Samar-samar terdengar azan Subuh. Aku pun menoleh ke arah Althan, dia belum bangun. Mungkin terlalu lelah karena semalam menunggu Serkan saat aku tidur. Kulihat Serkan pun masih pulas. Lalu, aku pun membangunkan Althan dengan lembut.
“Althan bangun, Sayang. Udah azan Subuh.” Aku mengguncang tubuh Althan dengan lembut.
“Iya, Sayang.” Althan mengucek matanya dan menatapku.
“Ambil wudu dulu gih. Aku siapin sarapan buat kamu, nanti kesiangan kerjanya.” Aku tersenyum menatap Althan.
“Nggak usah kalau kamu capek. Aku bisa sarapan di kantor nanti.” Althan mencegahku untuk menyiapkan sarapan.
Namun, aku tetap pergi ke dapur. Meski bagaimanapun aku harus tetap melayani suami. Agar dia tetap sayang dan perhatian padaku. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.45. Althan sudah pergi ke masjid. Dia memang suka salat ke masjid sekarang. Sementara aku terus berkutat di dapur. Sebelum Serkan nanti bangun. Ya, Serkan biasa bangun jam setengah enam. Terkadang jam lima pun sudah bangun. Karena memang Serkan tidur sudah dini hari. Mungkin memang kebiasaan bayi yang belum berusia satu bulan. Mama mertuaku juga cuma menginap dua hari semalam sewaktu aku baru lahiran. Papa mertua belum menengokku sama sekali. Entahlah, meskipun aku dan Althan sudah resmi menjadi suami istri yang cukup lama, tetapi papa mertuaku memang tak seantusias mama mertua. Pandangannya padaku pun seperti tak suka. Padahal aku sudah berusaha bersikap sangat sopan pada beliau. Namun, entahlah. Setiap aku tanya pada Althan, pasti jawabannya memang karakter papa yang seperti itu. Bahkan, saat Mama meninggal dulu, papa mertua juga tidak datang takziah ke Malang. Hanya Mama mertua dengan satu keponakannya.
Aku merasa memang tak diharapkan dan dihargai oleh keluarga Althan. Namun, aku selalu bersikap biasa saja. Terus berbuat baik pada mereka. Dulu, sebelum tinggal di Jonggol sini, aku juga sering datang ke rumah Mama mertua.
Akhirnya, masakanku pun siap. Aku segera menyiapkan bekal untuk Althan dan menyiapkan sarapan di meja makan. Tepat saat semua sudah siap, Serkan pun bangun. Terdengar suara tangisannya yang keras dari lantai atas. Aku segera naik untuk melihat Serkan. Untungnya sudah aku pindah ke box bayi.
“Halo sayangnya Mama. Maafin Mama ya, Serkan ditinggal. Mama lagi nyiapin sarapan buat Papa, Sayang.” Aku tersenyum dan memeriksa popoknya. Ternyata dia mengompol.
Setelah selesai kuganti popoknya, Serkan pun diam. Kemudian, kuberi dia ASI lagi. Aku tersenyum puas menyaksikan bayiku men**** dengan tenang.
***
Hari-hari kulalui dengan semangat, meski kadang lelah menyertai. Althan sekarang lebih sering pulang hampir tengah malam. Kadang dia juga pulang tiga hari sekali. Aku tak terlalu kesepian karena ditemani dengan Serkan. Serkan pun sudah mulai terdengar celotehannya. Dia berumur dua bulan sekarang.
Althan juga memberiku asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumahku. Walaupun aku menolak, karena aku bisa melakukannya sendiri. Namun, Althan tetap memaksa, katanya supaya aku fokus merawat dan menjaga Serkan. Aku pun menurut. Sesekali kuajak Serkan jalan-jalan di sekitar kompleks.
“Bi Ijah, saya mau jalan-jalan di sekitar kompleks dulu, ya?” pamitku pada Bi Ijah, ART baruku.
“Iya, Bu.” Bi Ijah tersenyum.
Saat Althan memaksaku untuk memberiku ART, maka aku mengizinkan asal dia kudu berjilbab. Juga usianya yang tidak lagi muda. Karena aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ya, walaupun sejauh ini Althan memang bersikap baik padaku. Dan seperti sangat menyayangiku, tapi waspada juga perlu.
Setelah berpamitan pada Bi Ijah, aku pun melangkah keluar. Lalu, aku berjalan di sekitar kompleks dan menuju taman dekat kompleks. Saat hendak duduk, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku pelan.
“Citya, kan, ya?” tanyanya.
Aku langsung tersenyum saat melihat siapa dia.
“Hesti! Ya Allah! Kamu!” Aku bahagia saat mengetahui wanita itu sahabat aku di masa SMP. Sudah bertahun-tahun lamanya kami tidak pernah bertemu.
“Iya, Citya. Nggak nyangka kita bisa ketemu di sini. Kamu nikah sama orang sini?” tanya Hesti sambil menatapku.
“Nggak, suamiku orang Jakarta. Aslinya orang Turki, terus dia ikut ayahnya ke Indonesia. Ayahnya di Jakarta. Karena sesuatu hal kami pindah ke Jonggol sini.” Aku bercerita sambil tersenyum.
“Alhamdulillah kalau kamu udah nikah. Dengar kabar dulu katanya kamu sempat gagal menikah, ya?” tanya Hesti sambil menatapku sendu.
Aku mengangguk pelan. Lalu, teringat kembali pada masa dulu. Masa di mana aku terpuruk karena kehilangan Mas Hamdan.
“Iya, alhamdulilah Allah masih sayang padaku, Hesti. Dulu aku sempat terpuruk dan menjauh dari Allah. Sebab, Dia selalu merenggut kebahagiaanku. Bahkan, beruntun aku kena musibah. Pernah hampir gagal menikah dengan suamiku yang sekarang juga. Terus kehilangan calon buah hatiku dan untuk mendapatkan anak lagi, lama.” Matamu terasa mengembun saat bercerita tentang masa laluku.
Hesti mengusap pundakku pelan. Matanya pun berkaca-kaca.
“Kamu yang sabar, ya, semua itu ujian. Yang penting sekarang kamu udah kembali ke jalan yang benar. Udah mau pakai jilbab lagi.” Hesti tersenyum menatapku.
“Terus kalau kamu gimana? Nikah sama orang sini juga?” tanyaku.
Hesti langsung berubah mukanya, membuatku mengernyit dan menatapnya heran.
“Aku ke sini karena pindah juga. Aku ... ingin melupakan kenangan pahit bersama mantan suamiku.” Hesti menghela napas panjang.
“Maksudnya?” tanyaku kemudian duduk. Hesti juga duduk sambil pandangannya kosong ke depan.
“Ya, kami bercerai setelah menjalani biduk rumah tangga yang cukup lama. Hampir sepuluh tahun kami menikah. Akhirnya, harus kandas karena hadirnya orang ketiga. Mantan suamiku terpincut dengan wanita lain, lalu aku meminta bercerai darinya. Aku nggak sanggup kalau harus diduakan. Dia lupa gimana dulu kami berjuang bersama dari 0, saat dia sudah punya segalanya lupa padaku dan anaknya.” Hesti meneteskan air mata. Aku bersedih mendengar kisahnya.
Ya Allah, ternyata kisah Hesti lebih menyedihkan dari kisahku. Aku menghela napas dalam.
“Aslinya suami kamu orang mana?” tanyaku.
“Dia Jakarta juga. Saat aku mau kembali ke Malang, aku nggak sanggup. Aku nggak mau membuat malu orang tuaku. Jadi aku memutuskan untuk pindah ke sini, dan nggak nyangka akhirnya bisa ketemu kamu di sini.” Hesti tersenyum menatapku.
Lalu, setelah cukup lama kami mengobrol datang seorang bocah wanita kira-kira berusia enam tahun. Wajahnya sangat cantik.
“Mama, Cika haus.” Bocah itu berucap pada Hesti.
“Ini anak kamu?” tanyaku.
“Iya.” Hesti mencoba untuk tersenyum.
“Halo, Sayang. Kenalan dong. Tante temannya Mama kamu.” Aku mengusap rambut Cika dengan lembut.
“Halo, Tante.” Cika mencium tanganku dengan takzim. Aku tersenyum melihat kesopanan anak Hesti.
“Namanya siapa?” tanyaku lagi.
“Cika, Tante. Tante siapa? Terus ini dedeknya juga siapa?” tanya Cika dengan polos.
“Nama Tante, Citya. Ini namanya Dedek Serkan.” Aku kembali membelai rambutnya dengan lembut.
“Wah, Dedek cowok ya Tante? Hore Cika punya Dedek cowok, akhirnya bisa punya Dedek cowok.” Cika melompat kegirangan setelah tahu kalau anakku cowok.
“Dia pengen banget punya adek cowok. Tapi, semuanya hancur karena kehadiran wanita itu.” Hesti menghela napas dalam.
Aku mengusap pundak Hesti mencoba menenangkan.
“Kamu yang sabar, ya?” Hesti hanya mengangguk pelan.
“Eh, gimana kalau kita main ke rumahku. Deket, kok, dari sini,” ajakku pada Hesti dan anaknya.
Hesti hanya bergeming, lalu dia menatap putrinya dan bertanya pada putrinya.
“Ayok Ma kita ikut Tante Citya. Kita ke rumah Dedek Serkan.”
Melihat keceriaan Cika, Hesti pun memenuhi permintaanku. Aku juga seneng melihat tingkah lucu Cika. Serkan masih saja tertidur dengan pulas. Lalu, kami pun melangkah meninggalkan taman. Dalam perjalanan pulang ke rumah, dalam hati aku tak lupa berdoa agar jangan sampai Althan meninggalkan aku dan Serkan demi wanita lain. Aku tak bisa membayangkan kalau seandainya Althan menikah lagi dengan wanita lain di belakangku.
Aku mendesah pelan. Aku terus meminta pada Althan agar selalu diberi keteguhan hati menyayangiku dan Serkan. Ya, walaupun sekarang Althan sering tidak pulang.
Kami berjalan beriringan menuju rumahku.
“Suamimu kerja di mana, Cit?” tanya Hesti sambil terus berjalan.
“Di Jakarta, Hes. Jujur kami pindah ke sini dulu, karena supaya aku bisa hamil. Karena setelah keguguran aku lama sekali menanti hadirnya buah hati lagi. Jadi, Althan mengajakku pindah ke sini.” Aku tersenyum.
“Wah, jauh dong ya pulang pergi dari sini ke Jakarta?” tanya Hesti lagi.
“Iya, tapi beberapa bulan terakhir ini, setelah aku punya bayi. Dia jarang pulang, paling tiga hari sekali, kadang seminggu sekali. Katanya banyak lemburan.” Aku tersenyum menatap Hesti.
Hesti kaget saat mendengar kalau Althan jarang pulang.
“Loh, jarang pulang?” tanya Hesti lagi.
“Iya, karena sering banyak lemburan. Pulang sampai larut malam, jadi daripada kemalaman di jalan, aku minta dia pulang ke rumah Papa dan Mama.” Aku tersenyum.
“Oh, jadi pulang ke rumah orang tuanya? Kupikir ke hotel. Hati-hati aja, tapi ya?” pinta Hesti.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Anakmu sini aku gendong dulu, biar kamu nggak capek,” pinta Hesti padaku.
“Eh, nggak usah, biar aku saja. Aku nggak capek, kok,” tolakku lembut.
“Udah sini.” Hesti memaksa untuk mengambil Serkan dari gendonganku.
Aku pun mengalah dan menyerahkan pada Hesti. Kemudian, aku menuntun Cika. Cika terlihat antusias saat tahu akan ke rumah Dedek bayi. Aku kasihan saat menatap Cika yang tak lagi memiliki ayah. Kasihan Cika harus kehilangan papanya. Tega sekali papanya meninggalkan Cika dan Hesti demi wanita lain. Kejam sekali papanya. Aku hanya bisa mendesah pelan.
***
Bersambung