Aku masih merasa sedikit pusing. Mata terasa sangat berat. Perlahan terpejam, kemudian benar-benar tertidur.
Aku tersentak kaget ketika Althan mengusap pipi dengan lembut. Mata mengerjap, masih sedikit berat untuk dibuka.
“Nyenyak banget tidurnya. Sampai dibangunin dari tadi lama,” ucap Althan.
“Maaf. Kepala pusing banget tadi. Mataku juga berat, tidur, deh.” Aku terkekeh.
“Ayo makan dulu. Ini aku buatkan bubur ayam. Mumpung masih hangat.”
Aku menggeleng.
“Ayo, dong makan. Aku suap. Biar dedek bayi sehat. Buka mulut,” ucap Althan sambil menyodorkan sesuap bubur ke mulutku.
Aku membuka mulut dan mulai mengunyah. Masih beberapa suap rasanya sudah sangat mual. Ingin muntah.
Aku menutup mulut dengan tangan. “Sudah, Yang. Aku mual. Rasanya mau muntah,” ucapku.
“Sesuap lagi. Masih makan sedikit, kok.”
Aku menggeleng lalu segera berlari menuju toilet, langsung membuang semua yang ada di dalam perut. Kenapa sekarang jadi mengalami seperti ini? Setelah tahu hamil malah perut tidak mau diisi makanan.
“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Althan menyusulku.
Aku menggeleng lemah. Althan kemudian menggendong dan menurunkan ke ranjang, menutup tubuh dengan selimut. Tak lama kemudian aku pun tertidur.
***
Sejak tahu aku hamil, Althan sekarang lebih perhatian. Berkaca dari masa lalu. Dia sepertinya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Althan bangun lebih awal. Berangkat kerja setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Pulang kerja pun juga lebih awal. Sebenarnya aku merasa sudah baik. Morning sicknes sudah berkurang sejak kandungan memasuki usia empat bulan. Namun, Althan tetap memperlakukan layaknya seorang putri. Tidak boleh melakukan pekerjaan rumah apa pun bentuknya.
Kadang aku bosan dengan rutinitas sehari-hari yang hanya berdiam diri saja. Tanpa sepengetahuan Althan, aku membuat taman bunga di halaman belakang. Setidaknya untuk mengisi kegiatan supaya tak menganggur.
Kami juga rutin kontrol setiap satu bulan sekali. Untuk memantau dan memastikan janin kami tumbuh dan berkembang dengan baik. Tak ingin lagi terjadi sesuatu yang buruk. Ketika jadwalnya periksa, Althan selalu menyempatkan waktu. Sesibuk apa pun tak pernah absen mengantar ke dokter untuk kontrol. Dia sangat antusias sekali.
Althan jadi lebih bawel dan cerewet. Semua yang aku makan harus dijaga dan diawasi, tidak boleh asal makan. Over protektif, semua demi kebaikanku dan janin yang ada di dalam rahim.
Semakin hari perut bertambah besar dan buncit. Tendangan bayi mulai terasa di dalam perut. Aku bahagia, akhirnya bisa merasakan adanya kehidupan di dalam rahim. Dokter menyarankan untuk selalu berjalan-jalan di pagi hari. Supaya persalinan lancar. Juga tidak boleh stres, agar janin tumbuh sehat. Jika ibu bahagia maka janin pun akan tumbuh sehat dan cerdas.
Usia kandunganku sekarang memasuki usia tujuh bulan. Di trimester tiga ini harus rutin kontrol selama dua kali dalam satu bulan. Apalagi memiliki riwayat keguguran dengan kondisi rahim lemah. Alhamdulillah sejauh ini kandungan sehat-sehat saja, perkembangan dan pertumbuhan janin juga bagus.
Althan semakin ketat menjaga. Semua tugas rumah Althan yang mengerjakan. Walaupun dia sendiri sibuk mencari nafkah, tapi tanggung jawabnya sangat besar terhadap keluarga.
Di usia kandungan yang semakin mendekati HPL. Aku sering mengalami sakit pinggang dan punggung. Selalu kegerahan meskipun udara sejuk. Keringat bercucuran setiap hari, bahkan di malam hari. Perut rasanya sudah tidak enak. Kontraksi rahim mulai terjadi, tapi tidak terasa begitu sakit, hanya kontraksi palsu. Posisi tidur pun mulai tidak nyaman.
“Kamu kenapa, Yang?” tanya Althan ketika melihatku bolak-balik mengubah posisi tidur.
“Rasanya nggak nyaman, Yang. Miring kanan capek, miring kiri juga nggak enak. Kalau tidur terlentang napas rasanya sesak.”
Althan terbahak ketika mendengar jawabanku.
“Malah ketawa, sih. Ini aku beneran nggak nyaman.” Aku mengerucutkan bibir.
“Iya maaf. Terus aku mesti gimana?”
“Peluk,” ucapku manja.
“Dasar manja.” Althan menjawil ujung hidungku.
Aku terkekeh sambil meletakkan kepala di d**a bidangnya. “Kalau gini, kan nyaman, Yang,” ucapku.
“Hmmm. Adek jangan nakal, ya. Baik-baik di dalam sini. Kasihan mama.” Althan mengusap perutku yang buncit.
Aku merasakan tendangan dari dalam perut. Sepertinya dia paham dengan apa yang dikatakan papanya. Anak pintar. Aku tersenyum sambil mengusap perut. Lalu, mengeratkan pelukan.
Aku tak sabar menanti kehadiran bayi mungil ini ke dunia.
Tanpa terasa usia kandunganku sudah memasuki sembilan bulan. HPL kurang satu minggu lagi. Sore ini, berjalan-jalan di sekitar rumah. Melihat taman di halaman belakang. Menyiram bunga dan mencabut rumput, sambil menunggu Althan pulang dari kerja.
Tiba-tiba merasakan perut di bagian bawah terasa sakit. Aku menarik napas panjang, mengembuskannya. Lalu, duduk di bangku kayu. Setelah hilang rasa sakitnya, segera masuk ke rumah. Apa mungkin sudah waktunya melahirkan. Bukannya perkiraan dokter kan masih satu minggu lagi? Mungkin hanya kontraksi palsu saja.
Aku membuka kulkas. Melihat stok bahan makanan yang bisa dimasak untuk makan malam nanti. Meskipun Althan melarang, tapi aku tetap memasak. Aku bukan ratu yang bisa berdiam diri seharian, tanpa mengerjakan apa pun.
Setelah hampir satu jam berkutat di dapur akhirnya masakan matang juga. Segera menata di atas meja. Masakan sederhana tapi bergizi, menu lengkap empat bintang. Nasi, udang goreng, jamur crispy dan sambal tomat. Aku menghela napas. Sudah beres semua.
Tiba-tiba perut terasa sakit lagi. Sakit di bagian bawah, rasanya seperti waktu keguguran dulu.
Aku mengusap perut lembut. “Jangan nakal, ya, Dek. Kalau memang waktunya mau lahir, jangan bikin mama sakit terlalu lama, ya,” bisikku.
Kemudian rasa sakit perlahan hilang, melihat benda bundar yang menempel di dinding, jarum menunjukkan pukul 17:30, Althan sebentar lagi pasti pulang. Bergegas menuju ke kamar mandi. Namun, ketika sampai di dalam, sakit di perut melanda lagi. Akhirnya keluar lagi, tidak jadi mandi. Lalu, berbaring di atas ranjang, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Tak lama kemudian, terdengar suara Althan memanggil.
“Sayang! Kamu di mana?”
Aku tak kuasa menjawab, sakit semakin menyerang. Dengan perlahan melangkah ke luar kamar. Tampak Althan sedang di ruang tengah melepas sepatu.
“Maaf, Yang. Aku nggak dengar waktu kamu panggil tadi,” ucapku sambil menahan rasa sakit.
“Nggak apa-apa, Sayang. Aku selalu bawa kunci, kok. Jadi, kalau kamu nggak dengar bisa langsung masuk.” Althan menatapku khawatir. “Kamu kenapa? Kok keluar keringat?” tanya Althan lagi.
Aku menggeleng lemah. “Nggak apa-apa, kok.” Menyembunyikan rasa sakit dari Althan.
“Kamu mandi dulu sana. Bentar lagi maghrib,” ucapku.
Althan mengacungkan jempolnya sambil lalu. Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Mungkin memang tanda-tanda mau melahirkan ini. Akan tetapi, sakitnya masih sebentar-sebentar. Masih suka hilang. Aku menuju kamar untuk menunggu Althan selesai mandi. Tak perlu waktu lama, Althan keluar dari kamar mandi.
“Kamu yakin nggak apa-apa, Yang?” tanya Althan khawatir.
Aku menggeleng. “Aku ambil air wudhu dulu, ya. Sudah terdengar adzan itu,” ucapku sambil berlalu ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi masih sering datang rasa nyeri. Mengusap perut secara lembut. Hilang lagi rasa sakitnya. Selesai bersuci langsung keluar. Tampak Althan sudah menunggu. Dia mengenakan baju koko warna hijau muda dan kopiah warna putih. Tampak sangat keren. Dia tersenyum ke arahku.
Aku segera mengambil mukenah dan kami menjalankan kewajiban secara berjamaah. Memohon ampun kepada Illahi Rabbi, meminta kelancaran untuk proses persalinan.
Selesai beribadah, aku mencium tangan Althan. Kemudian, kami berjalan menuju ruang tengah untuk makan malam.
“Wah makan besar malam ini. Ada jamur crispy.” Althan tampak berbinar melihat makanan favoritnya.
Aku hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah Althan yang seperti anak kecil. Dia tampak sangat kelaparan, makan dengan lahapnya.
“Aku jadi nggak nafsu makan, Yang. Lihat kamu makan gini,” ucapku sambil terkekeh.
Althan menatapku heran. “Lah kenapa? Habis enak banget ini masakanmu.” Lagi-lagi Althan membuat besar kepala.
Aku memang tidak nafsu makan karena perut rasanya sakit sekali. Semakin terasa, meskipun masih jarang. Setiap 30 menit sekali rasa nyeri menyerang.
Setelah selesai makan aku membereskan meja makan dan Althan membantu mencuci piring. Selesai mencuci piring, kami ke ruang tengah untuk menyaksikan acara televisi.
“Yang … aku ke kamar aja. Ya. Capek. Mau istirahat,” ucapku sambil lalu.
Althan pun mengikuti. “Ya udah aku ke kamar juga.”
Sampai di kamar aku tak banyak bicara hanya diam menahan rasa sakit. Berbaring di ranjang memiringkan tubuh ke samping kiri. Teringat kata dokter, jika sudah mulai merasakan kontraksi, disarankan miring ke samping kiri. Bisa untuk menambah pembukaan.
Althan berbaring di sampingku. “Kamu kenapa sih, Yang? Kok, seperti menahan rasa sakit?” tanya Althan.
“Nggak apa-apa, Yang. Cuma perut mulai mules dari tadi. Masih sebentar sakit, lalu hilang.”
Althan mengusap pinggangku lembut. “Ya udah buat baringan aja.”
Aku kemudian berdiri.
“Kok, malah berdiri. Katanya perutnya mulas.”.
“Udah hilang lagi. Ini mau jalan-jalan di sini. Biar lancar lahirannya nanti.” Aku tersenyum.
Meskipun perut sudah terasa sakit, tetapi aku belum mau diajak ke RS. Karena masih belum begitu terasa. Tidak mau terlalu lama di RS.
***
Bersambung