Oh, Allah … kenapa Engkau harus mengambil Mama secepat ini? Bahkan aku masih merindukan Mama. Sebab, telah sekian lama tak pernah berjumpa. Andai saja aku tahu kalau Mama terjatuh di dalam kamar mandi, mungkin masih bisa diselamatkan. Mengapa tidak dari tadi aku mengecek ke dalam? Betapa bodohnya aku.
Althan menenangkanku. Menyuruhku untuk sabar dan ikhlas. Ini ujian dari Allah. Semua yang bernyawa pasti akan meninggal juga. Lalu Althan mengangkat tubuh Mama yang sudah dingin tak bernyawa. Aku mengikuti dari belakang. Namun, ketika sampai di dapur aku merasakan tubuh melayang, pandangan kabur lalu semuanya gelap. Limbung tak sadarkan diri.
Aku mengerjapkan mata. Melihat ke sekeliling, ini di kamar. Tampak seorang wanita duduk di samping ranjang dan tersenyum ke arahku. Setelah pandangan mata jelas barulah aku tahu dia istri Mas Evin. Sejak kapan dia di sini? Dan kenapa dia di sini? Samar-samar terdengar orang mengaji di ruang tamu. Ah aku baru ingat tadi melihat Mama jatuh di kamar mandi dan ternyata sudah meninggal. Aku langsung menangis kembali.
“Citya … kamu yang sabar dan ikhlas ya. Jangan menangis, kasihan Tante Ine. Biarkan dia tenang dan bahagia. Tante sudah bertemu dengan Rabb-nya.” Istri Mas Evin memelukku.
Aku terdiam tak mampu berkata-kata. Ah, kenapa ujian selalu saja datang bertubi-tubi kepadaku? Mengapa harus mengambil orang-orang yang sangat aku sayangi. Apa belum cukup puas Engkau merenggut kebahagiaanku. Ya Allah? Mengapa takdirku seperti ini? Pertama Kau telah mengambil papa, lalu calon suamiku, calon bayiku, dan sekarang Mama. Lalu, kapan Engkau mengizinkanku bahagia?
Aku menangis tergugu di pelukan istri Mas Evin. Dia terus menenangkanku. Menyuruhku ikhlas dan sabar. Bagaimana aku bisa tegar? Bahkan aku belum sempat membahagiakan Mama. Belum bisa memberikan cucu yang sangat dinantikannya.
Aku mengusap air mata secara kasar. Mencoba tegar. Dengan perlahan, aku melangkah mengambil jilbab panjang warna hitam, lalu menuju ruang tamu. Aku ingin melihat dan memeluk Mama untuk terakhir kalinya.
Aku berharap ini hanya mimpi, tapi ketika sampai di ruang tamu, semua memang nyata. Para tetangga sudah ada di sini. Mereka mengaji di sekeliling Mama. Mataku tertuju pada jasad yang terbujur kaku terbungkus kain putih. Aku tak bisa membendung air mata yang terus berlomba ingin keluar dari sudut mata. Aku terisak. Dengan pelan aku membuka kain penutup wajah Mama, kulihat wajahnya tersenyum. Tanpa pikir panjang aku langsung menghambur memeluk jasad Mama.
Tak ada lagi candaan dan suara tawa Mama. Tak ada lagi orang yang selalu menghibur di saat sedih. Tak ada lagi omelan Mama.
“Mama … maafkan Citya, belum bisa menjadi anak yang membanggakan buat Mama. Belum bisa membahagiakan mama. Maafkan Citya ….” Aku semakin tergugu.
Oh, Allah. Kenapa cobaan begitu berat? Aku tak sanggup menjalani semua ini. Kehilangan Mama sangat menyakitkan. Hatiku terasa sesak. Napas seolah-olah berhenti. Dunia seakan-akan runtuh dan berhenti berputar.
Althan langsung memelukku. “Sayang … kamu jangan bersedih. Ikhlaskan Mama. Kasihan. Biarkan Mama tenang di sana.” Althan mencium pucuk kepalaku.
Aku membenamkan kepala di d**a Althan. Semakin terisak dan bahu berguncang hebat.
“Aku masih kangen Mama. Ingin bercanda bersamanya. Aku belum bisa memberikan cucu yang Mama inginkan.” Aku berkata dengan bibir bergetar menahan isak. Althan mengelus pundakku.
Entah, apalagi yang direncanakan langit untukku. Cobaan datang bertubi-tubi tiada henti. Oh, Allah … mengapa nasib dan takdirku seperti ini? Selalu kehilangan orang-orang yang sangat berharga.
“Citya … sudah jangan nangis lagi. Sebaiknya kita doakan semoga Tante Ine bahagia dan tenang di sana. Beliau sudah bertemu dengan Om Candra.” Mas Evin menghampiriku.
Aku menoleh ke arah Mas Evin, lalu menghambur ke pelukannya. Aku semakin terisak. Tak mampu menahan buliran bening yang terus keluar dari sudut mata.
“Maafkan Citya, belum bisa membahagiakan Mama. Semoga Mama bahagia dan tenang di sana. Semoga Allah mengampuni segala dosa Mama. Hanya doa yang bisa Citya berikan untuk Mama. Aku menarik napas panjang. Mencoba untuk ikhlas melepas kepergian mama. Supaya mama bisa pergi dengan tenang.” Aku mengusap sudut mata yang penuh dengan buliran bening.
***
Beberapa tahun yang lalu di pagi yang sama di pemakaman ini aku menangis, meratapi kepergian orang yang kucintai. Menangisi kepergian calon suamiku. Kini, aku meratapi kepergian orang yang sangat berarti. Orang yang selalu mengerti dan menyayangiku. Kasihnya sepanjang masa. Dia yang mengandungku selama sembilan bulan lamanya, berjuang bertaruh nyawa melahirkan serta membesarkanku dengan penuh cinta kasih. Sekarang beliau telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Sungguh tersiksa rasanya kehilangan.
Suasana yang sama seperti waktu pemakaman Mas Hamdan dulu. Terasa hening dan sunyi. Langit tampak mendung. Bunga kamboja merekah dan harum baunya semerbak mengundang kumbang. Wangi. Beberapa tangkainya yang kering, berguguran.
“Sayang, ayo kita pulang.” Althan memegang pundakku.
“Kamu pulang saja dulu. Citya masih enggan pulang. Masih ingin di sini menemani mama.”
Terlihat Althan tersenyum lalu beranjak meninggalkanku seorang diri.
Aku menangis di atas pusara Mama.
“Mama … maafkan Citya. Terlalu banyak salah pada mama.” Aku mengusap nisan Mama.
Ah … andai saja waktu bisa berputar kembali. Andai saja mama secepatnya ditolong, pasti mama masih hidup sekarang. Penyesalan memang selalu datang ketika semua sudah terlambat. Aku semakin tergugu menangisi kepergian Mama.
Kematian memang membuat siapa pun bersedih. Apalagi seseorang yang sangat berharga di dalam hidup kita.
Aku tidak pernah menyesali kepergian seseorang. Yang membuatku menyesal adalah terlambat menolong Mama. Mengapa Allah selalu mengambil orang yang baik dan berarti bagiku dengan begitu cepat?
Rasanya tak ingin beranjak dari sini. Ingin menemani mama. Beliau yang selalu membuat tersenyum dan selalu menyayangiku. Kini telah pergi meninggalkanku selamanya.
Dulu aku sendiri dan kini pun sama. Sepi. Sunyi. Senyap. Mungkin, memang beginilah nasib dan takdir untukku. Takdir yang sangat tragis. Kehilangan mama sangat menyakitkan. Dunia seolah runtuh. Napas terasa sesak.
Mengapa Allah selalu merenggut kebahagiaanku? Mengapa tak pernah diizinkan bahagia?
Hari semakin sore. Aku mengangkat tangan dan berdoa.
Aku mengusap nisan Mama. “Semoga Mama tenang dan bahagia di sana ya. Salam buat Papa.”
Aku melangkah pergi meninggalkan pemakaman. Berjalan dengan terseok-seok.
Sekarang aku benar-benar merasa sendiri. Merasakan sakitnya kehilangan orang yang telah membuatku bisa melihat indahnya dunia. Oh Allah … kenapa hidupku seperti ini?
Sore hari di rumah aku menuju kamar Mama. Di sini merasakan mama masih berada di dekatku. Masih tercium aroma mama. Aku menarik napas.
Aku melangkah menuju tempat tidur mama dan berbaring di atasnya. Merasakan seolah mama ada di sampingku. Memeluk dan menciumku. Ah mama baru sehari pergi meninggalkanku, namun rasanya sudah bertahun-tahun. Rindu suara mama. Baru dua hari bertemu setelah hampir dua tahun tidak bertemu, sekarang sudah berpisah untuk selamanya. Mama sampai kapan pun akan tetap di hati, meski ragamu telah tiada.
Pagi ini berkeliling di sekitar rumah. Melihat taman bunga buatanku. Melihat kamar mama untuk yang terakhir kali. Semalam acara tujuh hari kematiannya, sudah saatnya aku kembali ke Jakarta. Althan sudah pulang lebih dahulu, karena dia tidak bisa cuti terlalu lama. Sore nanti harus kembali ke Jakarta. Sekarang masih menanti orang yang mau mengontrak rumah mama.
Aku memutuskan untuk mengontrakkan rumah mama pada seseorang. Agar rumah ini ada yang menjaga dan merawatnya. Dijual sayang karena banyak kenangan di sini. Jika dikontrakkan setidaknya rumah ini masih milikku, sewaktu-waktu kembali ke Malang masih punya tempat untuk bernaung. Itu yang ada di pikiranku. Sebenarnya Althan menyarankan untuk dijual saja, tetapi aku aku menolaknya. Rumah ini penuh memori, saksi mati perjalanan hidupku.
‘Tok-tok-tok’ terdengar pintu diketuk.
Aku melangkah menuju pintu dan membukanya.
“Assalamualaikum ….” Mas Evin tersenyum padaku.
“Waalaikumsalam, Mas. Aku kira orang yang mau mengontrak rumah ini,” ucapku sambil mengajak Mas Evin dan istrinya masuk.
“Sebenarnya yang mau mengontrak rumah ini kami, Cit,” ucap istri Mas Evin.
“Apa?” Dahiku mengernyit.
Mas Evin mengangguk. “Daripada dikontrak orang lain, jadi lebih baik kami aja, kan? Di sini lokasinya lebih dekat dengan tempat kerja Mas. Pun udah ada kedainya, jadi istri Mas bisa melanjutkan usaha kue almarhum Tante Ine.”
“Kalau kalian yang menempati, ya, udah nggak usah dikontrak. Tempati aja gratis.” Aku tersenyum.
Aku senang jika Mas Evin dan istrinya yang menempati rumah ini. Rumahku bisa dijaga dan dirawat dengan baik.
“Kami nggak enak kalau gratis.” Mas Evin berkata sambil menatapku.
“Nggak enak kenapa, sih, Mas? Kita saudara. Yang penting rawat dan jaga rumah ini dengan baik. Taman bungaku jangan lupa dirawat juga,” ucapku sambil tersenyum.
Mas Evin dan istrinya mengangguk. Kami saling berpelukan satu sama lain. Kemudian, Mas Evin dan istrinya pun pamit untuk pulang.
***
Bersambung