“Althan … apa kamu serius sama aku? Kamu yakin nggak bakal nyesel nanti? Alasan kamu memilihku apa?” tanyaku dengan bibir sedikit bergetar.
“Citya … aku nggak pernah mampu memberikan alasan kenapa bisa mencintaimu. Hanya kamu satu-satunya yang ada di hati dan mataku. Kamulah impian dan harapan calon ibu dari anak-anakku. Aku mencintai dan menerima kamu apa adanya. Di hati dan mataku kamu selalu yang tercantik.” Dia berkata sambil tetap menggenggam tanganku dengan erat.
Entahlah aku tak tahu harus menjawab bagaimana.
“Kalau diam bagaimana?” Aku menatap wajah Althan yang berseri.
“Diam berarti menerima,” jawab Althan sambil tersenyum.
Aku tersipu malu dan pasti sekarang pipi ini sudah merah merona seperti tomat yang sudah matang. Semua yang terjadi sekarang dijalani dulu, yang nanti dipikir belakangan. Hati terasa berbunga-bunga, akhirnya menemukan cinta sejati yang suci dan tulus.
Althan memakaikan cincin di jari manisku, ukurannya sangat pas.
“I love you,” ucap Althan sambil mengecup keningku.
Aku mengulum senyum, tersipu malu. Dunia serasa milik berdua. Inilah perasaan orang yang sedang dimabuk cinta. Dunia seolah berhenti berputar.
Althan mengajakku menikmati suasana pantai yang indah. Kami duduk di bibir pantai memandang lautan. Deburan ombak yang sangat lembut ditambah semilir angin pantai yang sejuk membuat kondisi semakin romantis. Aku bersandar di pundak Althan. Tangannya pun memeluk pinggangku.
Lalu, hening dan senyap. Kami berbicara melalui hati. Menumpahkan segala rasa yang bergejolak di dalam d**a.
“Citya … apa kamu bahagia sekarang?” tanya Althan.
“Iya. Sangat bahagia.”
Kembali sepi. Kami saling terdiam. Menyalurkan rasa bahagia yang membuncah. Hanya terdengar deburan ombak yang seperti musik relaksasi. Terlihat kerlap-kerlip lampu dari perahu di tengah lautan. Menambah situasi semakin romantis.
***
Hariku semakin berwarna setelah menjalin hubungan dengan Althan. Dia senantiasa membuatku berseri sepanjang waktu. Aku berterima kasih karena Althan mampu membuatku melupakan Mas Hamdan. Lelaki itu, terkadang juga suka mengingatkanku untuk kembali memercayai takdir Tuhan. Namun, entah, hati masih tertutup. Perlahan sudah mulai menerima takdir yang menimpaku. Hati sudah sedikit mencair, walau belum seutuhnya bisa menjalankan kewajiban wajib. Mungkin suatu saat nanti jika aku sudah benar-benar siap. Althan selalu mengingatkanku, jika Tuhan pasti mempunyai rencana yang lebih indah dari yang kutahu.
Aku suka dengan cara Althan menasehati. Dia tak menggurui, meski aku masih belum sepenuhnya bisa menjalankan hal wajib dalam agama. Namun, dia tak pernah memaksa. Biarkan semua berjalan seperti air mengalir.
“Melihatmu sudah nggak menyalahkan takdir aja aku udah bahagia, Cit. Semoga suatu waktu Tuhan membuka pintu hatimu lebih lebar.” Kata-kata Althan selalu terngiang di telinga.
Iya, harusnya aku memang berterima kasih pada Tuhan karena ujian dan cobaanya yang bertubi-tubi, membuatku kuat dan tangguh. Sehingga mampu menjadi seperti sekarang ini. Oh, Allah ... maafkan segala kesalahanku yang lalu. Yang senantiasa menyalahkan takdir dan kuasa-Mu. Aku sempat membenci-Mu, tak selayaknya berbuat demikian. Aku menyesal. Ampunilah dosaku yang telah lalu. Aku menarik napas panjang.
Jiwa sedikit tentram dan lega. Ikhlas menerima takdir Allah lebih membuat atma tenang. Tak lagi dirundung pilu dan nestapa.
Aku sudah hampir satu minggu tak bertemu Althan. Rindu dalam d**a terasa membuncah. Kami hanya berkomunikasi melalui ponsel. Semua itu kulakukan, karena ingin fokus dalam menyusun tesis agar selesai dengan cepat.
Malam ini tampak indah. Aku membuka jendela kamar kost. Bintang bertaburan di angkasa, berkerlap-kerlip menambah suasana cemerlang. Cahaya bulan sabit pun tampak memesona. Tiba-tiba dikagetkan oleh bunyi getar ponsel. Aku membukanya. Mata berbinar ketika membaca nama yang tertera di layar persegi panjang itu.
[Gimana, udah selesai tesisnya?] WA dari Althan.
[Udah. Besok tinggal sidang aja.]
[Cepat istirahat. Supaya besok fresh. Nggak ngantuk dan lancar menghadapi dosen penguji.]
[Beres, Bos. Aku kan pinter.] Sambil memberi emoticon meledek.
[Nggak boleh sombong. Sidang tesis nggak semudah seperti skripsi.]
[Iya. Doakan besok lancar dan nggak gugup, ya.]
[Iya, Sayang.] Dia memberi emoticon cium.
[Dasar mesum.] Kuberi emoticon marah.
[Tapi kamu suka, kan?]
[Nggak!]
[Beneran, nih? Ok, aku tinggal ke Turki lagi nggak masalah, ya?]
[Tinggalin aja kalau berani.]
[Udah, ah, cepet tidur sana.]
[Iya, cerewet!]
[Good night. Have a nice dream, Honey.]
[Good night too.]
Aku langsung mematikan ponsel. Lalu, masuk ke kamar dan menghempaskan tubuh ke ranjang. Menatap langit-langit kamar yang gelap. Perlahan mata terpejam.
***
Pagi ini cuaca cerah, tak ada awan sedikit pun di langit. Aktivitas jalanan sudah padat. Lalu lalang kendaraan menambah riuh di jalan raya. Belum lagi suara pedagang asongan yang berteriak menawarkan dagangannya.
Aku bergegas ke halte untuk menunggu bus. Harus cepat agar tak telat. Hari ini jadwal sidang tesis. Aku tegang dan gugup. Tak berapa lama bus datang tepat waktu, segera naik. Bus pun meluncur membelah jalanan kota. Aku melihat ke luar jendela. Tanpa terasa sampailah bus di halte berikutnya.
Setengah berlari menuju kampus. Aku bersyukur karena sampai di ruang sidang sebelum dosen penguji tiba. Aku mengusap d**a, napas sedikit tersengal. Lalu, duduk sambil menunggu datangnya dosen.
Tak berapa lama dosen penguji tiba. Aku semakin gugup dan tegang. Menghadapi empat orang dosen penguji itu rasanya seperti mau di eksekusi mati. Keringat dingin keluar di dahi.
Akhirnya sidang dimulai. Ketua komite membuka forum dan memperkenalkan semua anggota, serta menyampaikan tata cara ujian, sistem penilaian dan kriteria kelulusan.
Kemudian aku mempresentasikan hasil tesis selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu diadakan sesi tanya jawab dan kritik saran.
Akhirnya konferensi berjalan dengan lancar. Aku menarik napas panjang menanti keputusan ketua komite. d**a berdebar tak karuan. Jantung berdetak lebih cepat. Gugup.
Akhirnya, aku bernapas lega. Keputusan hasil sidang, dinyatakan lulus. Alhamdulillah. Lega rasanya. Tinggal menyerahkan berita acara ke bagian administrasi akademik. Setelah itu keluar dari ruangan yang menyeramkan itu.
Tiba di halaman kampus, ponsel bergetar dan tertera nama Althan di layar benda pipih itu. Aku pun memencet tombol warna hijau.
[Assalamualaikum.] Terdengar suara Althan dari seberang.
[Waalaikumsalam.]
[Gimana, udah selesai sidangnya?]
[Udah. Ini lagi mau jalan pulang.]
[Aku di kafe dekat kampus. Ke sini, ya?]
[Iya, aku ke sana sekarang. Assalamualaikum.]
Sambungan telepon langsung kumatikan dan bergegas menuju kafe. Rasanya sudah tidak sabar bertemu Althan. Rasa rindu dalam hati sudah sangat menggebu sekali, karena sudah lama tak bertemu dengan Althan. Sebab, memang aku mau fokus pada tesisku.
***
Bersambung