Malam semakin larut, tapi aku belum bisa tidur. Aku hanya diam menatap langit-langit kamar Vilia. Sesekali aku menoleh pada gadis kecil itu. Dia tertidur begitu pulas. Kata-kata Mas Evin dan Vilia terus terngiang di telinga. “Tante mau nggak jadi Mama Vilia?” “Kamu mau jadi mamanya Vilia?” Aku benar-benar bingung. Aku tidak bisa menuruti apa yang mereka inginkan. Kalau sekadar membantu merawat dan menjaga Vilia tentu aku mau. Namun, kalau harus menjadi mamanya Vilia dan harus menikah dengan Mas Evin, sepertinya aku tidak bisa. Kemudian, ponselku bergetar. Terdapat notif WA dan ketika aku membukanya ternyata dari Mas Evin. [Citya, kok, belum tidur?] tanya Mas Evin. Aku hanya membaca, tanpa berniat membalas. Kemudian, meletakkan ponselku di meja

