Aku menghela napas dalam. Aku berjanji akan membantu merawat Vilia untuk membalas semua kebaikan Mas Evin. Selama ini dia selalu ada untukku, bahkan saat kondisinya terpuruk, dia sama sekali tak menunjukkannya padaku. “Mas Evin yang sabar, ya? Ikhlaskan semuanya Mas. Kita doakan Mbak Sinta agar dia tenang di sana.” Aku menatap Mas Evin dalam. Mungkin kalau dulu aku akan memeluk Mas Evin, tapi sekarang tidak. Meskipun kami saudara, tapi aku tahu kalau bukan saudara sekandung. “Iya, Cit. Aku udah berusaha menerima semua ini dengan ikhlas.” Mas Evin tersenyum menatapku. “Ya udah, kita ke kamar Vilia lagi yuk Mas. Kasihan dia,” ucapku sambil tersenyum. Mas Evin mengangguk dan kami pun melangkah menuju kamar Vilia. “Vilia sayang cepat sembuh, ya? Kalau sembuh

