7. Penggugat

1340 Kata
“Aina, cepet ke sana. Nanti kalo dia semakin marah, bisa bahaya. Kamu bisa dipecat, ke sana minta maaf,” bisik salah satu pelayan rumah makan itu. Aina mengembuskan napas pelan. “Padahal aku gak lakuin apa-apa, kenapa malah dia bilang aku gak sopan? Aku udah nganter pesanan mereka dengan baik-baik, lalu pamit pergi dengan baik-baik juga.” “Udah ‘lah, kayaknya mereka ini pelanggan yang sombong. Mending kamu minta maaf aja, berhadapan dengan mereka, pasti kita bakal dipersulit. Aku takutnya kamu nanti dipecat kalo sampe manager datang.” Aina kembali mengembuskan napas. “Dia cuma pengen mempersulitku, atau bahkan dia emang sengaja mau aku dipecat,” gumamnya. “Apa, Ai?” Aina menggeleng sembari tersenyum. “Aku akan ke sana, biar aku yang urus.” “Kamu gak usah balik berdebat, ya. Minta maaf aja, asal dia gak memintamu buat bersujud atau bertingkah keterlaluan, lebih baik mengalah dulu.” Aina tersenyum sembari mengangguk. “Iya, aku akan coba minta maaf dulu. Kamu di sini aja, ntar malah ikut terseret kalo masalahnya membesar.” “Jangan sampe membesar.” Aina tersenyum, lalu melangkah kembali ke meja Yuda berada. Beberapa orang tadi sempat memperhatikan Yuda karena berteriak dengan nada marah dan tak terima. Sekarang mereka jadi penasaran, apa yang akan Yuda lakukan kepada Aina. Aina berdiri di depan Yuda, ia menunduk lalu tersenyum paksa sebagai bentuk profesionalitasnya. “Saya minta maaf kalau sekiranya kata-kata dan perilaku saya secara gak sengaja membuat Anda tidak nyaman, Pak. Tapi saya sungguh gak sengaja, dan gak berniat untuk berlaku gak sopan kepada Anda. Sekali lagi saya minta maaf.” Moja tersenyum miring melihat Aina menundukkan kepala sembari meminta maaf. Ia berdeham pelan, lalu mulai bersuara sok baik. “Yuda, udah, maafin aja Aina. Kita juga sama-sama tau kalo Aina emang begitu ‘kan? Maafin aja dia, gak usah diperpanjang, kasihan kalo nanti dia dipecat. Aina pasti kesulitan cari pekerjaan, bahkan jadi pelayan pun harus dipecat, kasihan dia nanti.” Dengan kepala masih tertunduk, Aina tersenyum sinis mendengar kalimat munafik Moja. Namun, ia hanya bisa menahan diri, karena Aina masih harus mempertahankan pekerjaannya ini. Bagaimana pun Aina belum pasti mendapatkan pekerjaan lain. Meski ia sudah mendapat satu panggilan wawancara, tetap saja belum tentu diterima. “Kamu terlalu baik, Sayang. Orang seperti dia, emang perlu diberi pelajaran. Dulu aja dia sangat patuh, sekarang malah membangkang, udah sombong cuma karna jadi pelayan di rumah makan kecil ini.” Yuda menatap Aina dengan sorot tajam. “Harusnya kamu tau, kamu bisa aja dipecat kalo aku panggil manager-nya sekarang.” Aina menarik napas kesabaran. Ia memilih tetap menunduk supaya tak melihat wajah menyebalkan Yuda, apalagi Moja. Aina hanya tak ingin emosinya naik jika melihat wajah mereka berdua. “Maafkan saya, Pak. Saya gak bermaksud begitu.” “Minta maaf ‘lah sama Moja. Karna kamu, waktu makannya jadi tertunda. Liat dia, perempuan itu harusnya baik dan pengertian kayak Moja, anggun dan cantik, bukan kayak kamu, pembangkang. Cepat minta maaf.” Tangan Aina terkepal. Ia mencoba tetap sabar, menekan amarahnya ke dalam hati. “Pembangkang? 2 tahun menikah sama kamu, aku bahkan begitu patuh,” desisnya dalam hati. “Apa kamu tuli? Oh, kamu gak mau minta maaf? Mau aku panggil manager-nya ke sini sekarang?” ancam Yuda. Aina tersenyum miris. “Aku minta maaf, Moja. Karna aku waktu makan kamu jadi tertunda.” “Minta maaf ‘lah baik-baik!” tekan Yuda. Aina memejamkan matanya. Rasa malu diperhatikan semua orang saat ini, tak seberapa dibandingkan gejolak amarah di hatinya yang mulai membuncah siap memberontak. Bagaimana hampir semua pasang mata memperhatikan mereka. Mulai berbisik melihat Aina dipermalukan di depan umum oleh Yuda. Namun, Aina sama sekali tak memikirkan itu, sebab darahnya seakan sudah mendidih—hampir meledak melepaskan amarah. “Udah, Yud. Aku gak pa-pa, jangan paksa Aina.” Moja memeluk lengan Yuda sembari melirik Aina dengan senyum remeh. “Aku minta maaf, Moja. Karena kesalahanku, kamu jadi terlambat makan, aku sungguh minta maaf.” Aina mengulang kalimatnya, bahkan ia menundukkan kepalanya. “Aku akan mengembalikan semua ini. Akan ada masanya kalian balik lakuin ini padaku, dipermalukan depan umum—lalu kalian meminta maaf kepadaku di depan banyak orang. Bahkan ... aku bakal nyuruh kalian bersujud di kakiku,” geramnya dalam hati. Semua kebohongan, semua pengkhianatan, semua permainan, semua pembodohan yang dilakukan oleh Yuda selama 2 tahun ini, sudah sukses membentuk kebencian mendalam di hati Aina. Kebencian itu berubah menjadi dendam, hingga sekarang Yuda memberikan goresan baru—mempermalukannya di depan umum, dan hal ini membuat dendam Aina semakin bergelora. Aina menarik napas dalam, lalu diembuskan secara perlahan. “Apa sekarang saya boleh pergi, Mas, Mbak?” Yuda berdecih, ia membantu Moja untuk kembali duduk, lalu pria itu pun ikut duduk. “Besok jangan lupa datang, proses perceraian kita udah dimulai. Jangan sengaja gak datang cuma demi gak bisa cerai dariku. Apa pun itu, aku dan kamu pasti akan cerai. Aku bahkan langsung talak tiga kamu!” Aina tersenyum sinis. “Aku bahkan bersyukur karna langsung ditalak tiga oleh pria binatang sepertimu,” sahutnya dalam hati. “Aku udah resmi nikah sama Moja 2 minggu lalu, dan kami mau bikin pesta waktu perceraian kita clear. Makanya besok cepat datang, biar prosesnya juga semakin cepat,” lanjut Yuda. Aina tertawa miris dalam hati. “Resmi menikah 2 minggu lalu? Jadi, dia menalakku hari itu, dia langsung menikahi kekasih tersayangnya itu? Cih, benar-benar b******n,” rutuk Aina dalam hati. “Lihat, kamu benar-benar berniat tidak ingin pergi ‘kan? Kamu sangat tidak ingin bercerai denganku, aku tahu itu. Tapi bagaimana pun itu, aku dan kamu tetap akan bercerai, aku tetap akan menceraikanmu. So, tidak usah berharap lag—” “Jam setengah delapan, aku akan tiba di depan gedung itu jam setengah delapan,” tukas Aina tenang. Ia mengangkat kepalanya, lalu menatap Yuda dengan sorot dingin. “Kalau begitu, sampai jumpa besok pagi.” Yuda memicing melihat Aina pergi dari sana. Ia tak suka melihat sorot dingin Aina kepadanya, sangat berbeda dengan dulu yang selalu menatapnya hangat penuh cinta. “Kenapa dia keliatan biasa aja? Harusnya dia mohon-mohon buat gak cerai, dan gak datang. Tapi dia malah jawab cepat kalau dia akan datang. Ekspresinya juga terlihat tidak sedih. Ah, itu pasti hanya akting saja. Dia sedang mencoba main tarik ulur denganku, pura-pura tidak sedih, pura-pura tidak peduli, padahal aslinya dia sangat sedih dan bisa saja di belakang sana dia akan menangis sesegukan. Cih, sedari dulu dia memang tidak pernah bisa jauh dariku, dia sudah terlalu ketergantungan padaku.” Yuda tersenyum miring setelah sibuk membatin penuh percaya diri. Menyadari Yuda masih memperhatikan Aina tanpa berkedip, Moja menggeram tak suka. “Yuda.” Lamunan Yuda terhenti ketika Moja memanggilnya. Ia langsung menoleh ke depan, dan tersenyum melihat wajah cantik Moja. “Kamu masih cinta ya sama Aina? Aku liat, dari tadi kamu terus perhatiin dia tanpa berkedip.” Yuda melotot, lalu ia menggeleng. “Mana mungkin, Sayang? Sedari dulu, yang aku suka, yang aku cinta dan aku sayang itu cuma kamu dan hanya kamu. Aku ‘kan udah bilang, aku gak pernah suka sama dia. Aku nikahin dia cuma karna kesal kamu pergi ke Jepang, aku sengaja jadiin dia sebagai pengganti kamu, karna aku udah terlanjut patah hati waktu itu, butuh pelampiasan. Aku juga mau kamu bikin cemburu waktu itu, tapi kamu tetap pergi ke Jepang. Dan, lagi, aku mau manfaatin kepintaran dia buat masalah kerjaan. Jadi, aku benaran gak pernah suka sama dia, apalagi sampai cinta dan sayang.” Moja tersenyum puas mendengar itu. “Emang harusnya begitu. Dia dibandingin sama aku? Cih, kalah jauh,” sahutnya dalam hati. “Aku kira, soalnya aku liat kamu terus perhatiin dia.” “Ah, itu karna aku lagi remehin dia. Kamu liat tadi, dia sok kuat dan sok tegar pas aku bilang masalah cerai. Padahal aku yakin, di belakang itu pasti udah nangis-nangis sekarang karna mau aku ceraikan. Secara, dari dulu dia itu bergantung banget sama aku. Ibarat kata, dia itu gak bakal bisa idup tanpa aku, karna dia suka banget sama aku.” Yuda melontarkan itu dengan ekspresi penuh percaya diri—sungguh menggelikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN