“Mas yakin mau ikut makan malem di sini?” Aina menatap Darya dengan wajah ragu. “Takutnya gak biasa makan di sini.” Darya terkekeh. “Mana mungkin gak biasa? Aku malah cukup sering makan pecel lele begini. Aku salah satu pecinta pecel lele, loh.” “Oh, ya? Aku kira Mas gak pernah makan di tenda kaki lima kayak gini.” Darya kembali terkekeh. “Apa aku keliatan orang yang ngemper kayak gini, ya?” Aina tersenyum kikuk. “Bukan gitu maksud aku.” “Ha-ha, santai aja. Aku pun becanda, kok. Dulu sering ngajak Nenek makan di tenda kaki lima gini. Sekarang Nenek udah agak susah kalo diajak keluar, jadi seringnya makan di rumah aja.” Aina mengangguk. “Nenek-nya udah umur berapaan, Mas?” “Udah 75 tahun.” “Oalah, pantes ‘lah itu. Apalagi umur segitu kata orang lebih nyaman di rumah aja, ‘kan?” Dar

