6. Tidak Memaafkan

1096 Kata
“Jaman sekarang emang susah nyari kerjaan, Nak. Meski udah sarjana pun, ya begitu ‘lah. Karna kamu belum dapat kerjaan, kamu mau coba kerja di rumah makan, gak? Ya, emang kerjanya gak di tempat yang elit, jadi pelayan gitu. Kebetulan itu punya-nya temen Ibuk, kalo mau coba, entar Ibuk bilang, dia lagi nyari satu karyawan lagi itu sekarang.” Mata Aina berbinar. “Yang bener, Buk? Aku mau, Buk. Gak penting elit atau enggaknya, yang penting halal, Buk. Sekalian nunggu panggilan wawancara kalo dapat rejeki keterima di salah satu perusahaan.” Tiyem tersenyum melihat tanggapan Aina. “Kalo emang kamu mau, nanti Ibuk kasih tau temen Ibuk. Kebetulan lokasi rumah makannya gak jauh dari sini, kok. Nanti Ibuk tunjukin, malem siap magrib kita ke sana, ya. Kamu istirahat aja dulu bentar, pasti capek tiap hari nyari kerjaan.” Aina tersenyum sambil mengangguk-angguk senang. “Makasih banyak, Buk. Aku seneng bisa dapet kerjaan.” Aina mencium telapak tangan Tiyem dengan tulus. Tiyem terkekeh. Ia menepuk bahu Aina pelan. “Sama-sama, kerja di sana dulu menjelang dapat kerjaan yang lebih baik. Seenggaknya sekarang bisa kerja dulu, bagusnya kerja di sana bayarannya dikasih tiap hari, karna rata-rata yang kerja ibuk-ibuk, jadi pasti butuh tiap hari buat kebutuhan rumah. Mudah-mudahan kamu dapat panggilan kerja dari salah satu perusahaan nanti, bisa keluar dari sana baik-baik, gak terikat kontrak.” “Aaminn, makasih banyak sekali lagi, Buk.” Aina mendongak sembari tersenyum mengucap syukur kepada Tuhan. “Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya aku dapet kerjaan, gak pa-pa kerja di rumah makan, yang penting halal ‘kan? Jadi aku gak perlu khawatir lagi masalah uang yang menipis sebelum dapet kerjaan. Apalagi kata Buk Tiyem, gajinya dibayar tiap hari. Alhamdulillah,” batinnya sangat bersyukur. *** Satu minggu berlalu, Aina menjalani kesehariannya sebagai pelayan di rumah makan milik teman Tiyem. Meski pekerjaannya cukup berat dan selalu sibuk, Aina tak pernah mengeluh, karena ia sendiri sudah sangat biasa sedari menikah memiliki tugas tak henti-henti. Bahkan bagi Aina, pekerjaan di rumah makan sekarang lebih ringan dari pada saat menjadi pembantu gratis di rumah Yuda. “Nak Aina, katanya kamu akhirnya dipanggil buat wawancara di salah satu perusahaan yang cukup besar, ya?” Aina tersenyum sembari mengangguk semangat ke arah beberapa rekan kerjanya. “Iya, Bude. Alhamdulillah, akhirnya ada salah satu yang panggil buat wawancara. Semoga aja besok lolos wawancara.” “Aaminn, kita do’ain. Semangat buat besok, ya!” Aina tersenyum tulus melihat para rekannya memberi semangat. “Makasih banget!” Dua minggu berlalu setelah Aina melemparkan banyak lamaran ke berbagai jenis perusahaan, akhirnya satu perusahaan menghubungi Aina untuk wawancara. Besok ia akan bersiap untuk wawancara ke perusahaan tersebut, dan Aina akan mempersiapkan semuanya setelah pulang bekerja nanti. “Aina! Kamu santai-santai aja dari tadi! Anter ini ke depan!” Aina mengembuskan napas pelan melihat seorang wanita memerintahnya sembari misuh-misuh. “Iya, Mbak.” “Santai aja, Rin. Lagian kamu gak liat Aina sibuk di bagian dapur, cucian numpuk Aina yang beresin semua. Dia gak santai kok dari tadi,” tegur satu karyawan lain. “Iya, tiap hari kamu bilang Aina santai, padahal kalo diitung-itung, malah tiap hari dia yang kerjain paling banyak, loh,” timpal satu karyawan berbeda. “Ck, kalian satu komplotan. Inget, gimana pun posisi saya lebih tinggi dari pada kalian semua di sini!” decih Rini—kepala karyawan bagian depan. “Kenapa masih bengong? Cepet anterin ini ke depan, jangan sampe salah meja!” “Iya, Mbak.” Aina patuh, ia tak pernah membantah perintah Rini. Satu kekurangan dalam pekerjaannya ini adalah ketidaksukaan Rini kepadanya. Entah apa alasan Rini tidak menyukai Aina, sehingga sedari awal masuk, Rini selalu mempersulit Aina. Sialnya lagi, Aina memilih sebagai pegawai non kontrak, sehingga ia tidak memiliki bagian depan atau belakang, dalam bahasa perusahaan—divisi. “Permisi, ini pesanannya, Mbak, Mas. Selamat menikmati.” Aina tersenyum ramah sembari meletakkan beberapa pesanan pembeli di meja itu. “Aina?” Aina mengangkat kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil oleh salah seorang penghuni meja itu. Ia sedikit terkejut melihat Moja. Aina sempat melirik singkat ke samping, dan baru menyadari mantan suaminya—Yuda. Yuda pun ikut terkejut melihat Aina di sana. Ia memperhatikan Aina dari atas ke bawah. “Kamu sekarang jadi pelayan rumah makan? Baru satu minggu berpisah, kamu udah kurus dan makin gak terawat. Kelihatan sekali ‘kan kamu gak makan dengan baik setelah berpisah denganku, jangan-jangan cuma makan sekali sehari doang, dan itu pun gak makan nasi. Emang idup kamu gak bakal baik kalo gak sama aku.” Aina tersenyum sinis mendengar itu. Perlahan ia mendongak, lalu tersenyum paksa ke arah Yuda. “Terima kasih atas perhatiannya, Pak. Tapi alhamdulillah, kami para pelayan yang kerja di sini diberi makan tiga kali sehari, rutin dan lebih baik dari pada pola makan saya sebelumnya. Kalau Bapak-nya liat saya lebih kurus dari sebelumnya, mungkin penglihatan Bapak agak bermasalah.” Aina kembali tersenyum sembari menunduk. “Saya permisi, silakan nikmati pesanan Mas dan Mbak-nya.” “Jadi pelayan aja kamu udah sombong begini, Aina?” geram Yuda. Aina menghentikan langkahnya, tetapi ia tak membalikkan badan. Aina memejamkan mata, lalu mengembuskan napas kesabaran. “Sabar, Ai. Kamu harus tetap profesional. Mending segera pergi aja dari sini, supaya gak ribut,” batinnya. Yuda menggeram semakin kesal melihat Aina tak menghiraukan kalimatnya, malah pergi begitu saja dari sana. “PELAYAAN! Saya mau pesan lagi! Ke sini!” Aina tetap melangkah, Yuda pun memicing marah. “PELAYAN TULI!” teriak Yuda. “Maaf, Mas. Ini buku menu-nya, Mas mau pesan apa?” Salah satu pelayan lain datang terburu-buru sembari membawa buku menu utama, lalu mengulurkannya kepada Yuda. Yuda mendelik. “Saya ingin pelayan yang itu! Dia tidak sopan kepada pelanggan! Cepat suruh dia ke sini, dia harus minta maaf!” Moja tersenyum miring melihat Yuda begitu marah kepada Aina. Ia malah senang menyadari Yuda seakan ingin mempermalukan Aina, bahkan mungkin ingin mengancam pekerjaannya. “Cih, lagian baru kerja jadi pelayan aja gaya udah sombong. Gimana Yuda gak marah. Bagus, kalau perlu Yuda harus bikin wanita gembel itu dipecat dari sini. Biar dia beneran jadi gembel,” batin Moja licik. “Cepat panggil dia ke sini, suruh minta maaf, atau kalau tidak sekalian panggil manager kalian!” lanjut Yuda lagi. Aina mengepalkan tangannya sembari memejamkan mata. “Gimana bisa aku begitu buta dulunya? Ternyata karakter aslinya kayak gini. Dia sengaja mau bikin aku malu di depan umum kayak gini ‘kan? Bahkan dia kayak sengaja mau bikin aku dipecat. Bukankah seharusnya yang punya dendam itu aku? Kenapa dia seakan begitu dendam padaku, ingin membuat hidupku lebih sengsara. Yuda ... aku sungguh semakin tidak bisa memaafkanmu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN