Trauma

1709 Kata

“Citya, hanya kamu obat untuk Althan. Kata dokternya pun seperti itu. Kamu obatnya. Kamu harus datang ke sana untuk memberi dukungan dan semangat pada Althan. Hanya kamu satu-satunya obat untuk Althan.” Mama mendekat ke arahku dan duduk di sampingku. Lalu, Mama menggenggam jemariku dengan erat. “Mau ya ikut ke Jakarta sekarang?” lanjut Mama masih dengan meremas jemariku. Aku menghela napas dalam. Aku masih harus berpikir. Ya, aku memang sudah memaafkan Althan apalagi setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, untuk ikut ke Jakarta aku belum siap. Entahlah, aku belum siap bertemu dengan Althan. Dan sepertinya Mama dan Papa juga sesekali perlu diberi pelajaran. Supaya tidak melakukan hal sesuka hatinya tanpa memikirkan dampak masa depannya. Setelah mendengar cerita Papa dan Mama,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN