Setelah pertemuan dengan Hesti, kini aku seperti memiliki saudara. Sebab, selama ini aku selalu sendiri. Entah, aku memang sulit untuk bisa akrab dengan seseorang. Tiga hari ini, Hesti sering ke rumahku karena Cika selalu mengajak bertemu dengan dedek bayi.
Kemudian, setelah beberapa hari Althan pulang dari Jakarta. Semakin ke sini Althan sangat jarang pulang. Bahkan, hampir dua minggu Althan tidak pulang, alasannya banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Aku percaya begitu saja, meski dalam hati selalu bertanya-tanya.
Sore ini, aku baru saja pulang dari jalan-jalan. Ya, aku memang suka sekali mengajak Serkan menikmati udara sore hari. Dan kebetulan kali ini, Hesti tidak ikut ke rumah. Saat aku memasuki rumah, langsung disambut oleh Althan. Aku terkejut karena Althan tak mengabari kalau akan pulang.
“Althan?” tanyaku dengan hati berbunga-bunga.
Althan hanya mengangguk. Aku pun langsung menghambur ke pelukan Althan. Namun, Althan tak seantusias biasanya.
“Althan, aku kangen banget lo.” Suaraku bergetar karena menahan tangis.
“Iya sama. Udah kasihan Serkan, sesek lo ntar dia.” Althan mengurai pelukan. Lalu, mengelus pipi Serkan dan menciumnya.
Aku menatap Althan dengan heran. Biasanya Althan akan sangat senang aku peluk dengan lama. Namun, kali ini berbeda. Tiba-tiba aku mempunyai pikiran yang jelek. Akan tetapi, segera kutepis pikiran itu. Mungkin Althan capek karena selama hampir dua minggu ini lembur terus.
“Ya udah, aku mandiin Serkan dulu, ya, Althan. Kamu mandi juga sana, biar seger. Biar wajahmu nggak lesu kayak gitu.” Aku menoel hidung Althan untuk menggodanya. Namun, ekspresinya seperti tak suka.
“Ish, apaan, sih! Nggak usah gitulah, lebay kamu!” sentak Althan.
Aku berjingkat kaget, karena tak biasanya Althan berkata dengan nada tinggi padaku. Mataku terasa memanas. Apakah aku lebay? Bukankah biasanya Althan sangat menyukai gurauanku? Aku segera melangkah dengan cepat, tak mau berpikir aneh-aneh lagi.
Aku menghela napas dalam. Lalu, segera memanggil Bi Ijah untuk menyiapkan air hangat untuk mandi Serkan. Suaraku bergetar menahan tangis.
“Ibu nggak apa-apa? Ibu sakit? Wajahnya, kok, kayak pucet.” Bi Ijah bertanya dengan nada yang terdengar heran.
“Eh, saya nggak apa-apa, kok, Bi. Udah gih cepat siapin air untuk Serkan, ya? Nanti takut keburu dingin.” Aku tersenyum pada Bi Ijah. Bi Ijah pun mengangguk.
Sepeninggal Bi Ijah, aku masih saja bertanya-tanya tentang perubahan sikap Althan. Aku juga menanti dia masuk ke kamar, tapi lama tak juga kunjung datang. Aku pun membangunkan Serkan, karena bayi dua bulan ini tak mau membuka mata meskipun akan dimandikan. Perjuangan berat sekali untuk membangunkan bayi berumur dua bulan ini.
Akhirnya, terdengar suara tangisannya. Aku pun mengajaknya berbicara agar dia tak lagi tidur. Aku sengaja tak meny***inya karena takut dia akan tidur lagi. Meskipun belum bisa sepenuhnya merespons, tetapi dia sudah bisa mendengar ketika kuajak berbicara. Tak lama kemudian, Bi Ijah datang untuk memberi tahu kalau air hangat untuk Serkan sudah siap. Aku pun segera membawa Serkan ke bawah.
Saat aku turun ke bawah, aku berpapasan dengan Althan. Wajahnya begitu satu, dia juga tak menyapaku. Aku curiga pada Althan. Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Sebab, tak biasanya Althan seperti ini.
Aku nanti harus bicara pada Althan baik-baik. Aku menghela napas dalam.
Setiba di bawah, aku segera melepas pakaian Serkan dan memandikan Serkan di bak mandi. Aku memang sengaja tak memakai pengasuh untuk mengurus Serkan, semuanya aku usahakan kulakukan sendiri. Apalagi sudah ada ART untuk membantu pekerjaan rumah. Aku ingin menciptakan bonding antara Ibu dan anak, apalagi untuk sementara aku memang tidak bekerja. Namun, entah nanti kalau Serkan sudah agak besar, sepertinya aku harus berkarier kembali. Sebab, aku tipe orang yang tidak betah tinggal diam di rumah.
Akhirnya, Serkan selesai kumadikan. Aku membungkusnya dengan handuk. Serkan terlihat bahagia setelah kumandikan, wajahnya terlihat segar. Aku segera membawanya ke kamar atas. Setiba di dalam kamar kulihat ada Althan, sepertinya dia juga sudah mandi. Wajahnya tak selesu tadi.
“Wah, ganteng Papa udah mandi. Cakep nih.” Althan melangkah ke arahku dan mencium pipi Serkan. Serkan pun geleng-geleng, mungkin geli karena sekarang tumbuh bulu-bulu halus di wajah Althan.
Melihat wajah ceria Althan seperti sekarang ini, pikiran burukku tadi puk menguap. Mungkin tadi memang Althan sedang lelah, baik badan ataupun otaknya. Buktinya sekarang dia baik-baik saja. Lalu, dia pun mencium pipiku sekilas saat aku melangkah melewatinya. Kebiasaan Althan sejak dulu. Aku kaget dan menoleh ke arahnya. Matanya menatapku dengan genit.
Ah, Althan, ternyata kamu masih Althan-ku yang dulu. Tidak berubah. Aku sudah takut dan berpikiran macam-macam. Mataku tiba-tiba perih dan terasa mengembun. Althan menatapku dengan mengernyit.
“Hei, kamu kenapa Sayang?” tanya Althan.
Aku hanya menggeleng. Lalu, segera menaruh Serkan di kasur dan hendak menyiapkan baju. Namun, lagi-lagi Althan segera membantuku menyiapkan baju Serkan.
“Nah, udah siap. Sini sama Papa, ya, Nak? Kasihan Mama pasti capek sekali.” Althan lalu mengambil alih tugasku.
Aku terharu dengan sikap Althan. Aku terus memandangnya tanpa kedip.
“Nah, sudah ganteng anak Papa.” Lalu, Althan menggendongnya.
Serkan kemudian menangis, mungkin dia haus.
“Kenapa nangis Sayang? Ini, kan, gendong Papa. Maafin Papa, ya, lama nggak pulang. Kangen sama Papa, ya?” Althan mencium Serkan.
Namun, Serkan tidak mau berhenti menangis. Kemudian, aku mengambil alih untuk menggendong Serkan.
“Sini sama Mama. Serkan haus, ya? Ayok mimik c*c* dulu.” Aku tersenyum sambil mengambil Serkan dari gendongan Althan.
Saat kugendong Serkan langsung diam. Kemudian, aku segera meny*s*inya. Dia sangat lahap sekali, seperti sangat kehausan. Aku mengusap pucuk kepalanya dengan sangat lembut. Althan duduk di sampingku, sambil memelukku dari samping.
“Maafin, aku, Sayang,” bisiknya tepat di telingaku.
Di dalam rumah aku memang tidak memakai jilbab, jadi embusan napas Althan langsung terasa di telingaku, membuatku meremang. Karena lama tak pernah mendapat perlakuan manis dari Althan.
“Althan,” panggilku.
“Iya,” jawab Althan.
“Emmm, aku mau tanya sesuatu boleh?” tanyaku ragu-ragu.
“Boleh dong. Tumben mau tanya harus bilang dulu.” Althan langsung menoel hidungku dengan lembut.
Aku hanya tersenyum. Lalu, setelah Serkan terlihat pulas, aku menidurkannya di box bayi. Serkan terlihat begitu pulas. Aku tersenyum menatapnya.
“Kamu mau tanya apa Acitya Sayang?” Althan langsung memelukku dari belakang dan menaruh dagunya di atas pundakku.
Aku melepas pelukannya perlahan, lalu menghadap ke arah Althan dan menangkup kedua pipinya. Kemudian, aku mencium b*b**nya sekilas. Aku menghela napas dalam dan melangkah ke arah tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Althan pun mengikutiku.
“Emmm, janji jawab dengan jujur, ya?”
Althan mengangguk.
“Kenapa kamu sering nggak pulang? Kamu beneran lembur dan banyak kerjaan atau karena ada sesuatu?” tanyaku dengan hati-hati.
Althan langsung menatapku dengan tajam.
“Kenapa kamu tanya gitu? Kamu mencurigaiku?” tanya Althan dengan nada suara yang tak mengenakkan.
“Nggak gitu. Aku, kan, cuma tanya. Kamu tinggal jawab. Apalagi tadi saat kamu baru datang, pas aku peluk kamu kayak nggak seneng gitu. Bahkan, tadi pas aku pegang pipi kamu, kamu juga marah. Kamu nggak ingat tadi udah ngebentak aku?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Udah deh, Cit. Nggak usah tanya yang aneh-aneh. Aku di Jakarta itu kerja buat cari nafkah untuk kamu dan anak kita. Jadi, nggak usah mikir macem-macem!” Nada suara Althan kembali berubah.
Aku semakin heran dengan perubahan sikap Althan.
“Ya, tapi--”
“Udah ah, aku lapar! Kamu mau nyiapin makan malam apa nggak? Atau kamu mau aku mati kelaparan?” tanya Althan dengan nada sengau.
Aku kaget mendengar kata-kata Althan.
“Althan! Apa maksud kamu?” Aku menatap Althan dengan tajam.
Althan bergeming, lalu dia meninggalkanku yang masih diliputi rasa penasaran. Althan sungguh aneh.
“Althan tunggu!” teriakku saat Althan hendak membuka pintu kamar dan keluar. Althan menoleh.
“Kamu di sini jaga Serkan, aku mau bantu Bi Ijah nyiapin makan malam kita.” Aku berkata dengan nada selembut mungkin. Walaupun dalam hati sedih dengan bentakan Althan tadi.
Althan hanya diam, tetapi dia tak jadi keluar dan kembali ke sofa di kamar. Setelah itu aku pun melangkah meninggalkan Althan. Sempat kulirik dia memijat pelipis kepalanya. Sepertinya dia memang benar ada yang disembunyikan. Namun, aku tak akan memaksa Althan untuk bercerita padaku.
“Citya!” panggilnya.
“Ya?” Aku menoleh ke belakang.
“Maafin aku tadi ya, udah bentak kamu.” Althan menatapku dengan pandangan menyesal.
Aku hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan saja. Lalu, aku segera melangkah keluar. Air mataku terasa menetes, aku pun menghapusnya. Aku tak mau Bu Ijah tahu kalau aku menangis.
Lalu, saat aku tiba di dapur, ternyata Bi Ijah sudah selesai memasak untuk makan malam. Aku hanya tinggal membantu menyiapkan saja. Meskipun aku menggaji Bi Ijah, tetapi aku tak pernah menyerahkan pekerjaan rumah secara bulat-bulat pada Bi Ijah. Kalau aku pas senggang dan Serkan tidur pasti aku membantu pekerjaan Bi Ijah. Bi Ijah sampai kadang melarangku karena merasa tak enak jika aku membantu pekerjaannya. Katanya sudah kewajiban Bi Ijah. Namun, aku tak mengindahkan kata-kata Bi Ijah.
Setelah selesai, aku pun segera ke atas untuk memanggil Althan. Namun, langkahku terhenti saat kudengar Althan sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Aku mendengarkan di balik pintu.
“Nggak, Pa! Althan nggak mau nyakitin hati Citya!” Suara Althan seperti orang yang sedang marah.
“........”
“Jangan paksa Althan, Pa! Althan sudah bahagia dengan keluarga kecil Althan.”
“............”
“Pa, Althan tahu dari dulu Papa nggak 100 persen setuju dengan pernikahan Althan dan Citya. Tapi, sekarang lain Pa. Althan sudah punya anak. Jadi stop meminta Althan meninggalkan Citya!” sentak Althan.
Deg! Rasanya seperti ada yang berdenyut di dalam sini setelah mendengar kata-kata terakhir Althan. Mataku menghangat. Althan sedang berbicara dengan papa mertuaku. Meskipun aku tak mendengar apa yang dikatakan papa, tapi rasanya begitu sakit. Ternyata papa tak seratus persen merestui hubungan kami. Ah, kenapa Althan tak pernah cerita padaku? Mungkinkah karena dia tak mau membuatku sakit hati? Tanpa terasa buliran hangat menetes membasahi pipi. Aku segera mengusapnya dan mengetuk pintu.
Saat aku masuk, Althan seperti kaget. Dia segera menutup ponselnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Eh, Citya. Kamu baru masuk apa udah dari tadi?” tanya Althan dengan gugup.
“Baru aja. Aku mau kasih tahu kamu kalau makan malam udah siap. Kita makan dulu, atau nunggu setelah salat Magrib? Sebentar lagi azan Magrib kayaknya,” ucapku.
“Emmm, ntar aja dulu, nanggung. Mendingan sehabis salat Magrib aja,” sahut Althan.
“Ya udah kalau gitu. Aku mau gendong Serkan dulu, udah mau Magrib soalnya.” Aku kemudian melangkah ke arah box Serkan. Lalu, menggendongnya dengan perlahan. Aku sengaja tidak bertanya perihal Althan telepon dengan siapa, agar Althan tak khawatir kalau aku mendengar percakapannya dengan papa tadi. Aku menghela napas dalam.
“Citya!” panggil Althan.
“Ya?” Aku mencoba tersenyum pada Althan.
“Nggak jadi, deh. Kamu cantik sekali.” Althan tersenyum.
Aku hanya mengulum senyum. Merasa malu dengan kata-kata manis Althan. Ah, Althan kenapa kamu tidak pernah cerita masalah ini padaku? Aku hanya terus menatap Althan tanpa kedip.
***
Bersambung