Akhirnya, aku benar-benar pergi dari kota ini menuju kota kelahiranku. Aku naik kereta malam, saat aku berpamitan Hesti dan Cika menangis. Mereka memelukku dengan erat. Saat aku mengatakan pada Nisa kalau aku ingin pulang kampung dan tidak akan pernah kembali ke sini, dia terdengar menangis di telepon. Lalu, bertanya kapan aku akan pulang. Saat aku mengatakan kalau malam ini, ternyata dia pun datang ke stasiun. “Kak Citya!” teriak seseorang saat aku hendak melangkah menuju gerbong. “Nisa?” tanyaku dengan heran. Nisa langsung menghambur ke pelukanku. Dia menangis tersedu-sedu. Dia menyalahkanku karena tak mengatakan dari jauh-jauh hari. “Kenapa Kak Citya tega? Kenapa Kak Citya nggak bilang dari dulu kalau mau balik ke kota kelahiran Kakak? Kenapa harus dadakan gi

