18. Tertawa Lepas

1111 Kata

Yuda tersenyum sinis melihat Aina. “Ternyata beneran kamu? Ngapain kamu di sini?” Yuda melirik tenda pecel lele di belakang Aina. “Oh, kamu sekarang kerja di sini? Astaga, makin turun level aja kamu, Aina. Pantesan aja tadi kamu gak ada di rumah makan itu, ternyata udah dipecat dan sekarang kerja di tenda kaki lima kayak gini? Ya ampun, kamu bener-bener makin menderita tanpa aku, ya?” Aina mengembuskan napas malas mendengar ocehan Yuda. Ia kembali fokus pada layar ponselnya, Aina terlalu lelah untuk berdebat dengan sang mantan suami. Merasa diabaikan, Yuda pun geram. “Masih aja sombong dan sok jual mahal! Kamu gak bakal berhasil narik perhatian aku dengan trik tarik ulur kayak gini, Aina. Kamu pikir dengan begini aku bakal berubah tertarik sama kamu? Gak liat keadaan banget. Sekarang mak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN