8. Menarik

1126 Kata
“Aku udah resmi nikah sama Moja 2 minggu lalu, dan kami mau bikin pesta waktu perceraian kita clear. Makanya besok cepat datang, biar prosesnya juga semakin cepat,” lanjut Yuda. Aina tertawa miris dalam hati. “Resmi menikah 2 minggu lalu? Jadi, dia menalakku hari itu, dia langsung menikahi kekasih tersayangnya itu? Cih, benar-benar b******n,” rutuk Aina dalam hati. “Lihat, kamu benar-benar berniat tidak ingin pergi ‘kan? Kamu sangat tidak ingin bercerai denganku, aku tahu itu. Tapi bagaimana pun itu, aku dan kamu tetap akan bercerai, aku tetap akan menceraikanmu. So, tidak usah berharap lag—” “Jam setengah delapan, aku akan tiba di depan gedung itu jam setengah delapan,” tukas Aina tenang. Ia mengangkat kepalanya, lalu menatap Yuda dengan sorot dingin. “Kalau begitu, sampai jumpa besok pagi.” *** Aina menatap jam pada layar ponselnya. Ia berdecak karena Yuda tak kunjung terlihat di lokasi. “Kemarin dia suruh aku cepat datang, sekarang dia yang telat? Ck, aku gak bisa nunggu terlalu lama lagi, aku juga harus kejar waktu ke perusahaan Jabio Prop buat wawancara.” Aina berjalan maju mundur tak sabaran di depan sebuah gedung. Ia sudah menunggu Yuda di sana hampir 1 jam, tetapi mantan suaminya itu masih tak terlihat. “Kamu gelisah sekali. Cih, udah aku duga, kamu itu pura-pura sok kuat.” Suara berat nan sinis itu sedikit mengejutkan Aina. Ia menoleh ke belakang, dan mendapati Yuda sudah berdiri di belakangnya. Aina menatap Yuda dengan pandangan tak berminat. “Aku udah nunggu kamu di sini hampir satu jam lamanya. Bukannya kita udah janji ketemu di sini jam setengah delapan?” “Cih, masih aja pura-pura. Oh, apa ini bakal kamu jadiin alasan buat merajuk dan bilang gak mau jadi cerai atau mau tunda proses cerainya? Heh, aku gak bisa kamu atur-atur, ya. Istri aku itu sekarang adalah Moja, tadi aku ngantar dia dulu ke rumah sakit buat kerja, baru ke sini. Jadi kamu tidak usah terus berharap untuk kembali rujuk dengank—” “Aku benar-benar gak punya banyak waktu melayani dramamu, Yuda. Sekarang ayo masuk dan urus prosedurnya. Aku masih ada kerjaan setelah ini.” Yuda ternganga tak percaya melihat Aina masuk ke dalam gedung setelah menyela kalimatnya. Matanya memicing, setelahnya ia berdecih sinis. “Dia masih aja mau berakting. Palingan nanti sampai di dalam, bakal buat alasan untuk tidak jadi urus perceraian. Misal tiba-tiba mules, atau sakit kaki, sakit mata, lalu kabur supaya gak jadi cerai denganku. Cih, Aina, Aina, kamu kira aku akan termakan aktingmu ini?” Yuda dengan percaya dirinya berjalan masuk ke dalam gedung. Ia tersenyum pongah, penuh percaya diri, merasa Aina benar-benar tak ingin bercerai dengannya. “Jadi punya saya udah lengkap semuanya ‘kan, Mbak?” “Sudah, Mbak.” Aina menoleh cepat ke belakang. “Yuda, kenapa kamu masih jalan santai? Cepat ‘lah, ini sudah ditunggu. Aku juga buru-buru, masih ada urusan setelah ini! Berkasku udah lengkap semua, tinggal berkas-berkasmu.” Yuda terbengong dengan ekspresi tak percaya. “Hah?” Aina berdecak melihat Yuda bengong dengan wajah bodohnya. Ia melangkah cepat, lalu merampas map di tangan pria itu. “Semua ada di sini ‘kan?” Yuda melongo, tampak semakin bodoh melihat Aina memberikan map miliknya kepada staf Pengadilan Agama. “Ini punya mantan suami saya, Mbak.” “Hah?” Staf itu pun bingung. Ia menatap Aina dan Yuda bergantian. “Tunggu dulu, kalian ini—yang mau bercerai? Maksudnya, suami istri yang mau bercerai?” “Iya, Mbak,” jawab Aina, “bisa langsung diproses gak, Mbak? Saya agak buru-buru, kalau prosedur awalnya sudah selesai, saya bisa pergi dulu sekarang ‘kan?” “Mm, jadi sebenarnya siap yang mau menggugat?” tanya staf itu dengan ekspresi bingung. “Siapa yang mau menggugat? Maksudnya, Mbak?” sahut Aina balik bertanya. Staf Pengadilan Agama itu pun tersenyum kikuk. “Sepertinya Mas dan Mbak-nya belum paham cara pengajuan perceraian, ya? Ini gak sama kayak mau nikah, Mas, Mbak. Jadi ....” Staf Pengadilan Agama itu pun menjelaskan prosedur perceraian kepada Aina dan Yuda. Setelah sama-sama paham, Aina dan Yuda saling tatap, lalu berserobot untuk berbicara lebih awal. “Saya yang gugat, Mbak!” Yuda menoleh cepat ke arah Aina. “Kamu? Tidak usah semakin menjadi, Aina! Cukup aktingnya, aku gak bakal dapat perhatianku.” Aina menggulir bola matanya. “Tolong proses dataku aja, Mbak. Aku ‘kan yang lebih dulu ngasih data-datanya, jadi aku yang mau jadi penggugat. Lagian, kami pisah emang karna dia, Mbak. Dia selingkuh, dan sekarang udah nikah lagi sama orang lain, padahal kami belum cerai secara sah di hukum negara.” Yuda menggeram. “Aina!” “Lihat, Mbak. Dia bahkan berani ngebentak saya di sini, loh.” Aina mengadu seperti seorang istri lemah, dan ingin dikasihani. “Mas, tolong jaga sopan santunnya di sini, ya,” tegur staf tersebut, “saya akan proses sekarang ya, Mbak. Silakan isi formulir ini, Mbak.” “Gak bisa! Harus saya yang gugat dia, Mbak! Dia ini jadi istri gak becus, Mbak! Dia—” “Dua tahun nikah!” Aina segera menukas kalimat Yuda, lalu kembali menatap staf administrasi tersebut. “Dua tahun saya jadi istri yang bodoh, selalu patuh, kurang makan, kurang jajan, kurang kasih sayang, Mbak. Dia malah asik-asikan sama mantan pacarnya yang sekarang udah sah jadi istrinya. Dia sendiri yang bilang sama saya di tempat kerja saya, Mbak. Ah, saya bisa ambil bukti dia lagi mesra-mesraan sama cewek lain di lokasi rumah makan tempat saya kerja, Mbak. Kebetulan di sana ada CCTV dan saya bisa kasih itu ke Mbak-nya.” Yuda melotot. Ia tak tahu harus menyanggah seperti apa. “b******k, aku lupa dia begitu pintar dan cerdik. Ck, biarin aja dia yang gugat, yang penting kami cerai. Terserah ‘lah,” batinnya kesal. “Liat, dia diem, Mbak. Karna itu benar,” decih Aina melihat Yuda terdiam tak lagi mendebat. “Baik, isi saja formulirnya, Mbak.” “Siap, Mbak! Kalo bisa, kami segera cerai beneran, Mbak,” ucap Aina. Yuda menatap Aina dengan sorot bingung serta tak percaya. Ia pun tak suka dengan ekspresi Aina yang terlihat benar-benar ingin segera bercerai dengannya. “Apa dia benar-benar semangat untuk bercerai? Gak mungkin, selama ini dia udah cinta mati padaku, gak mungkin secepat itu berubah hati ‘kan? Aku akui, aktingmu sangat bagus, Aina, cih.” Lagi-lagi Yuda bermonolog dalam hati. “Dengan ini aku ingin menegaskan, kalau bukan aku yang dibuang, tapi aku yang membuang sampah semacam dia,” tegas Aina dalam hati. Aina tak sadar, jika sedari tadi ia diperhatikan oleh sepasang mata dari balik dinding kaca. Meski berada di ruangan berbeda, tetapi orang itu dapat mendengar samar celotehan Aina yang begitu berani dan cerdas berdebat. Kedua sudut bibir orang itu terangkat, membentuk senyum tipis. “Cukup menarik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN