Berusaha untuk mengembalikan dirinya yang dulu, Sakura putuskan untuk tetap berangkat ke kampus dan tidak mengingat-ngingat kejadian yang menimpanya selama di sana. “Lo tau nggak, sih, kejadian pembunuhan enam tahun lalu?” “Yang mana? Yang istri ngebunuh suaminya sendiri?” “Iya. Itu ternyata orangtuanya Sakura. Anak Sastra Inggris, satu tingkat di bawah kita!” “Seriusan lo?!” “Dua rius. Lo liat, tuh, dia sekarang? Nggak tau malunya, malah berangkat bareng Angkasa.” Cibiran cewek-cewek hitz yang biasa duduk di kursi panjang halaman depan kampus, tentu saja bisa tertangkap oleh pendengaran Sakura. Belum lagi cowok-cowok yang tidak tahunya malah lebih parah. “Taruhan! Menurut lo sifat pembunuh ibunya nurun ke Sakura apa nggak?” “Bisa iya, bisa nggak, sih. Ya, fifty-fifty, lah.” “Nuru

