“Iya Cit. Nggak apa-apa. Hati memang nggak bisa dipaksa. Dan aku juga nggak punya hak untuk memaksamu mau menikah denganku. Mungkin memang lebih baik aku fokus membesarkan dan menyayangi Vilia. Mungkin juga Sinta nggak ikhlas kalau aku menikah lagi.” Mas Evin tersenyum padaku. Walaupun bisa kulihat dari sorot matanya ada kekecewaan luar biasa di matanya. Pasalnya ini kali kedua aku menolaknya. Namun, memang hati tak bisa dipaksa. Kali kedua aku melihat Mas Evin tersenyum karena tersakiti olehku. Lagi, aku menyesal telah menyakiti, tapi aku bisa apa. Hati tak bisa dipaksa. Aku juga tak bisa menerima Mas Evin karena kasihan. Kulihat dia menghela napas dalam. “Maafin aku Cit, kalau udah bikin kamu risih karena selalu meminta jawabanmu terkait permintaanku. Maafin aku kalau bikin kamu tert

