Tak berapa lama, sampailah kami di rumah Mas Evin. Aku segera turun dari mobil dan lebih dulu masuk ke rumah. Lalu, aku menuju ruang tengah, Vilia bermain di sana bersama Mbak Ningsih. Saat mengetahui aku datang, dia langsung menoleh dan tersenyum lebar. “Hore, Tante Citya udah datang.” Vilia berdiri dan hendak berlari ke arahku. “Mbak Vilia jangan lari-lari, baru sembuh, kok,” larang Mbak Ningsih, tapi Vilia tidak peduli. Aku langsung mendekapnya dengan erat. Saat memeluk Vilia rasanya begitu damai, aku seperti sedang memeluk Serkan. Ah, andai Serkan masih hidup, sekarang dia sudah berusia satu tahun. Aku kembali meneteskan air mata. Vilia juga enggan melepas pelukannya. “Tante, jangan pulang, ya? Tidur di sini temani Vilia. Vilia kangen Mama,” ucap Vilia sambil terisak. Aku mengura

