Kehilangan Lagi

1426 Kata
Setelah masuk ke butik, aku langsung memilih baju yang cocok dan pas untukku. Ada banyak pilihan baju-baju muslimah yang syar’i, tapi tetap fashionable. Model bajunya juga mengikuti trend model yang up to date. Aku sampai bingung memilih yang mana. Setelah menemukan busana yang pas dan cocok, kami pun langsung pulang. Untuk saat ini, aku masih memilih baju muslim yang casual. Aku memang bertekad untuk berhijrah. Menutup aurat jika keluar rumah, hanya memperlihatkan kepada Althan, suamiku. Mungkin inilah cara Allah membukakan pintu hatiku, memberikan hidayah dengan mengambil calon bayi kami. Oh, Allah … maafkan hamba jika selama ini telah jauh dari-Mu. Hamba pernah tidak percaya akan kehadiran-Mu, bahkan membenci-Mu. Aku mendesah pelan. “Sayang … kamu kenapa tiba-tiba ingin mengubah penampilan?” tanya Althan sambil menyaksikan gemerlapnya Ibu kota dari apartemen. “Selama ini kita sudah jauh dari Allah, nggak pernah dekat dengan-Nya. Menginjakkan kaki di masjid saja hanya lebaran, kan? Sholat juga hanya tarawih dan saat Idhul Fitri aja, kan?” Althan menatapku dan memintaku menjelaskan lebih detail. “Bagaimana mungkin kita bisa mendidik anak-anak kita, jika diri kita masih berlumuran dosa? Sedangkan orang tua adalah madrasatul ulla buat anak-anak. Aku ingin kita memperbaiki diri dulu, insyaallah jika Allah menghendaki maka kita pasti akan diberi amanah seorang malaikat kecil.” Aku tersenyum menatap Althan. Althan pun mencium keningku. Matanya tampak berkaca-kaca dan meluncurlah cairan bening satu per satu. Baru sekali ini aku melihatnya menangis. “Iya, Sayang. Kita belajar bersama menuju jalan yang lurus. Selama ini kita memang jauh dari Yang Mahakuasa. Mulai sekarang kita harus bisa berhijrah menuju jalan yang lebih baik lagi.”Althan merengkuhku dalam pelukan. Malam ini untuk pertama kalinya, kami bersujud pada illahi setelah sekian lama tidak pernah menghadap pada Allah. Aku menangis, memohon ampunan. Setelah sekian lama kami melupakan-Nya. Terima kasih Ya Allah atas semua cobaan dan ujian yang Engkau berikan. Sehingga mampu mengetuk pintu hati kami. Hatiku terasa lebih lega setelah bersujud dan mengadu kepada Yang Mahakuasa. Aku mencium tangan Althan, lalu memeluknya. Belajar dan berjalan bersama menuju surga. *** Pagi ini, kami berniat pergi ke Malang. Kami naik pesawat, supaya bisa sampai dengan cepat. Kami sengaja datang ke Malang untuk mengunjungi Mama dan menghadiri acara pernikahan Mas Evin. Ya, akhirnya dia telah menemukan tambatan hati dan cinta sejatinya. Aku sangat bersyukur. Semoga dia bahagia selamanya. Seorang yang selalu menjagaku dari kecil. Alhamdulillah kami tiba tepat waktu. Hanya saja kami tidak bisa hadir tepat acara ijab kabul. Dikarenakan memang jarak yang lumayan jauh dari Ibu kota. Mas Evin tampak sangat gagah. Memakai celana hitam, kemeja berwarna putih, dan jas berwarna hitam. Dia berdiri di samping seorang wanita cantik dengan tinggi semampai berkulit sawo matang, yang memakai baju pengantin muslimah berwarna putih. Sungguh pasangan yang sangat serasi. “Selamat menempuh hidup baru, Mas. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga selalu berada dalam lindungan Allah.” Aku tersenyum lalu mencium tangan Mas Evin. Mas Evin menangis haru. Tangis bahagia. Lalu, aku memeluk istri Mas Evin. “Semoga bahagia, ya, Mbak. Mbak sangat cantik, cocok sama Mas Evin.” Aku memeluknya. Pesta pernikahan yang sederhana, tapi sangat berkesan. “Aku senang karena akhirnya kamu kembali seperti dulu, Citya.” Mas Evin menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku hanya terdiam, lalu tersenyum tipis. “Makasih, Althan kamu berhasil membawa Citya kembali ke jalan-Nya.” Mas Evin menatap Althan sambil tersenyum. “Semua ini bukan karena aku Mas, tapi memang atas dasar keinginan Citya sendiri,” ucap Althan. “Apa pun itu semoga Citya tetap istikamah.” Mas Evin tersenyum. Aku dan Althan hanya mengangguk. “Doanya saja Mas,” ucapku. Kemudian, Mas Evin menyuruh kami untuk menikmati hidangan yang ada. Aku dan Althan pun melangkah menuju tempat makan dan menikmati hidangan yang disediakan. “Citya … aku dengar kabar katanya kamu keguguran, ya?” tanya Mas Evin yang tiba-tiba sudah ada di samping kami. Aku menoleh. “Iya, Mas. Belum rezeki kami. Sekarang masih usaha, tapi belum juga berhasil.” Aku terkekeh. “Althan jangan sering lembur, biar cepat jadi.” Lalu, kami semua tergelak. Kebersamaan yang sangat kurindukan. Kami pun ikut acara foto bersama. Setelah semua selesai, aku pun pulang ke rumah Mama, untuk mengunjungi Mama. Aku merindukan Mama. Ingin sekali memboyong Mama ke Jakarta, tetapi Mama selalu saja menolak. Mama tidak ingin meninggalkan kota tercinta ini. Tempat yang penuh kenangan. Mama datang saat acara ijab kabul Mas Evin tadi, lalu pulang tanpa menunggu kedatanganku. Tiba di rumah Mama, kami segera beristirahat. Ketika memasuki kamar, aku melihat sekeliling masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Kamar terlihat masih rapi, Mama selalu merawat dan merapikan kamarku meskipun tidak ada yang menempati. Aku menarik napas panjang. Merindukan kamar ini. Mengingat banyak memori di sini. Terlintas bayangan masa lalu, masa-masa kecil yang selalu bercanda bersama Mas Evin. Semua berkelebat dalam ingatanku. “Sayang … kamu kenapa?” tanya Althan mengagetkanku. Aku menggeleng. “Hanya teringat kenangan masa lalu yang kelam,” ucapku. Kamar ini adalah saksi mati masa lalu dan perjalanan hidupku yang sangat kelam. Masa-masa yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Aku menarik nafas panjang. Melangkah menuju jendela, menatap kendaraan yang tampak lalu lalang di jalanan. Bulan tampak tersenyum melihatku. Bintang-bintang kerlap kerlip di langit yang gelap. Suasana malam yang romantis, menurutku. Aku bersandar di pundak Althan. Sesekali melirik Althan. Lalu, memandang wajahnya yang tampak selalu memesona. Kumis tipis yang membuatnya semakin keren. Sosok yang selalu mengerti aku. Siap siaga kapan pun dibutuhkan. Selalu paham apa pun yang kuinginkan tanpa meminta. Menerima apa adanya. Sungguh beruntung memiliki suami seperti Althan. Kapan aku bisa membahagiakan Althan? Menghadirkan malaikat kecil dalam rumah tangga kami. Setelah dua tahun pasca keguguran, aku belum juga diberi amanah seorang bayi mungil dalam rahimku. Aku mengusap perutku. Aku tahu di balik wajah lelaki baik ini, yang selalu tampak bahagia dan ceria sebenarnya dia menyembunyikan kesedihan. Dia sangat menginginkan hadirnya malaikat kecil dalam rumah tangga kami. Oh, Allah … izinkanlah hamba membahagiakan suami hamba. Berikanlah kehidupan dalam rahim ini. Aku mengusap perut. Tanpa sadar bulir-bulir bening menetes dari sudut mataku. Althan menoleh. “Sayang kamu kenapa nangis?” Manik hitam itu menelisik dengan tajam. Buru-buru aku mengusap sudut mata. Aku menggeleng. Tak mampu berucap apa pun. Tiba-tiba saja Althan membopongku. Aku berteriak memukul dadanya. Namun, Althan tak menghiraukan teriakanku. Kami menghabiskan malam dengan penuh cinta. Seolah tak ingin melewatkan malam yang sangat indah ini. Aku terbuai dengan sentuhan dan cumbuan mesra Althan. Hingga akhirnya kami tertidur dengan saling berpelukan. *** Aku menggeliat, mengerjap-ngerjapkan mata. Sayup-sayup terdengar suara shalawat tarhim berkumandang dari masjid dekat rumah. Aku melihat benda bulat yang menempel di dinding, terlihat jarum menunjuk angka empat. Sebentar lagi subuh. Aku mencium kening dan kedua pipi Althan, lalu bergegas turun dari ranjang melangkah menuju kamar mandi. Di sini tidak ada kamar mandi pribadi seperti di apartemen Althan. Aku berjalan menuju kamar mandi, melewati kamar mama dan dapur. Tampak lampu di kamar mama menyala, sepertinya sudah bangun. Namun, kenapa sepi? Lampu dapur juga sudah menyala. Lalu, dimana mama? Apa mungkin di kamar mandi? Terlihat pintu kamar mandi tertutup, sepertinya di dalam. Akhirnya aku menunggu di luar sambil mendidihkan air untuk membuat kopi buat Althan. Sampai selesai membuat kopi kenapa mama belum juga keluar? Menunggu sebentar lagi. Akan tetapi, sampai suara adzan berkumandang masih belum keluar juga. Aku mulai curiga karena tak ada suara gemericik air. Melangkah menuju kamar mandi dan mengetuk pintu. “Mama. Mama di dalam kan? Sudah selesai belum? Citya mau ambil air wudhu, Ma,” teriakku dari luar. Hening. Tak ada sahutan dari dalam. Aku semakin panik dan menggedor pintu dengan sangat keras. “Mama! Mama!” Nyenyat. Aku langsung berlari menuju kamar. Membangunkan Althan. “Althan. Althan. Bangun!” Aku menggoncang tubuh althan dengan kencang. Althan langsung membuka mata dan menggeliat, mengerjapkan matanya. Terlihat bingung karena aku membangunkannya dengan paksa. Matanya menyipit. “Ma-mama di dalam kamar mandi dari tadi nggak keluar. Aku takut terjadi apa-apa,” ucapku panik. Althan langsung berdiri dan beranjak dari ranjang berlari menuju kamar mandi dengan tergesa. Aku mengikuti dari belakang, dengan perasaan campur aduk. Sampai di depan pintu kamar mandi, Althan menggedor pintu dengan kencang. Karena tak ada sahutan terpaksa pintu didobrak dengan paksa. Ketika pintu terbuka, terlihat pemandangan yang tidak aku inginkan. Mama dalam posisi telentang dan tubuhnya sudah pucat dan membiru. Sepertinya mama terpeleset dan jatuh dari tadi. Althan segera mengecek kondisi mama, lalu tampak menggeleng dan menatapku sedih. “Innalillahi wainnailaihi rojiun. Mama sudah meninggal, Yang …,” ucap Althan setengah bergumam. Aku menutup mulut tidak percaya mendengarnya, dunia seolah runtuh. Napasku sesak. Aku langsung menghambur memeluk tubuh Mama yang sudah tak bernyawa lagi. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN