Setelah panggilan telepon berakhir, aku menarik napas dalam. Benar-benar kejadian yang sama sekali tak terduga. Ustaz Abyan bersikeras ingin melamarku. Mama dan Papa datang untuk meminta maaf padaku. Sungguh semua terjadi begitu cepat membuatku sangat pusing. Aku berdiri dan melangkah menuju balkon kamar, aku berdiri di sana. Tak peduli hawa dingin yang menusuk hingga tulang sumsum. Aku menatap bulan yang menggantung di langit. Bulan pun seakan tersenyum mengejekku. “Bulan kenapa nasibku harus seperti ini? Kenapa begitu banyak cobaan menerpa hidupku? Kepada siapa aku harus mengeluh dan mengadu?” Aku terus menatap bulan yang sedang tersenyum mengejekku. Aku menghela napas dalam. Untuk beberapa saat aku menatap bulan, tanpa peduli hawa dingin yang begitu menusuk. Saat aku melihat ponsel te

