Ketika rasa sakit hilang, aku jalan-jalan di sekitar kamar dan sering berjongkok. Saat menyerang lagi, aku berbaring. Sampai pukul delapan masih suka muncul dan hilang. Segera menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke RS. Memasukkannya ke dalam tas besar. Sewaktu-waktu rasa nyeri semakin menjadi, bisa langsung berangkat.
Malam berjalan sangat lambat. Kulihat Althan sudah tertidur. Sedangkan aku belum bisa memejamkan mata, semakin ke sini semakin sakit. Sering ke toilet untuk buang air kecil. Pukul dua dini hari, tiba-tiba keluar lendir berwarna merah. Berarti memang aku mau melahirkan. Namun, masih belum membangunkan Althan, menunggu nanti saja. Masih bisa menahan. Janin di dalam perut masih terasa menendang-nendang.
Pukul tiga dini hari, aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang semakin nikmat. Jarak kontraksi sudah tiap sepuluh menit sekali. Rasanya semakin kuat. Akhirnya, aku membangunkan Althan.
“Sayang … ayo kita ke RS sekarang. Aku sudah nggak tahan. Tadi juga udah mengeluarkan lendir.” Aku mengusap pipi Althan lembut.
Althan menggeliat, mengerjap-ngerjapkan mata. “Sudah terasa sakit sekali, ya?” tanyanya.
Aku mengangguk, sambil meringis menahan rasa nikmat yang tak terkira.
“Bentar. Aku cuci muka dulu, ya?”
Aku menunggu sambil berbaring, sudah tidak kuat berdiri rasanya. Nikmatnya tiada tara.
“Althan! Cepat dikit! Sakit sekali ini!” teriakku.
Althan buru-buru keluar dari toilet, lalu menyambar jaket yang tergeletak di sofa dan mengambil tas besar yang aku letakkan di kasur.
“Ayo. Aku papah, perlahan.”
Aku hanya bisa pasrah. Tak bisa menolak. Sudah tidak kuat berjalan juga rasanya. Ya Allah … lancarkanlah proses persalinan hamba. Selamatkanlah nyawa kami berdua..Setelah sampai di halaman, segera masuk ke mobil dan bergegas meluncur menuju RS terdekat. Mobil melaju dengan cepat. Aku memejamkan mata. Menahan rasa kontraksi yang semakin nikmat rasanya. Menarik napas panjang dan mengembuskannya.
***
Tiba di RS aku segera dibawa ke ruang IGD. Sementara Althan ke bagian administrasi untuk melengkapi registrasi. Di dalam ruang IGD diperiksa oleh perawat. Menanyakan keluhan yang aku rasakan. Kemudian memeriksa kondisi fisik seperti tekanan darah, nadi dan pernapasan. Lalu, bidan datang mengecek pembukaan. Ternyata sudah pembukaan empat. Kontraksi semakin kencang dan nikmat rasanya. Aku mengikuti instruksi dari bidan untuk menarik napas panjang, lalu mengembuskannya ketika kontraksi menyerang.
Kondisi semakin payah dan seperti ada yang mau keluar melalui jalan lahir. Maka bidan mengecek kembali, ternyata sudah pembukaan tujuh, padahal masih 30 menit dari waktu pembukaan empat tadi. Alhamdulillah jaraknya sebentar. Aku langsung dibawa ke ruang bersalin. Althan belum juga datang dari ruang administrasi. Padahal sangat membutuhkan Althan untuk saat ini.
Akhirnya Althan datang ke ruang bersalin tak lama setelah aku sampai. Dia memegang erat tangan dan menguatkanku. Dokter pun datang saat pembukaan delapan. Tak lama kemudian merasa seperti ingin mengejan dan mengeluarkan sesuatu dari jalan lahir, ternyata itu air ketuban. Dokter menginstruksikan untuk mengejan lebih kuat lagi. Tanpa terasa seperti ada sesuatu yang keluar melalui jalan lahir dan tak lama kemudian terdengar suara tangis bayi. Alhamdulillah, aku lega mendengarnya. Hanya perlu mengejan tiga kali, akhirnya bayi keluar dengan selamat. Tepat pada pukul lima pagi. Tak perlu waktu lama. Althan langsung mencium keningku dengan lembut.
“Terima kasih, Yang. Kamu telah berjuang untuk buah hati kita. Anak kita cowok. I love you,” bisik Althan.
Aku tersenyum mendengarnya. Tampak wajah Althan sangat bahagia. Perawat memberikan bayi kami kepada Althan untuk di adzani. Setelah itu segera dibersihkan oleh perawat. Sedangkan aku ditangani oleh dokter.
Setelah 30 menit pasca lahir. Bayi diberikan padaku, untuk melakukan IMD. Bahagia sekali rasanya, menyaksikan bayi mulai menggerakkan mulutnya seperti mau menyusu dan pertama kali yang dijilat adalah tangannya. Lalu, tak lama kemudian mulai mencari sendiri p****g s**u. Alhamdulillah bahagia yang tak terkira ketika merasakan p******a dihisap oleh bayi kita.
Setelah masa observasi selesai, segera dipindah ke ruang rawat ibu bersalin. Karena kondisi stabil dan tidak mengalami pendarahan. Hanya sedikit pusing dan lelah saja. Memilih rawat inap gabung, supaya bisa selalu dekat dengan bayiku. Bisa dengan leluasa jika sewaktu-waktu menyusui.
Aku berbaring di kasur ruang rawat gabung. Bayi kami diletakkan di sebelahku. Aku tersenyum memandang wajah bayi kami yang sedang tertidur pulas. Wajahnya sangat mirip dengan Althan.
“Semoga kamu menjadi anak yang sholeh dan berbakti sama orang tua. Kamu mirip sekali dengan papa.” Aku mengusap pipinya lembut.
Kira-kira pukul sembilan mama mertua datang ke RS. Kami memang tidak memberi kabar sewaktu mau melahirkan. Karena panik, jadi tidak sempat memberi tahu. Baru setelah bayinya lahir Althan mengabari mama.
Mama terlihat sangat bahagia. Dengan penuh kasih sayang menimang cucunya. Aku bersyukur sekali memiliki mertua seperti beliau. Tak menganggap sebagai menantu, tetapi sudah seperti anak kandung sendiri. Meskipun dulu sempat tidak merestui hubungan kami. Akan tetapi, setelah saling mengenal beliau sangat menyayangiku. Mungkin karena beliau tidak memiliki anak lagi selain Althan.
Ah, andai mama masih hidup. Pasti kebahagiaan ini akan sangat sempurna. Namun, beginilah takdir, tak akan ada sesuatu yang sempurna. Di saat kita kehilangan, maka kita akan diberikan ganti yang lebih baik lagi.
Terima kasih Ya Allah atas nikmat yang telah Engkau berikan.
Selama di RS Mama tidak pernah lengah sedikit pun. Beliau selalu siap siaga. Bahkan tidak pulang. Menjagaku di sini, menggantikan Althan jika siang hari. Malam hari Althan baru datang. Mama menolak untuk pulang. Beliau lebih memilih tidur di RS.
Dua hari pasca melahirkan aku diizinkan pulang. Karena kondisi yang baik dan tidak mengalami keluhan apa pun.
Akhirnya bisa kembali ke rumah setelah dua hari berada di RS. Bisa menghirup udara segar kembali.
Sampai di rumah. Althan sangat antusias membantu menjaga bayi kami.
“Kamu istirahat aja dulu. Biar dedek bayi sama aku dulu,” ucap Althan sambil mengambil bayi kami dari gendonganku.
Aku mengangguk. Bukannya tidur tapi aku malah melangkah keluar kamar. Ingin jalan-jalan ke halaman belakang. Melihat taman bunga. Supaya pikiran bisa fresh. Jika kondisi ibu bahagia maka bayi juga akan tumbuh menjadi anak yang sehat.
Ketika malam hari waktu untuk istirahat dan tidur, bayi kami malah mengajak begadang. Sudah disusui masih belum juga mau memejamkan mata. Menjelang dini hari barulah si bayi tidur. Namun, aku menikmatinya. Berpikir bahwa wajar jika bayi masih berusia di bawah satu bulan begadang di malam hari. Menangis karena suasana yang baru. Biasanya berada di rahim yang terasa hangat dan nyaman. Sekarang harus menyaksikan dunia luar yang terasa asing baginya.
Seringnya Althan menemani dan menggantikan menggendong bayi kami. Aku bisa beristirahat dengan tenang.
***
Kini, aku harus bisa mengatur waktu, karena sekarang aku menjadi ibu muda. Aku harus bisa beradaptasi dengan hadirnya seorang bayi. Aku yang dulu tak pernah terbangun saat tidur sekarang selalu terjaga tiap malam. Awalnya, aku memang stress, kadang malas bangun meski bayiku menangis. Althan selalu membangunkanku dengan lembut jika bayiku tak kunjung mau tidur kembali.
“Citya Sayang, bangun.” Aku samar-samar mendengar suara Althan, lalu terasa ada yang menepuk pipiku pelan. Aku mengucek mata, lalu membuka mata perlahan.
“Althan,” lirihku, lalu aku duduk dengan perlahan.
Althan tersenyum sambil mengayunkan bayi kami dengan lembut. Terdengar suara tangisannya.
“Ini Serkan, abis pipis udah aku gantiin popoknya, belum mau tidur. Masih nangis aja. Mungkin dia haus,” ucap Althan dengan lembut.
Aku tersenyum kecil. Merasa bersyukur karena Althan begitu tanggap dan suami yang memang siaga. Kalau Serkan tidak menangis, Althan tak pernah membangunkanku. Lalu, aku mengambil alih Serkan dari Althan.
“Sini Sayang, sama Mama. Maafin Mama, ya, nggak bangun pas kamu nangis. Mama capek,” ucapku tersenyum. Lalu, aku segera menyusui Althan.
Aku menoleh ke arah Althan. Wajahnya menunjukkan kelelahan, tetapi dia sama sekali tak mengeluh.
“Kamu tidur aja, Althan. Besok kamu harus masuk kerja. Maafin aku, ya? Belum bisa mandiri. Selalu merepotkan kamu.” Aku menatap Althan dengan rasa bersalah.
“Udah nggak apa-apa. Ya udah aku tidur dulu, ya? Nanti kalau kamu butuh apa-apa bangunin aku nggak apa-apa, kok.” Althan tersenyum, lalu mencium keningku dengan lembut.
Aku hanya mengangguk. Aku berharap Althan akan seperti ini selamanya, tidak akan pernah berubah sedikit pun. Lalu, aku melihat Althan tidur di sofa kamar dan tak lama kemudian dia terlelap. Sepertinya dia memang sangat lelah dan mengantuk. Aku jadi merasa bersalah karena tak pernah merepotkan Althan. Kemudian, aku fokus pada Serkan. Bayi mungil yang belum berusia satu bulan itu pun seperti kehausan. Aku tersenyum dan mengusapnya dengan lembut.
“Kamu nanti harus bisa jadi laki-laki seperti Papa, Nak. Yang sayang sama istri dan anak.” Aku mengusap kepalanya dengan lembut. Bayi mungil itu pun akhirnya terlelap dan berhenti men***u. Aku kemudian menaruhnya kembali di kasur. Ya, aku lebih senang Serkan tidur seranjang denganku, daripada tidur di box bayi. Box bayi hanya kugunakan untuk menaruhnya ketika siang kutinggal sendiri.
Setelah menidurkan Serkan, aku pun tidur kembali. Rasanya aku mengantuk sekali. Dan beruntungnya Serkan tidak rewel lagi.
***
Bersambung