Sidang Kedua

1748 Kata

Setelah sidang pertama waktu itu, aku masih belum begitu tenang. Althan masih terus berusaha menghubungi aku, bahkan dia tidak segan-segan datang ke kosanku malam-malam. Aku sampai dimarahi teman-teman kosan yang merasa terganggu dengan gedoran Althan di gerbang. “Cowok kamu itu laranglah kalau ke sini malam-malam. Kita ini mau istirahat, ganggu aja!” sewot salah satu tetangga kamar kosanku. “Maaf, Mbak, dia bukan cowok aku. Maaf, ya, biar aku usir dia.” Aku pun langsung pergi keluar. “Akhirnya, kamu keluar juga Cit.” Althan tersenyum menatapku. “Althan kamu ngapain, sih, masih ganggu aku! Pergi dari sini! Kamu ganggu teman-teman aku!” sentakku. “Citya, aku mohon, pulang, ya?” pinta Althan. “Nggak! Aku udah ngajuin gugatan cerai! Sebentar lagi kita akan resmi berpisah!” sentakku. A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN