Aku hanya takut kalau sampai dia dibawa orang jahat, kan, kasihan. Reza pun menawarkan memberi tumpangan, tapi aku menolaknya. Jalur rumah kami tidak searah. Akan tetapi, Rara memaksa. Padahal sudah kujelaskan jika aku bersama Hesti dan Hesti membawa mobil. Akhirnya, Reza pun menjelaskan pada Rara, dan Rara pun mengerti. “Ya, udah aku duluan, ya, Za?” pamitku pada Reza. Lalu, aku mengajak Hesti untuk pergi. Namun, Reza memanggilku, dan aku pun menoleh. “Emmm, boleh aku minta nomor HP kamu?” tanya Reza padaku. “Uda

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN