Didalam keheningan, Valerie hanya berdiam diri. Kepalanya dipenuhi dengan pemikiran mengenai ucapan Ibu mertuanya tadi. Dia merasakan sesak hingga sekarang. Wanita itu merasa belum sempurna, sebagai seorang istri. Tes Air matanya menetes jatuh kebawah. Dadanya berdenyut terus sedari tadi. Dia, merasa sangat tidak pantas menjadi seorang istri. Tok tok! Seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Karena ketukan terus - menerus, wanita itu menjadi sadar, dan menghapus air matanya. Dia kemudian bangkit dan membuka pintu kamarnya. Diluar pintu, ada Jenar yang menatap dirinya dengan tersenyum. Kemudian wanita itu membalas putrinya dengan senyuman juga. "Ada apa sayang?" tanya Valerie lembut. "Mah, bisa ikut sama Jenar sebentar? Jenar mau izin sama Mamah." "Izin? Izin buat apa sayan

