Kehilangan

1454 Kata
Hari ini aku berangkat mengajar agak siang. Althan sudah dari tadi pagi. Namun, tiba-tiba aku merasakan sakit yang sangat hebat di perut bagian bawah. Terasa sangat nyeri, punggung pun nyeri. Aku semakin panik saat melihat ada aliran darah menetes di kaki. Astaga, ada apa ini? Semoga saja kandunganku baik-baik saja.   Aku segera merogoh ponsel di dalam tas untuk menghubungi Althan. Namun, tak ada jawaban. Mungkin Althan sibuk. Tanpa pikir panjang aku menelepon taksi online. Aku duduk sambil bersandar di sofa dengan merasakan sakit yang semakin menjadi. Darah terus mengalir. Tak lama kemudian, taksi datang dan segera membawaku ke rumah sakit terdekat.   Tiba di rumah sakit, aku langsung dibawa ke UGD. Aku langsung memberi tahu apa yang terjadi. Dokter segera melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk melihat kondisi janin di dalam rahimku.   Setelah diperiksa ternyata memang janin di dalam rahimku tidak terselamatkan. Karena mengalami perdarahan yang hebat. Saat mendengar kabar tersebut, dunia seolah-olah runtuh. Aku sangat terpukul. Lalu, bagaimana dengan Althan? Pasti dia sangat kecewa. Althan sangat menginginkan hadirnya seorang malaikat kecil dalam rumah tangga kami.   “Ibu yang tabah dan ikhlas, ya. Masih belum rezeki Ibu.” Dokter perempuan paruh baya menguatkanku.   Aku hanya mengangguk lemah. Meskipun rasanya sangat terpukul, tapi aku memang harus menerima semua ini. Entah kenapa langit tega mengambil kebahagiaanku lagi. Aku menarik napas dalam.   “Apa perlu dilakukan kuret, Dok? Lalu kenapa bisa mengalami keguguran semacam ini?” tanyaku dengan suara yang sangat lirih.   “Keguguran ini bisa terjadi karena banyak faktor, Bu. Di antaranya adanya kelainan genetik pada janin. Hal ini bisa karena faktor keturunan atau kelainan pada sel telur atau s****a yang membentuk si janin, diabetes gestasional atau kencing manis pada saat hamil, terjadinya infeksi, resiko darah kental pada ibu hamil, hormon kehamilan yang tidak seimbang, gangguan kelenjar tiroid dan gangguan pada rahim. Serta kondisi psikis yang tidak stabil, terlalu capek dan banyak pikiran. Kalau dilihat dari hasil tes, sepertinya ibu terlalu capek dan banyak pikiran serta kondisi rahim yang lemah. Apa beberapa ini ada sesuatu yang terjadi dengan Ibu?” Dokter perempuan itu bertanya sambil menatapku lekat.   “Memang selama satu minggu terakhir ini, saya banyak kegiatan, Dok. Jadwal mengajar padat dan kalau malam tidur terlalu larut karena menunggu suami pulang dari kantor.” Aku mengatakan yang sebenarnya.   Terlihat dokter mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau gitu kita lihat lagi kondisinya, ya, Bu? Apakah sudah bersih atau masih ada sisa jaringan janin di dalam rahim.”   Aku mengangguk tanda setuju. Lalu, diperiksalah kondisi dalam rahimku.   Setelah diperiksa ternyata memang harus dilakukan tindakan kuret karena masih ada sisa jaringan janin yang tertinggal di dalam rahim. Supaya tidak ada infeksi dan gangguan pada rahim di waktu yang akan datang. Serta organ reproduksi bisa pulih dengan cepat.   Kemudian, aku di bawa ke ruang operasi dan berbaring telentang di meja operasi. Terlihat dokter memasukkan alat yang disebut spekulum, lalu memasukkan sejenis alat lagi yang entah apa namanya. Namun, aku tidak merasakan sakit apa pun karena sudah dibius. Mungkin menjalani secar seperti ini.   Setelah melakukan kuret, aku terbaring lemah di ruang rawat. Hanya agar dokter bisa memantau kondisiku. Takut terjadi pendarahan atau ada komplikasi lain pasca kuret. Beberapa jam itu juga digunakan untuk memulihkan fisik akibat efek anestesi.   Lewat tengah hari, Althan tiba di RS. Tampak wajahnya sangat panik dan merasa bersalah.   “Sayang. Maafkan aku, ya. Nggak ada di saat kamu membutuhkan.” Althan mencium keningku.   “Nggak apa-apa, Sayang. Kamu, kan, lagi sibuk. Aku yang seharusnya minta maaf, karena nggak mampu menjaga calon bayi kita.” Pecah sudah air mata yang aku tahan dari tadi.   Entah, apa lagi rencana langit untukku. Cobaan selalu saja datang. Kamu tahu rasanya kehilangan? Rasanya itu nyesek banget. Apalagi kehilangan buah hati yang bahkan kita belum sempat menimang dan melihat rupanya.   “Seharusnya aku mendengarkan apa yang kamu katakan, Sayang … nggak perlu menunggu kepulanganmu dan tidur lebih cepat. Seharusnya aku bisa menjaga calon bayi kita.” Aku semakin tergugu.   Althan mencium keningku lembut dan mengusap sudut mata yang penuh air mata.   “Sudah, jangan menangis. Kamu nggak bersalah. Memang belum rezeki. Nanti kita buat lagi.” Althan tersenyum menggoda.   Aku menatap Althan. Meskipun dia terlihat tenang dan ikhlas, aku yakin pasti sangat kehilangan dan merasakan kesedihan yang dalam. Maafkan aku Althan.   Althan menggenggam erat tanganku. Mencium kening dengan penuh kasih sayang.   “Apa yang kamu rasakan sekarang, Yang?” tanya Althan.   Aku menggeleng lemah. “Nggak ada. Hanya sedikit mual dan pusing serta tenggorokan sakit. Tapi, kata dokter wajar, kok. Nanti bisa sembuh dengan sendiri.”   “Sayang … aku benar-benar minta maaf telah mengecewakanmu.” Aku berbicara dengan bibir bergetar.   Althan meletakkan jari telunjuknya di bibirku, “Ssttt. Jangan minta maaf terus. Kamu nggak salah, Sayang,” ucap Althan. “Sekarang kamu istirahat aja, ya.” Althan mencium pipiku.   Aku mengangguk kemudian memejamkan mata. Aku mencoba untuk tidur, agar bisa menghilangkan kesedihan yang menimpaku. Namun, sulit sekali rasanya untuk tidur dengan nyenyak. Napasku terasa sesak karena rasanya tak percaya dengan musibah yang menimpaku ini. Aku menarik napas dalam. Lalu, terasa Althan mengusap keningku dan menciumnya dengan lembut.   “Maafkan aku, Yang. Aku nggak bisa ngejaga kamu. Kamu harus menanggung semua ini.” Suara Althan terdengar bergetar. Hatiku meringis mendengar kata-kata Althan. Aku tetap pura-pura tidur tak mau Althan tahu kalau aku mendengar suaranya. Lalu, aku pun memutuskan untuk benar-benar tidur.   ***     Menjelang sore, mama mertua datang menjenguk. Beliau tampak khawatir.   “Kenapa kamu nggak menelepon Mama,  Nak?”   “Maaf, Ma. Citya nggak mau merepotkan,” ucapku sambil tersenyum.   “Besok sebaiknya pulang ke rumah Mama dulu, ya? Sampai kondisi kamu benar-benar pulih. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama kamu.”   “Nggak Ma. Citya baik-baik aja, kok. Mama nggak usah khawatir.”   Keesokan paginya aku merasa sudah membaik. Tidak merasa pusing dan mual. Akhirnya dokter mengizinkan pulang. Sebelum pulang dokter menyarankan supaya aku beristirahat total selama 2-3 hari. Tidak boleh beraktivitas berat.   Sampai di apartemen, Althan benar-benar memperlakukanku seperti seorang putri. Tidak boleh beranjak dari kamar. Semua dilayani olehnya. Aku merasa tidak enak. Bosan di kamar terus. Bayangkan selama dua hari tidak diizinkan keluar kamar. Sudah seperti orang yang di penjara saja. Ingin sekali pergi jalan-jalan.   “Aku bosan berdiam diri di kamar terus.” Aku berkata dengan nada manja.   “Iya. Besok pagi kita jalan-jalan. Sekarang istirahat dulu.” Althan mencium kedua pipiku.Aku tersipu malu. Pipi pasti sudah sangat merah merona seperti tomat.   “Sayang. Mulai sekarang kamu nggak usah kerja lagi, ya. Aku udah mengurus surat pengunduran diri.”   Mataku membulat tidak percaya. “Kenapa harus berhenti kerja?” tanyaku.   “Aku nggak mau kamu kecapean. Katanya pingin punya anak lagi? Jadi, ya nggak boleh terlalu capek.” Althan menggodaku.   “Iya. Kali ini aku nurut sama kamu.”   “Nah gitu dong. Harus nurut memang sama suami.”   Aku pun menenggelamkan kepala di d**a bidang Althan. Malu, bahagia dan entah apalagi. Althan mengusap-usap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Merasa sangat nyaman rasanya. Hingga akhirnya tertidur dalam pelukannya.         ***         Esok paginya Althan menepati janji semalam, mengajakku pergi jalan-jalan. Berkeliling Ibu kota. Menyusuri tiap jalanan Ibukota. Walaupun jalanan padat, tapi aku menikmatinya. Karena sudah tiga hari tidak keluar dari apartemen. Dengan jalan-jalan berharap bisa melupakan kesedihan karena kehilangan calon buah hati.   Aku menatap Althan, merasa sangat bersalah. Dia pasti sangat terpukul dan kecewa, meskipun di luar kelihatan baik-baik saja.   Althan menoleh. “Kenapa menatapku sampai segitunya, sih? Kamu terpesona, ya sama wajahku yang ganteng ini?” Althan terkekeh.   “Maafkan aku, ya?” Aku menatap wajah Althan sedih.   “Kamu ngomong apa, sih? Kan aku sudah berulang kali bilang, jangan minta maaf terus. Kamu nggak salah, Sayang.” Althan mengelus kepalaku lembut.   Aku pun terdiam, tak tahu harus bagaimana lagi. Mengalihkan pandangan ke luar jendela.   Ketika melewati sebuah butik muslimah, aku tertarik dan ingin sekali membeli baju muslimah. Rasanya sangat cantik. Membayangkan diriku memakai baju muslimah serta kepala dibalut hijab yang cantik. Apakah tidak terlambat untuk merubah penampilan?   “Sayang. Ayo putar balik. Kita kembali ke butik muslimah yang di ujung jalan sana.” Aku menepuk lengan Althan.   Althan menoleh heran. “Mau ngapain ke butik muslimah?” tanyanya heran.   “Mau beli baju muslimah dan hijab dong. Ayo.” Aku merengek.   “Iya, iya bentar. Cari jalan untuk putar balik. Tapi kamu tuh mungil, mana pantas pakai gamis?” Althan terkekeh.   “Yey. Kan sekarang banyak baju muslimah kekinian, yang.” Aku mengerucutkan bibir.   Althan terbahak. “Nggak usah cemberut gitu. Jelek tahu,” ucap Althan.   Aku membuang muka. Melihat keluar jendela mobil.   Aku merasa sudah saatnya mengubah diri menjadi lebih baik. Berhijrah ke jalan Allah. Mungkin cobaan bertubi-tubi yang datang padaku adalah bentuk teguran Yang Maha Kuasa. Karena selama ini jauh darinya. Meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslimah. Aku menarik napas panjang. Oh Allah … izinkan hamba untuk kembali ke jalan-Mu. ***  Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN