Sore harinya Mas Evin mengantarku ke bandara Abdulrahman Saleh. Mas Evin memeluk dan aku menangis di dekapannya.
“Jaga diri baik-baik, ya. Jaga kesehatan. Sering-sering kasih kabar ke Malang.” Mas Evin menasihatiku.
Aku mengangguk dan tersenyum. Kemudian, aku mencium tangan Mas Evin dan berlalu meninggalkannya. Berjalan menuju dalam bandara.
Aku mengambil e-ticket dan juga KTP di dalam tas untuk melakukan check-in. Setelah melakukan check-in aku melangkah menuju boarding pass untuk menunggu penerbangan.
Tidak lama kemudian, terdengar panggilan pesawat Sriwijaya-Air tujuan Soekarno-Hatta Jakarta akan segera boarding. Aku bergegas naik ke pesawat.
Setelah berada di dalam pesawat, aku mencari nomor kursi lalu segera duduk dan memasang sabuk pengaman.
Tepat pukul 15:10 pesawat pun lepas landas meninggalkan bandara Abdulrahman Saleh menuju bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Aku menarik napas. Meninggalkan kota tercinta, tempat kelahiran. Entah, kapan kembali lagi ke sana. Mama telah tiada, tidak ada alasan lagi untuk pulang.
Setelah hampir satu setengah jam perjalanan, pesawat mendarat di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Setelah turun dari pesawat aku menuju Baggage Claim untuk mengambil barang-barang. Setelah cukup lama antre, akhirnya aku bisa keluar juga. Aku langsung bergegas keluar gedung bandara. Setelah berada di luar gedung bandara aku mengaktifkan ponsel dan segera menelepon Althan.
“Sayang, aku udah sampai di bandara ini,” ucapku setelah telepon tersambung.
“Iya. Kamu tunggu aja dulu, ya. Aku langsung ke sana. Kebetulan memang sudah waktunya pulang, kok.”
“Iya. Aku tunggu. Assalamualaikum.
“Walaikumsalam.”
Aku mematikan telepon. Banyak pedagang minuman maupun makanan yang menawarkan dagangannya. Namun, aku menolak dengan halus. Tidak selera makan ataupun minum untuk saat ini. Aku hanya ingin secepatnya bertemu Althan. Rindu sudah menggebu, selama satu minggu kami tidak bertemu. Rasanya sudah seperti satu abad saja. Hari sudah menjelang senja, tetapi Althan tak kunjung datang. Atma masygul dirundung gundah gulana. Mungkin jalanan macet.
Tak lama kemudian Althan telah sampai. Aku langsung menghambur memeluk Althan. Meski banyak orang aku tak peduli, aku semakin mempererat pelukan. Toh, kami suami istri. Pasangan yang belum halal saja biasa mengumbar kemesraan di depan publik.
Althan mencubit kedua pipiku.
“Aduh! Sakit!”
“Ayo naik. Terus pulang,” ucap Althan.
Aku masuk ke mobil. Lalu, mobil segera melesat menuju apartemen tempat tinggal kami. Selama di perjalanan kami sama-sama terdiam. Pandanganku tak bisa lepas dari wajah Althan. Wajah yang selalu kurindukan selama ini. Aku mengusap pipinya lembut. Lalu, tersentak kaget saat Althan memegang tanganku, kemudian menciumnya. Pandangannya tetap fokus ke depan. Aku tersenyum, tersipu malu. Pipi rasanya memanas. Entah, kenapa jadi gugup dan grogi padahal kami sudah menjadi suami istri. Mungkin karena sudah lama tak berjumpa jadi getaran ini terasa sangat hebat.
Tanpa terasa kami sampai di depan apartemen. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas naik ke lantai atas, ke kamar apartemen kami.
Lega rasanya bisa sampai dengan selamat tanpa halangan apa pun. Aku membanting tubuh ke ranjang, ingin segera beristirahat. Capai sekali.
Althan berlalu menuju kamar mandi. Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar. Aku beranjak dari ranjang, melangkah ke jendela. Menyaksikan gemerlapnya Ibu kota. Langit tampak gelap, tak ada bintang maupun bulan yang bercahaya. Seperti hatiku. Saat seperti inilah teringat Mama, aku sangat merindukannya.
Aku terkejut ketika Althan melingkarkan tangan di pinggang. Dagunya diletakkan di atas bahu.
“Lagi mikir apa, sih? Kan sudah ada aku sekarang.”
Aku menarik napas dalam dan menggeleng. “Hanya ingat Mama aja, kok,” sahutku.
“Udah, nggak usah dipikirkan terus, kasihan Mama. Nanti malah menghambat jalannya. Kita doakan aja, agar Mama diterima di sisinya.”
Aku hanya menanggapi dengan senyum. Bersyukur sekali memiliki suami seperti Althan.
***
Pagi ini Althan meminta untuk berkemas-kemas. Kami akan pindah dari apartemen ini. Meninggalkan DKI Jakarta. Ternyata diam-diam dia telah membeli rumah di lereng perbukitan kota. Tepatnya di Jonggol dekat puncak. Entah, kenapa Althan mengajakku pindah dari sini. Sebenarnya lebih enak di sini, lebih dekat dengan tempat kerjanya. Namun, Althan bersikeras mengajak pindah. Akhirnya aku mengalah.
“Kenapa harus pindah, sih, Yang?” tanyaku sambil memasukkan baju ke koper.
“Di sana tempatnya sejuk. Bagus untuk kesehatanmu, siapa tahu nanti bisa cepat punya momongan. Di sini terlalu banyak polusi.” Althan berkata sambil menatapku lekat.
“Namun, kan kamu jadi jauh ke tempat kerjamu, Yang.”
“Aku nggak masalah. Lagian dari puncak ke kantor Cuma butuh waktu sekitar satu jam lebih, nggak sampai dua jam. Yang paling penting di sana tempatnya asri. Rumahnya besar dan lebih indah dari apartemen ini. Nggak perlu naik turun tangga. Bisa melihat pemandangan kota yang gemerlap di malam hari meskipun tidak berada di atas gedung yang tinggi.” Althan duduk di sampingku membantu memasukkan baju ke dalam koper.
Aku mengangguk. “Terserah kamu, Yang. Sebenarnya aku nggak butuh rumah besar maupun indah. Mobil, perhiasan dan perlengkapan mewah. Yang paling penting tanggung jawab, kasih sayang, pengertian serta perhatian yang besar dari kamu itu sudah sangat berarti bagiku. Sejatinya bahagia itu sederhana, asal kita saling menghargai dan mengerti satu sama lain. Tak perlu harta yang melimpah maupun kemewahan. Yang paling penting bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah,” bisikku.
Kemudian Althan merengkuhku ke dalam pelukan seraya berbisik sangat beruntung memiliki istri sepertiku. Tak pernah menuntut sesuatu yang berlebihan.
Seharusnya aku yang bersyukur memiliki suami seperti Althan. Dia sungguh sosok suami yang penuh tanggung jawab. Tidak pernah menyuruh ataupun menuntut mengerjakan semua tugas rumah. Justru dia lebih sering membantu. Ah, beruntungnya memilikinya. Lelaki yang penuh tanggung jawab. Lebih mengutamakan kepentingan istri daripada dirinya sendiri.
“Maafkan aku, Yang. Belum bisa menjadi istri yang sempurna. Belum memberikan malaikat kecil untukmu,” ucapku menahan isak.
Althan memegang kedua bahuku dan menatap lekat-lekat. “Tak perlu menjadi sempurna dalam hidupku, cukuplah jadi yang terbaik dan selalu berada di sampingku, Yang,” ucap Althan sambil menghapus sudut mataku yang berlinangan air mata.
Beruntungnya mempunyai suami seperti Althan. Selama menikah belum pernah Althan membentak ataupun memarahi karena apartemen yang berantakan, telat bangun, tidak memasak maupun cucian menumpuk. Dia tidak pernah protes. Dia memperlakukan seolah seperti ratu bukan pembantu. Semua tugas rumah dikerjakan bersama-sama. Tidak pernah saling iri satu sama lain. Semoga kami bisa seperti ini selamanya.
Sejatinya bahagia itu mudah, asal kita bisa saling mengerti satu sama lain. Bersyukur terhadap apa yang kita punya.
Althanku sayang. Sungguh besar rasa cinta tak akan pernah hilang sampai kapan pun. Meskipun belum bisa membahagiakannya. Belum seutuhnya menjadi seorang istri yang sempurna. Belum memberikan seorang malaikat kecil dalam hidupnya. Berbagai cara sudah aku lakukan, supaya bisa memiliki momongan. Namun, Allah masih juga belum memberikan kepercayaan. Sudah dua tahun lebih pasca keguguran waktu itu, sampai sekarang tak kunjung diberi kepercayaan menimang sosok bayi mungil. Ingin sekali segera ada kehidupan dalam rahim ini.
Oh, Allah … izinkan hamba menjadi seorang istri yang sempurna dengan memberikan seorang bayi mungil untuk suami hamba.
“Althan, aku hanya ingin kamu selalu ikhlas dan meridhai apa pun yang aku lakukan untukmu sehingga Allah pun ridha.” Aku menatap Althan.
“Pasti, Sayang.” Dia mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.
Setelah semua beres dan selesai memasukkan barang-barang yang perlu dibawa pindah ke dalam mobil, kami pun bergegas meninggalkan apartemen. Mobil melaju dengan pelan membelah jalanan Ibu kota yang padat. Suasana sudah panas walaupun hari masih pagi. Aku menghela napas. Semoga dengan pindah ke tempat yang asri dan sejuk bisa membuatku secepatnya bisa hamil. Aamiin.
***
Kini, di sinilah aku tinggal. Di rumah lereng bukit di daerah jonggol dekat puncak. Rumah yang sangat asri dan sejuk. Memang kami tidak tinggal di perumahan. Rumah kami berada di lereng bukit. Sehingga situasinya sangat asri dan rumahnya lumayan luas. Akan tetapi, kami berusaha untuk bertetangga dengan baik, menyapa dengan ramah. Sehingga para tetangga menyukai kami. Sebagai orang baru harus berbuat baik terhadap warga sekitar.
Setiap selesai menjalankan kewajiban di waktu subuh, Althan selalu menemani berjalan-jalan di sekitar rumah. Sebelum berangkat bekerja menyempatkan waktu bersama. Menghirup udara segar. Suasananya jauh berbeda dari apartemen tempat tinggal kami dulu. Di sini lebih sejuk dan segar.
Ketika Althan libur kerja, maka kami akan memasak bersama. Memasak masakan kesukaan kami. Momen yang paling aku sukai. Bisa menjadi kenangan sepanjang masa. Sebagai bekal cerita untuk anak-anak kami.
Ketika malam menjelang kami menikmati gemerlapnya bintang-bintang di langit, duduk di halaman depan rumah. Suasana yang sangat romantis.
Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Meskipun Althan sibuk bekerja, tetapi tak pernah lupa untuk selalu memprioritaskan keluarga. Sungguh beruntungnya aku memiliki suami seperti Althan. Dia selalu membisikkan kata-kata mesra dan romantis. Selalu bisa membuat berseri-seri sepanjang hari. Tak pernah menangis ataupun bersedih. Senyum selalu menghiasi bibir setiap hari.
Semakin hari, Althan semakin mesra dan sayang padaku. Semoga selamanya seperti ini. Andai saja waktu itu tidak mengalami keguguran, pastilah malaikat kecilku sudah besar. Sudah berusia sekitar dua atau tiga tahun. Oh, Allah … kenapa engkau harus mengambilnya sebelum sempat kami menimang dan melihat rupanya.
Usiaku menginjak 28 tahun dan Althan 30 tahun. Sudah pantas dan matang untuk menimang seorang bayi mungil. Akan tetapi, entah mengapa Allah belum juga memberikan amanah kepada kami. Kami belum bisa membahagiakan kedua orang tua Althan. Mereka juga sangat menginginkan cucu.
****
Bersambung