Sepanjang Sakura melewati area kampus dari dirinya mulai memasuki gerbang sampai berjalan di selasar menuju blok tempat di mana kelasnya berada, hampir seluruh pasang mata di sana melihat ke arahnya. Rata-rata dari mereka melemparinya tatapan sinis sampai lupa untuk berkedip. Beberapa yang awalnya biasa saja karena memang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba ikut menyudutkannya dengan tatapan yang sama, sesaat setelah mereka menyaksikan sesuatu di layar ponsel yang ditunjukkan kepada mereka. “Itu dia mendadak pakai kacamata kenapa?” “Langsung rabun kali gara-gara habis nolak Angkasa.” “Nggak tau diri!” Sakura mendengar bisikan-bisikan itu yang ditujukan padanya. Tetapi ia ingat apa yang dikatakan ayahnya; Kita ditakdirkan hanya memiliki dua tangan. Bila kita tidak bisa menutup mulut-mulut me

