21

1896 Kata

Galen memarkirkan motornya tepat di depan rumah Sakura. Yang tak lama berselang, dilihatnya Angkasa keluar dan menyambangi dirinya. “Jaga dia, ya. Jangan sampai lo tinggal sendirian. Gue ada urusan yang mesti diselesaikan. Lo bisa, kan?” tutur Angkasa. Galen mengangguk. Lalu setelahnya ia masuk, untuk menggantikan Angkasa. Tetapi tidak tahu kenapa, Angkasa justru merasa asing dengan sikap Galen barusan. Angkasa mengenal tabiat Galen sejak mereka masih sama-sama kecil. Oleh karena itu, bukan hal yang lazim bagi Angkasa melihatnya bersikap diam seperti itu. Ah, entahlah. Angkasa hanya bisa berharap anak itu tidak minum obat penghilang kewarasan. *** Plak! Sebuah tamparan keras dari tangan besar Andre, mendarat kasar di pipi Angkasa. Tidak sampai situ, Andre juga menatap tajam mata Ang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN