Seharian ini aku gelisah. d**a berdebar hebat. Jantung berdetak lebih kencang. Lelaki berwajah Timur Tengah itu mampu membuat kasmaran. Pesannya tadi menjadikanku terus mengingatnya. Bayangannya berkelebat di depan mata. Dia mengajak makan malam.
Aku langsung mengobrak-abrik lemari. Mencari gaun yang pas untuk nanti malam. Ingin tampil berbeda dari biasanya. Selama ini aku selalu berpenampilan polos dan tomboy. Nanti malam ingin sedikit terlihat lebih cantik.
Waktu berjalan dengan cepat. Siang telah merangkak pergi, berganti dengan senja. Lalu, datanglah petang. Aku melihat benda mungil yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum sudah menunjuk angka enam. Hatiku semakin deg-degan. Biasanya tidak seperti ini. Ah, ini semua karena pria beralis tebal itu. Kalau bukan karena dia tak mungkin sibuk begini. Aku menghela napas panjang.
Aku pun bergegas memakai mini dress selutut berwarna krem dengan motif bunga di bagian d**a. Lalu, memakai sepatu flat warna emas. Meskipun bertubuh mungil, tak pernah menggunakan high heels. Rasanya sangat tidak nyaman. Lalu, mulai memoles foundation dan bedak secara tipis di pipi agar tampak natural. Kemudian, menggunakan eyeshadow cokelat tua supaya mata terlihat berdimensi. Tak perlu maskara karena bulu mata sudah lentik. Tak lupa pula mengoleskan lipstik matte warna pink di bibir.
Aku mematut diri di depan cermin. Tersenyum puas menyaksikan perubahan pada diri sendiri. Tampak berbeda dari biasanya.
“Ternyata cantik juga.” Aku bergumam sendiri sambil terus memandangi wajah di cermin.
Lalu, terdengar ponsel bergetar. Tertera nama Althan di layar, aku pun menerimanya.
[Aku sudah di depan gerbang. Cepat keluar!] Nada suaranya terdengar memerintah.
[Iya, sebentar. Dasar cerewet!]
Aku segera keluar setelah memastikan penampilan sudah pas. Pupil mataku membesar melihat penampilan Althan. Dia sungguh membuat terkesima. Memakai jaket denim dan t-shirt warna putih serta celana jeans berwarna krem. Serasi dengan pakaianku.
“Hei, Cit. Malah bengong.” Althan mengibaskan tangannya di depan mataku.
Aku tergagap. Althan pun menarik tanganku dan membukakan pintu mobil. Menyuruh untuk masuk. Jantung berdegap lebih kencang lagi. d**a kembang kempis tak karuan. Pipi terasa panas. Mobil pun meluncur perlahan membelah jalanan kota yang mulai padat. Malam minggu memang jalanan ramai dengan pasangan muda-mudi yang berkencan.
Di dalam mobil kami saling terdiam. Sesekali aku melirik Althan. Hidung yang bangir dan bibir yang tipis membuatku terhipnotis. Mata ini tak pernah lelah untuk memandangnya.
“Althan.” Akhirnya aku memberanikan diri untuk memanggilnya.
Althan menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke depan.
“Ada apa?” tanyanya kemudian.
“Kita mau ke mana?”
“Sudah diam. Nggak usah banyak tanya,” ucap Althan sambil tersenyum.
Ah, senyum yang manis. Giginya yang berderet putih menambah nilai plus di mataku.
Lalu, hening. Hanya suara degup jantungku yang bekerja semakin keras.
Akhirnya, mobil berhenti tepat di pantai. Ternyata Althan mengajakku ke restoran tepi pantai. Tempatnya bukan sekadar rentetan meja di pinggir kolam. Akan tetapi, berada di atas air.
Dada berdebar dengan hebat. Jantung berdegup lebih kencang. Tanganku basah oleh keringat yang mulai berkumpul. Suasana yang sangat romantis dengan candle light dinner, bunga mawar merah, lagu-lagu yang mendayu, dan semilir angin pantai. Aku terpesona dengan semua ini. Tidak menyangka Althan menyiapkan semua ini.
“Kamu suka dengan tempat ini?” tanya Althan setelah kami sampai di meja makan.
“Suka sekali,” jawabku dengan mata berbinar.
Tak lama kemudian datang pelayan membawakan menu makanan. Ternyata Althan telah memesan makanan dan minuman sebelum kami tiba.
Kami pun mengobrol banyak hal. Sesekali aku mencuri pandang pada Althan. Keringat dingin mulai bermunculan di dahi. Kulit yang putih bersih serta senyumnya yang merekah membutakan mata hatiku.
“Citya ….”
“Iya,” jawabku sambil mendongakkan kepala menatap Althan.
“Eemm … nggak jadi. Makan saja dulu.”
Aku pun melanjutkan makan. Keadaan yang hening dan sunyi. Hanya semilir angin pantai yang menemani, serta deburan ombak yang lembut.
“Citya …,” ucap Althan tiba-tiba sambil meraih tanganku.
Aku menatap Althan. Hati terasa berdesir. d**a berguncang dengan kuat.
“A—ku.” Althan menggantungkan ucapannya lalu menarik napas dalam.
“Aku mencintaimu, Citya.” Dia berkata sambil menggenggam erat tanganku.
Pupil mata membesar dan terbatuk saat mendengar pernyataan cinta Althan. Ternyata benar dia mencintaiku. Seorang pria memberikan perhatian yang lebih pada kita, pasti memiliki perasaan yang istimewa.
“Dari dulu hingga sekarang. Namun, baru bisa mengungkapkan perasaanku padamu. Sebab, kalau kita berjodoh pasti akan bersama. Entah, kapan itu. Aku sangat mencintaimu, melebihi siapa pun. Aku yakin rasa sayang ini sangat besar padamu.” Dia berkata sambil menelisikku.
Aku menunduk tak kuasa membalas tatapan Althan. Dia mengangkat daguku dengan menggunakan jemari lembutnya hingga mau tak mau pandangan kami bertemu. Dia meminta jawaban yang pasti.
“Althan … kenapa kamu mencintaiku? Ada banyak wanita di dunia ini yang lebih dariku. Kenapa justru kamu memilih menyerahkan separuh hatimu padaku?” tanyaku.
“Apa cinta itu butuh alasan, Cit? Tidak, kan? Cinta itu datang sendiri dari sini,” ucap Althan sambil meletakkan tanganku di dadanya.
“Kamu merasakan debaran jantungku, kan? Inilah yang kualami setiap kali bersamamu. Aku menikmati kenyamanan dan lebih bisa menjadi diri sendiri ketika bersamamu. Mungkin ini terlalu berlebihan. Namun, memang beginilah yang kurasa,” ucapnya. Tatapan matanya tak lepas dariku.
Aku tersipu malu mendengar semua omongannya. Haruskah menjawab sekarang? Bagaimana kalau tidak mendapat restu? Bagaimana jika orang tua Althan tidak menyukaiku? Sebuah hubungan itu, bukan hanya ikatan antara dua insan yang saling mencinta. Akan tetapi, dengan banyak pihak. Dua keluarga saling berkaitan.
Aku mendongak memandang Althan. Dia sangat menunggu jawaban. Tampak dari wajahnya yang gelisah dan gugup.
“Citya … bagaimana? Maukah kamu menjadi istriku?”
Aku tersentak kaget. Istri? Dia melamarku sekaligus?
“Kalau kamu menerimaku, ambil cincin ini. Sebagai simbol jika kamu mencintai dan mau menjadi istriku. Aku ingin menikah denganmu secepatnya. Tak perlu berpacaran terlalu lama, kita sudah saling mengenal sejak dulu.” Dia berkata sambil memperlihatkan sebuah cincin di depanku.
Aku menatap Althan dan cincin itu secara bergantian. Cincin yang indah dan terdapat simbol huruf ‘C’, berarti Althan memang telah menyiapkan semuanya dari jauh hari.
“Citya … jawab dong. Jangan membuatku gelisah.” Althan terus memohon padaku. Aku masih bergeming sambil terus menatap Althan. Entah apa yang harus aku katakan.
***
Bersambung