“Gak ngerepotin, Mas?” tanya Aina tak enak. “Repot apanya? Cuma bantu nanya aja kenapa malah repot? Ha-ha, santai aja. Dari pada kamu susah-susah cari keliling ke sana, capek-capek, nanti juga gak ketemu ‘kan?” Darya menatap Aina singkat. Aina pun mengangguk. “Makasih banget, loh, Mas. Udah mau bantuin. Semoga aja temen Mas tau kost-an yang lebih murah di sana, ya. Tapi jangan sampe dia repot juga, Mas. Aku jadi gak enak nanti.” “Iya, gak bakal repot, kok.” Darya mengambil pena di dalam saku mobil, lalu menyodorkan benda itu ke arah Aina. “Kamu tulis saja nomormu di sini. Nanti aku hubungi setelah tanya sama temanku.” Aina bengong melihat Darya mengulurkan pulpen saja, tetapi tidak ada kertas. “Terus aku tulisnya di mana, Mas?” “Kertas kecil tadi keburu aku buang. Ya, udah, tulis di t

