“Aina! Berhenti di situ!” Yuda berteriak sembari menyusul langkah Aina. Jangankan berhenti, bahkan Aina tak menyahut panggilan Yuda. Ia seakan pura-pura tak mendengar, karena Aina ingin bergegas ke lokasi wawancara kerja. “Aina! Aku bilang berhenti, apa kamu tuli, ya?” ulang Yuda geram. Aina menggulir bola matanya malas. Ia tetap melanjutkan langkah menuju gerbang, lalu berdiri di tepian jalanan menunggu angkot. Rupanya Yuda masih mengejar Aina. Ia langsung menyentak kasar pergelangan tanga Aina. “Kamu sengaja main aksi tarik-ulur kayak gini denganku, ya? Kamu kira, dengan kamu begini, aku akan tertarik? Aku gak menyangka kalau kamu adalah wanita penuh drama.” Aina menarik tangannya dari pegangan Yuda. Ia mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah karena Yuda mencengkramnya b

