“Ayo, kita ke rumah sakit,” tukas Angkasa, sekian menit setelah Sakura menghabiskan buburnya. “Tapi ibu sama siapa?” tanya Sakura, menahannya. Angkasa melirik Galen. Lalu Galen mengernyit, seolah bertanya ‘apa?’. “Biar Galen aja,” sambung Angkasa, enteng. “Gue?” Seketika Galen menatap Angkasa. “Kenapa nggak lo aja? Sakura biar gue yang anter. Karena yang tiba di sini duluan kan gue.” “Yang tiba duluan emang lo, tapi yang janji sama Sakura kemarin itu gue. Dan gue nggak mau mengingkarinya,” tegas Angkasa, tidak mau kalah. Beberapa saat, Galen diam. Bingung, lantaran ia tidak bisa berdalih apa-apa lagi, di saat dirinya sungguh tidak ingin membiarkan Angkasa dan Sakura pergi berdua tanpanya. “Permisi.” Ujaran suara seorang perempuan tiba-tiba saja membuat Angkasa, Galen, dan Sakura men

