Sudah hampir enam bulan kami pindah ke sini. Namun, belum juga ada tanda-tanda kehidupan di dalam rahimku. Aku semakin takut dan khawatir tak akan bisa lagi mengandung. Tak akan ada lagi kehidupan di dalam perutku. Sudah tiga tahun pasca keguguran waktu itu, tak juga kunjung hamil lagi. Berbagai cara sudah kami lakukan untuk bisa mempunyai momongan. Allah masih belum juga memberikan kepercayaan. Entah, sampai kapan.
Aku hanya khawatir Althan kecewa, dia sangat menginginkan seorang malaikat kecil. Ingin menjadi seorang ayah. Meskipun Althan selalu bilang bahwa semua yang ada di dunia ini hanya Allah yang berkuasa dan berkehendak. Namun, aku yakin di dalam hati Althan paling dalam dia sangat kecewa.
“Maafkan aku Althan.” Berulang kali aku meminta maaf. Belum bisa menjadi istri yang sempurna.
Sore ini aku sedang memasak di dapur. Menyiapkan makan malam lebih awal. Althan bilang dia pulang cepat hari ini. Jadi, aku harus segera menyelesaikannya. Supaya ketika Althan pulang, penampilan sudah bersih dan wangi. Tidak bau dapur lagi.
Aku terkejut ketika tiba-tiba dari arah belakang ada yang memeluk. Lalu, mencium leher dengan lembut.
“Althan … kebiasaan, deh. Jadi kaget kan aku,” sambil memukul kepalanya dengan sendok sayur.
“Aduh sakit, Yang. Ampun!” protes Althan sambil terkekeh.
“Biar tahu rasa!” ketusku. “Aku masih jelek ini, masih bau bawang,” lanjutku sambil mencium tubuh sendiri.
“Bagiku kamu selalu cantik dan harum,” rayu Althan sambil mencium pucuk kepalaku.
Aku tersipu malu, pipi pasti sudah merona semerah tomat yang sudah sangat matang.
“Kamu semakin cantik kalau malu-malu begini, Yang,” ucap Althan.
Aku mencubit pinggang Althan gemas.
“Aduh sakit, Yang. Kamu ini benar-benar membuatku gemas.” Althan membalas mencubit pipiku.
Kami sama-sama tergelak.
“Sudah sana mandi dulu. Aku mau menyelesaikan masak dulu. Habis itu mandi, baru kita makan bersama.”
Althan mengacungkan jempolnya dan mengecup pipiku sambil lalu.
“Althannn!” teriakku.
Althan terbahak sambil berlari, aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Kemudian, melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Setelah semua beres, aku bergegas menuju kamar. Ketika sudah ada di dalam kamar, pupil mata membesar, ternyata Althan tidur. Pantas saja tidak ada suaranya. Aku membiarkannya tetap tidur, mungkin dia kecapaian.
Sedikit berlari menuju toilet untuk mandi. Lalu, menyiapkan makan malam. Ingin memberi kejutan pada Althan. Menyiapkan dinner yang romantis. Tak perlu ke restoran mewah, cukup di halaman belakang rumah. Segera menyiapkan candle light dinner, makanan dan minuman kesukaan Althan. Nasi goreng lengkap dengan sayuran dan telur, cappucino minuman kesukaan Althan serta milkshake minumanku. Aku bernapas lega, ketika semua sudah tertata rapi di atas meja. Tinggal menunggu Althan. Aku pun bergegas menuju ke dalam rumah.
Ketika tiba di kamar ternyata Althan sudah bangun bahkan sudah mandi.
Aku tersenyum menatap Althan. “Sudah bangun? Aku kira masih tidur.” Melangkah enghampiri lelakiku, dan berkata, “Ayo makan. Sudah siap semuanya.”
Althan mengangguk dan kami berjalan beriringan menuju halaman belakang rumah.
“Kamu menyiapkan semua ini sendiri, Yang?” ucap Althan dengan mata berbinar.
Aku mengangguk. “Ayo makan. Lapar,” ucapku manja.
Althan terkekeh dan geleng-geleng kepala. Kami pun menikmati makan malam dengan santai. Suasana yang sangat romantis. Menikmati candle light dinner berpayung langit yang bertaburan bintang-bintang serta ditemani semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi. Menambah keadaan menjadi semakin romantis.
***
Aku menggeliat, mengerjap-ngerjapkan mata. Silau. Matahari sudah tinggi. Ah, aku bangun kesiangan. Lalu, kenapa Althan tidak membangunkan? Segera beringsut dari ranjang. Namun, kenapa kepala rasanya pusing sekali, perut sangat mual. Dengan perlahan melangkah menuju toilet. Sampai di dalam, aku tak kuasa menahan rasa mual di perut. Langsung mengeluarkan semua isi yang ada di dalam perut. Sayangnya hanya air saja yang keluar. Aku semakin pusing. Keringat dingin keluar dari dahi. Terdengar suara Althan memanggil-manggil.
“Sayang! Sayang! Kamu di dalam? Kamu nggak apa-apa, kan?”
Aku tak mampu menjawab, tubuh terasa lemas. Dengan perlahan membuka pintu toilet dan keluar.
“Aku nggak apa-apa,” jawabku pelan ketika sudah sampai di luar.
“Hei. Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?” Althan bertanya sambil memegang dahiku.
Aku menggeleng lemah. “Hanya sedikit pusing dan mual.”
Althan langsung membopong. Aku tak kuasa menolaknya karena tubuh rasanya lemas sekali.
“Kita ke dokter, ya? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Aku nanti ke kantor agak siang.”
Aku mengangguk pelan. Althan menggendongku, lalu tiba-tiba pandangan kabur dan sedetik kemudian gelap.
Ketika tersadar sudah berada di sebuah ruangan. Ada seorang dokter perempuan yang cantik, wajahnya sangat sopan.
“Sudah sadar, Bu?” tanya dokter perempuan itu dengan ramah.
Aku hanya tersenyum. Althan memegang erat tanganku.
“Ibu apa sudah haid bulan ini?” tanya dokter lagi.
Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali haid. Akan tetapi, lupa karena memang tak pernah mencatat kapan waktunya. Paling cuek dengan masalah begini. Padahal sangat penting mengetahui kapan waktu haid datang.
“Belum, Dok. Akan tetapi saya lupa kapan terakhir kali haid.” Aku menjawab apa adanya.
“Kalau begitu sebaiknya diperiksa HCG-nya. Siapa tahu hamil, kan?” tanya dokter wanita tersebut.
Aku mengangguk dan dokter menyerahkan sebuah test pack kehamilan, lalu menyuruhku ke toilet. Althan membantu bangun dan mengantar hingga ke depan pintu. Setelah melakukan tes aku keluar, lalu menyerahkan hasilnya pada dokter.
“Terdapat dua garis merah, Pak, Bu. Itu artinya positif hamil. Emm, kita lakukan USG saja bagaimana? Untuk mengetahui kondisi janin.”
Aku mengangguk. Althan memegang tanganku. Kemudian, aku didorong dengan kursi roda untuk dibawa ke ruang USG.
Setiba di ruang USG, seorang suster menyuruh mengangkat sedikit bajuku ke atas, kemudian mengoleskan cairan yang agak kental di perut. Rasanya dingin, entah cairan apa aku tak mengerti. Setelah itu, dokter mulai meletakkan sebuah alat di perut bagian kanan, menginstruksikan supaya melihat ke layar di depanku. Sudah terlihat ada janin di dalam rahim. Denyut jantungnya sudah berdetak. Sudah ada tangan dan kaki menurut dokter. Panjang janin 3,9cm. Kondisi janin sehat. Ternyata sudah sepuluh minggu, enam hari.
Aku menutup mulut dengan tangan, tak percaya dengan semua ini. Tanpa terasa bulir-bulir bening menetes dari sudut mata. Tangis bahagia.
Aku menatap Althan. Dia juga tampak bahagia. Berkali-kali mencium tanganku. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa-doa panjangku.
“Terima kasih, Sayang. Ini hadiah terindah untukku.” Althan mengecup keningku lembut.
Mata terasa sangat panas dan perih. Pandangan pun menjadi buram. Tanpa sadar meluncurlah buliran bening itu. Tangis bahagia. Tak terkira rasanya. Yang membuat menyesal adalah mengapa tidak peka terhadap kehamilan sendiri? Kenapa bisa sampai tidak tahu kalau hamil? Kalau hari ini tidak mengalami pusing dan mual, aku tak akan pernah tahu jika hamil.
“Selamat ya, Pak, Bu. Mulai sekarang dijaga, ya, kandungannya. Apalagi Ibu pernah mengalami keguguran dengan riwayat kandungan lemah. Jaga asupan makanannya. Selalu makan yang bergizi, terutama protein hewani, buah dan sayur. Untuk trimester pertama ini yang paling dibutuhkan adalah asam folat untuk perkembangan otak janin.” Dokter menjelaskan panjang lebar.
Kami berdua hanya mengangguk. Setelah tak ada lagi pertanyaan, kami diberi resep obat dan vitamin.
Kami permisi keluar, lalu antre menunggu panggilan untuk menebus obat dan vitamin. Tak lama kemudian namaku dipanggil. Setelah menebus obat dan vitamin kami pun pulang.
Di perjalanan tak henti-hentinya aku memegang perut. Bahagia yang tiada kira. Akhirnya ada kehidupan lagi di dalam rahim ini.
“Sehat-sehat, ya, Nak. Jangan nakal,” ucap Althan sambil mengelus perutku dengan tangan kirinya.
Aku tersenyum menatap wajah lelaki pujaan, yang selalu ada kapan pun dibutuhkan. Wajahnya berseri-seri sedari tadi. Akhirnya, bisa melihat senyum kebahagiaan di wajah Althan.
Sampai di rumah. Althan langsung menggendongku masuk. Aku berteriak sambil memukul dadanya.
“Aku bisa jalan sendiri, Yang. Nggak perlu digendong juga.”
“Sssttt. Diam. Jangan protes. Aku nggak mau kamu capek.”
Aku terkekeh. “Iya, tapi nggak perlu sampai kayak gini juga, Yang,” sahutku.
Althan terus menggendong membawa ke kamar.
“Sudah sampai Tuan Putri. Ingat, ya, nggak boleh terlalu capek. Mulai sekarang jangan kerja berat-berat. Harus makan yang banyak dan bergizi supaya dedek bayi sehat.” Althan mencium perutku.
Aku hanya menanggapi dengan senyuman. Bahagia bisa membuat suami tertawa lepas seperti ini. Terdengar suara ponsel bergetar. Althan merogoh saku celananya.
“Assalamualaikum,” ucap Althan.
“....”
“Nggak apa-apa, kok. Citya hamil.”
“.....”
“Iya, Ma. Alhamdulillah.”
“.....”
“Iya, Ma. Waalaikumsalam.”
Althan tersenyum ke arahku. “Sudah kamu istirahat aja, ya. Aku mau menyiapkan makan siang dulu.” Altha mengusap kepalaku pelan.
“Tadi siapa yang telepon, Yang?” tanyaku.
“Mama. Beliau nanyain kondisi kamu. Aku bilang aja kalau kamu hamil. Mama seneng dengernya,” jawab Althan sambil tersenyum.
Aku tersenyum lega. “Kamu nggak apa-apa, izin nggak masuk kerja?” tanyaku.
“Nggak. Aku, kan bos,” ucap Althan sambil terkekeh. “Udah nggak usah mikir soal aku. Lebih baik fokus sama kesehatanmu dan calon bayi kita,” ucap Althan kemudian berlalu.
Sepeninggal Althan, aku tersenyum sambil mengusap perutku yang masih datar. Aku bersyukur dan bahagia sekali, karena akhirnya diberi kepercayaan oleh Allah untuk mendapatkan buah hati.
***
Bersambung