Setelah selesai sarapan, Althan mau meminum obat. Biasanya harus dengan dipaksa. Sesudah minum obat, Mbak Ratih pun berpamitan untuk meninggalkan kami. Althan sudah bisa ditangani, tidak mengamuk lagi. “Mbak, saya tinggal kalau gitu, ya?” ucap Mbak Ratih. “Iya, Mbak, silakan. Biar Althan sama saya dulu.” Aku tersenyum pada Mbak Ratih. “Nanti sore kalau Mbak mau pulang, cari saya saja di ruangan perawat, di depan.” Mbak Ratih berkata dengan ramah. “Iya, Mbak,” jawabku. Lalu, Mbak Ratih pun meninggalkan kami. Selepas kepergian Mbak Ratih, aku hanya berdua dengan Althan. Aku prihatin melihat keadaan Althan. Dia tak berhenti tertawa dan bicara sendiri. Dan yang paling miris dia juga menyebut nama Serkan. Ya Allah ... perasaan yang ada di Althan sebelum kami bercerai. Dan dia masih in

