Di sebuah kafe yang tidak jauh dari perumahan rumah mereka, Angkasa dan Galen duduk di satu meja yang bernuansa dingin. Bukan seperti dua orang sahabat kecil yang sedang menghabiskan waktu bersama, keduanya justru bersikap seperti dua orang asing yang bermusuhan atas konflik yang tak terselesaikan. “Lo suka sama Sakura?” tembak Angkasa yang memang pada dasarnya tidak suka basa-basi, atau apapun hal yang sifatnya bertele-tele. Di luar prediksi Angkasa, Galen nampak tenang menanggapi, “Kalau iya emang kenapa?” “Hubungan lo sama Viola belum resmi berakhir. Jadi jangan sakiti Sakura,” tandas Angkasa. Galen tersenyum miring. “Kalau begitu apa kabarnya sama hubungan lo dan Raya?” Angkasa diam sesaat. Bisa sekali Galen bicara soal Raya, menyebut nama gadis itu bahkan di saat dia belum pernah

